Membawa banyak buku ke sekolah sudah menjadi bagian dari rutinitas belajar anak. Buku pelajaran, buku tugas, buku catatan, hingga bahan tambahan dapat memenuhi tas dan membuat beban yang dibawa setiap hari semakin berat. Kondisi tersebut mendorong munculnya pertanyaan: apakah tablet bisa menjadi solusi untuk mengurangi jumlah buku yang harus dibawa ke sekolah?
Perkembangan teknologi pendidikan membuat tablet semakin mudah digunakan untuk membaca buku digital, mengerjakan tugas, mencatat materi, hingga mengakses sumber belajar. Namun, penggunaan tablet tetap perlu dipertimbangkan secara matang agar teknologi benar-benar membantu proses belajar, bukan sekadar menggantikan buku fisik dengan perangkat elektronik.
Mengapa Anak Membawa Banyak Buku ke Sekolah?
Kebutuhan membawa buku ke sekolah biasanya mengikuti jadwal pelajaran. Setiap mata pelajaran dapat memiliki buku teks, buku latihan, dan buku catatan tersendiri. Jika dalam satu hari terdapat beberapa mata pelajaran, jumlah buku yang masuk ke dalam tas pun bisa cukup banyak.
Beban tersebut bukan hanya berkaitan dengan jumlah buku. Perlengkapan lain seperti tempat pensil, botol minum, bekal, dan kebutuhan sekolah juga ikut memenuhi tas. Karena itu, orang tua dan sekolah mulai mempertimbangkan penggunaan teknologi digital sebagai salah satu alternatif.
Buku fisik tetap memiliki keunggulan. Anak dapat membaca tanpa baterai, lebih mudah membolak-balik halaman, dan tidak terganggu oleh notifikasi. Bagi sebagian siswa, mencatat menggunakan tangan juga membantu proses mengingat materi.
Tablet sebagai Alternatif Buku Pelajaran
Tablet memungkinkan sejumlah bahan belajar disimpan dalam satu perangkat. Buku digital, dokumen materi, lembar kerja, dan catatan dapat diakses melalui perangkat yang sama.
Dari sisi kepraktisan, tablet memiliki beberapa kelebihan:
- Mengurangi jumlah barang yang dibawa, karena banyak dokumen dapat tersimpan dalam satu perangkat.
- Memudahkan akses materi, terutama ketika sekolah menyediakan bahan pembelajaran digital.
- Mendukung pembelajaran multimedia, seperti video, audio, animasi, dan simulasi interaktif.
- Memudahkan pencarian informasi, karena siswa dapat menggunakan fitur pencarian pada dokumen digital.
- Mendukung pencatatan digital, terutama jika tablet dilengkapi stylus atau aplikasi pencatat.
Manfaat tersebut membuat tablet cukup menarik sebagai perangkat pendukung pembelajaran. Namun, tablet sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai pengganti seluruh buku sekolah.
Tablet Tidak Selalu Lebih Baik daripada Buku
Penggunaan tablet memiliki beberapa tantangan. Salah satunya adalah ketergantungan pada baterai dan perangkat pendukung. Jika baterai habis atau perangkat mengalami masalah, materi yang tersimpan di dalamnya dapat sulit diakses.
Perhatian anak juga menjadi faktor penting. Tablet yang digunakan untuk belajar memiliki fungsi lain seperti permainan, media sosial, video, dan aplikasi hiburan. Tanpa pengaturan yang baik, perangkat yang seharusnya membantu belajar justru dapat menjadi sumber distraksi.
Masalah lain adalah kenyamanan membaca dalam waktu lama. Sebagian anak mungkin lebih nyaman membaca buku fisik dibandingkan menatap layar. Karena itu, keputusan menggunakan tablet perlu mempertimbangkan usia anak, kebiasaan belajar, kebutuhan sekolah, dan kemampuan orang tua dalam mendampingi penggunaannya.
Solusi yang Lebih Tepat: Menggabungkan Buku dan Teknologi
Penggunaan tablet tidak harus berarti menghilangkan buku fisik sepenuhnya. Sekolah dan keluarga dapat menerapkan pendekatan yang lebih seimbang.
Buku fisik bisa digunakan untuk materi utama atau kegiatan yang membutuhkan konsentrasi membaca. Tablet dapat dimanfaatkan untuk menyimpan referensi tambahan, mengakses materi digital, mengerjakan latihan tertentu, atau mencari informasi pendukung.
Pola seperti ini membuat teknologi berfungsi sebagai alat bantu, bukan menggantikan seluruh proses belajar. Anak juga tetap memperoleh pengalaman membaca buku, menulis secara manual, dan menggunakan sumber digital secara bertanggung jawab.
Hal yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Membelikan Tablet
Orang tua sebaiknya tidak hanya melihat ukuran layar atau harga perangkat. Beberapa aspek yang lebih penting antara lain:
- Kebutuhan sekolah
Pastikan tablet memang sesuai dengan sistem pembelajaran yang diterapkan sekolah. - Daya tahan baterai
Perangkat perlu mampu digunakan selama aktivitas belajar tanpa terlalu sering diisi ulang. - Ukuran dan berat
Tablet yang terlalu besar atau berat belum tentu nyaman dibawa anak setiap hari. - Kapasitas penyimpanan
Buku digital, dokumen, dan aplikasi pendidikan membutuhkan ruang penyimpanan yang memadai. - Kontrol penggunaan
Orang tua dapat mengatur aplikasi, waktu penggunaan, serta akses terhadap konten yang tidak berkaitan dengan pendidikan. - Kebutuhan akses internet
Tidak semua materi membutuhkan internet setiap saat. Sebaiknya tersedia pula materi yang dapat digunakan secara offline.
Pertimbangan tersebut membantu orang tua melihat tablet bukan sekadar sebagai perangkat elektronik, tetapi sebagai bagian dari strategi belajar anak.
Literasi Digital Perlu Berjalan Bersamaan
Ketika teknologi semakin sering digunakan dalam pendidikan, anak juga perlu memahami cara menggunakan perangkat secara bijak. Literasi digital bukan hanya kemampuan membuka aplikasi atau mencari informasi di internet.
Anak perlu belajar membedakan sumber informasi yang dapat dipercaya, menjaga keamanan akun, menghargai hak cipta, mengatur waktu penggunaan perangkat, dan memahami etika berkomunikasi di ruang digital.
Kemampuan tersebut akan semakin penting ketika anak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pada tingkat perguruan tinggi, mahasiswa semakin sering berhadapan dengan jurnal, buku digital, platform pembelajaran, dokumen akademik, dan berbagai perangkat kolaborasi.
Peran Perguruan Tinggi dalam Menyiapkan Pendidik di Era Digital
Perubahan cara belajar di sekolah juga berkaitan dengan kesiapan calon pendidik. Guru bukan hanya dituntut menguasai materi pelajaran, tetapi juga perlu memahami bagaimana teknologi dapat digunakan secara tepat dalam proses pendidikan.
Salah satu perguruan tinggi swasta yang memiliki bidang pendidikan adalah Ma’soem University. Kampus ini memiliki Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang saat ini menyediakan dua program studi, yaitu S1 Bimbingan dan Konseling (BK) serta S1 Pendidikan Bahasa Inggris.
Keduanya relevan dengan kebutuhan pendidikan yang terus berkembang. Program Studi Bimbingan dan Konseling berfokus pada kemampuan calon konselor dalam mendampingi peserta didik, termasuk menghadapi tantangan perkembangan di era digital. Sementara itu, Pendidikan Bahasa Inggris menyiapkan calon pendidik yang memiliki kompetensi bahasa sekaligus kemampuan pedagogis.
Perspektif seperti ini penting karena penggunaan tablet di sekolah bukan hanya persoalan memilih perangkat. Guru juga perlu memahami bagaimana teknologi memengaruhi kebiasaan belajar, konsentrasi, interaksi, dan perkembangan peserta didik.
Tablet Sebaiknya Menjadi Alat Bantu, Bukan Satu-Satunya Sumber Belajar
Pada akhirnya, pertanyaan tentang apakah tablet dapat menggantikan banyak buku tidak memiliki satu jawaban untuk semua anak. Tablet memang dapat mengurangi beban bawaan dan menyediakan akses ke berbagai materi dalam satu perangkat. Namun, manfaat tersebut akan optimal jika penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran.
Buku fisik dan perangkat digital dapat memiliki fungsi masing-masing. Anak tetap dapat membaca buku, menulis catatan secara manual, sekaligus memanfaatkan teknologi untuk mengakses materi tambahan. Pendekatan yang seimbang justru dapat membantu anak membangun kebiasaan belajar yang lebih fleksibel sekaligus mengenal penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.
Informasi Ma’soem University
No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com




