Media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan anak dan remaja. Berbagai tren seperti tantangan viral, gaya berpakaian, penggunaan filter, konten hiburan, hingga istilah yang sedang populer dapat dengan cepat menarik perhatian mereka. Mengikuti tren sebenarnya tidak selalu berarti buruk. Anak dapat belajar berkomunikasi, mengekspresikan diri, dan mengikuti perkembangan lingkungan sosialnya.
Persoalan muncul ketika keinginan mengikuti tren mulai memengaruhi keamanan, kesehatan, pendidikan, hubungan keluarga, atau cara anak menilai dirinya sendiri. Pada kondisi tersebut, orang tua perlu hadir bukan sekadar untuk melarang, tetapi membantu anak memahami batasan dalam menggunakan media sosial.
Mengapa Anak Mudah Mengikuti Tren di Media Sosial?
Anak dan remaja berada pada tahap perkembangan ketika penerimaan dari lingkungan sosial terasa penting. Jumlah suka, komentar, jumlah pengikut, atau respons teman dapat dianggap sebagai bentuk pengakuan.
Algoritma media sosial juga membuat tren tertentu muncul berulang kali. Konten yang sedang ramai dapat terlihat hampir setiap kali anak membuka aplikasi. Akibatnya, sesuatu yang awalnya terasa asing bisa cepat dianggap normal karena sering dilihat.
Beberapa alasan anak tertarik mengikuti tren antara lain:
- ingin merasa diterima oleh teman sebaya;
- takut tertinggal dari lingkungan pergaulan;
- ingin mendapatkan perhatian atau respons positif;
- penasaran terhadap sesuatu yang sedang viral;
- ingin mengekspresikan identitas dan kreativitas;
- menganggap tren sebagai bagian dari hiburan.
Orang tua tidak harus menganggap setiap tren sebagai ancaman. Hal yang lebih penting adalah melihat isi tren, dampaknya terhadap anak, serta alasan anak ingin mengikutinya.
Tidak Semua Tren Media Sosial Perlu Dilarang
Batasan penggunaan media sosial bukan berarti orang tua harus melarang anak mengikuti semua tren. Ada tren yang justru dapat memberikan pengalaman positif jika dilakukan secara aman.
Misalnya, anak mengikuti tren membuat video edukasi, berbagi karya seni, belajar bahasa, mencoba aktivitas olahraga yang sesuai usia, atau membuat konten kreatif bersama teman. Aktivitas tersebut dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dan kreativitas.
Sebaliknya, orang tua perlu lebih waspada jika tren yang diikuti melibatkan tindakan berbahaya, penghinaan terhadap orang lain, pembukaan data pribadi, konten seksual, perjudian, konsumsi zat berbahaya, atau tindakan yang dapat mencederai diri sendiri maupun orang lain.
Kapan Orang Tua Perlu Memberi Batasan?
Batasan perlu diberikan ketika aktivitas anak di media sosial mulai membawa risiko nyata. Beberapa tanda yang dapat menjadi pertimbangan orang tua antara lain:
1. Tren Membahayakan Keselamatan
Tantangan viral yang mendorong anak melakukan tindakan berisiko perlu segera dihentikan. Anak mungkin mengikuti tren karena melihat orang lain melakukannya tanpa memahami kemungkinan konsekuensinya.
Orang tua dapat menjelaskan risiko secara konkret tanpa mempermalukan anak. Tujuannya agar anak memahami alasan sebuah aktivitas tidak aman, bukan sekadar mengetahui bahwa orang tua berkata “tidak boleh”.
2. Waktu Bermedia Sosial Mulai Mengganggu Kegiatan Lain
Jika anak terus menggunakan media sosial hingga tidur terlalu larut, sulit berkonsentrasi saat belajar, melewatkan aktivitas keluarga, atau kehilangan minat pada kegiatan lain, orang tua dapat membuat aturan penggunaan perangkat.
Aturan dapat mencakup waktu penggunaan, area tertentu yang bebas ponsel, serta kebiasaan tidak membawa perangkat ketika waktu tidur.
3. Anak Terlalu Bergantung pada Respons Orang Lain
Perubahan suasana hati yang sangat dipengaruhi jumlah suka, komentar, atau jumlah penonton juga perlu diperhatikan. Anak dapat mulai mengukur harga dirinya berdasarkan respons di media sosial.
Pada tahap ini, orang tua perlu membantu anak memahami bahwa popularitas digital bukan ukuran nilai seseorang. Pujian terhadap usaha, proses belajar, kreativitas, dan sikap positif anak dapat membantu membangun kepercayaan diri yang lebih sehat.
4. Anak Mulai Mengabaikan Privasi
Anak perlu mengetahui bahwa informasi seperti alamat rumah, nomor telepon, lokasi secara real-time, nama sekolah, jadwal harian, hingga foto tertentu sebaiknya tidak dibagikan sembarangan.
Orang tua dapat mengajak anak mengecek pengaturan privasi akun secara berkala dan membicarakan risiko berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal.
Cara Membuat Batasan Media Sosial Tanpa Membuat Anak Merasa Dikontrol
Aturan akan lebih mudah diterima jika anak memahami alasan di baliknya. Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi sebelum menetapkan batasan.
Beberapa pendekatan yang dapat diterapkan:
- Buat aturan yang jelas. Tentukan kapan perangkat boleh digunakan dan kapan harus disimpan.
- Jelaskan alasan setiap aturan. Anak lebih mudah memahami batasan jika dikaitkan dengan keamanan, kesehatan, pendidikan, atau privasi.
- Sesuaikan aturan dengan usia. Kebutuhan anak sekolah dasar tentu berbeda dari remaja.
- Berikan ruang untuk berdiskusi. Dengarkan alasan anak ingin mengikuti tren sebelum memberikan keputusan.
- Jadilah contoh. Anak juga memperhatikan kebiasaan orang tua dalam menggunakan ponsel dan media sosial.
- Evaluasi aturan secara berkala. Perkembangan teknologi dan kebutuhan anak dapat berubah seiring waktu.
Pendekatan dialog juga membantu anak belajar mengambil keputusan sendiri. Dalam jangka panjang, kemampuan menilai apakah suatu tren aman atau tidak akan lebih berguna daripada sekadar mengikuti larangan.
Peran Pendidikan dalam Membentuk Literasi Digital Anak
Kemampuan menggunakan media sosial secara bijak tidak hanya berkaitan dengan aturan di rumah. Pendidikan juga memiliki peran dalam membangun kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan pemahaman terhadap perilaku sosial.
Anak perlu dibiasakan mempertanyakan informasi yang mereka lihat: siapa yang membuat konten, apa tujuannya, apakah informasinya dapat dipercaya, serta apa dampaknya jika konten tersebut diikuti.
Keterampilan tersebut semakin relevan ketika anak memasuki jenjang pendidikan tinggi. Lingkungan kampus dapat menjadi ruang untuk memperdalam kemampuan komunikasi, pendidikan, konseling, teknologi, dan pemahaman terhadap perilaku manusia.
Salah satu pilihan perguruan tinggi swasta yang relevan untuk bidang tersebut adalah Ma’soem University. Di lingkungan pendidikan tinggi, pembahasan mengenai komunikasi, perkembangan peserta didik, dan pendampingan dapat menjadi bagian penting bagi mahasiswa yang nantinya ingin berkontribusi dalam dunia pendidikan.
Bagi yang tertarik pada bidang kependidikan, FKIP Ma’soem University menyediakan dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Pengetahuan di bidang tersebut dapat berkaitan dengan kebutuhan pendampingan dan pengembangan kemampuan peserta didik, termasuk menghadapi tantangan sosial yang berkembang melalui teknologi digital.
Orang Tua Perlu Menjadi Tempat Bertanya
Anak yang merasa aman berbicara kepada orang tua cenderung memiliki ruang untuk meminta bantuan ketika menemukan sesuatu yang membuatnya bingung atau tidak nyaman di media sosial. Karena itu, komunikasi sebaiknya tidak hanya terjadi ketika anak melakukan kesalahan.
Orang tua dapat sesekali menanyakan tren yang sedang diikuti anak, akun yang sering ditonton, atau pengalaman mereka saat menggunakan media sosial. Percakapan ringan dapat menjadi cara untuk mengetahui apakah ada tekanan dari teman, perundungan digital, konten yang tidak sesuai usia, atau masalah lain yang belum diceritakan.
Batasan media sosial pada akhirnya perlu disesuaikan dengan usia, tingkat kedewasaan, kondisi anak, dan jenis konten yang diakses. Ketegasan tetap diperlukan ketika menyangkut keselamatan dan privasi, tetapi komunikasi yang terbuka membantu anak memahami alasan di balik aturan tersebut.
Informasi Kontak Ma’soem University
No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com




