Anak Menangis Saat Ditinggal Orang Tua di Sekolah, Bagaimana Menghadapinya?

Anak menangis saat ditinggal orang tua di sekolah merupakan kondisi yang cukup umum, terutama pada masa awal masuk sekolah. Bagi anak, lingkungan sekolah adalah tempat baru yang penuh dengan orang, aturan, suasana, dan rutinitas yang belum familiar. Perpisahan sementara dari orang tua juga dapat memunculkan rasa takut, cemas, atau tidak nyaman.

Orang tua tidak perlu langsung menganggap tangisan sebagai tanda anak tidak siap sekolah. Justru, respons yang tepat dapat membantu anak membangun rasa aman dan belajar beradaptasi secara bertahap. Guru juga memiliki peran penting dalam menciptakan suasana kelas yang membuat anak merasa diterima.

Mengapa Anak Menangis Saat Ditinggal di Sekolah?

Ada beberapa alasan yang dapat membuat anak menangis ketika orang tua meninggalkannya di sekolah. Penyebabnya tidak selalu sama pada setiap anak.

Beberapa faktor yang umum antara lain:

  • Kecemasan terhadap perpisahan, terutama pada anak yang belum terbiasa berjauhan dari orang tua.
  • Lingkungan baru, seperti ruang kelas, guru, dan teman yang belum dikenal.
  • Perubahan rutinitas, misalnya harus bangun lebih pagi atau mengikuti jadwal kegiatan sekolah.
  • Rasa takut, karena anak belum mengetahui apa yang akan terjadi setelah orang tua pergi.
  • Pengalaman sebelumnya, terutama jika anak pernah mengalami kejadian yang membuatnya tidak nyaman di sekolah.
  • Karakter anak, karena sebagian anak membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi dibandingkan anak lainnya.

Tangisan merupakan salah satu cara anak mengekspresikan emosi ketika belum mampu menjelaskan perasaannya secara jelas. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung memarahi atau memaksa anak berhenti menangis.

Tetap Tenang Saat Mengantar Anak ke Sekolah

Respons orang tua ketika anak menangis sangat berpengaruh terhadap cara anak memandang situasi tersebut. Jika orang tua terlihat panik, terlalu khawatir, atau terus menunjukkan keraguan, anak dapat menangkap sinyal bahwa sekolah merupakan tempat yang perlu ditakuti.

Cobalah tetap tenang dan memberikan keyakinan bahwa anak berada di tempat yang aman. Gunakan kalimat sederhana seperti, “Ibu atau Ayah pergi sebentar, nanti akan kembali menjemput.”

Hindari janji yang tidak dapat dipastikan, misalnya mengatakan akan menjemput dalam beberapa menit jika sebenarnya baru bisa datang setelah jam sekolah selesai. Anak perlu mendapatkan gambaran waktu yang mudah dipahami dan konsisten.

Jangan Memperpanjang Momen Perpisahan

Ketika anak menangis, orang tua sering kali merasa tidak tega untuk segera meninggalkan sekolah. Akibatnya, proses perpisahan menjadi semakin panjang.

Orang tua dapat memberikan pelukan, menyampaikan kalimat positif, kemudian menyerahkan anak kepada guru. Perpisahan yang singkat, hangat, dan konsisten biasanya lebih mudah dipahami anak daripada proses berpamitan yang berulang-ulang.

Bukan berarti orang tua harus mengabaikan perasaan anak. Justru, perasaan tersebut perlu diakui sebelum berpisah. Misalnya, “Kamu sedih karena Ayah pergi, ya. Tidak apa-apa merasa sedih. Nanti Ayah datang lagi untuk menjemput.”

Bangun Kebiasaan Sebelum Hari Sekolah

Adaptasi dapat dimulai sebelum anak benar-benar masuk sekolah. Orang tua dapat mengenalkan rutinitas yang menyerupai kegiatan sekolah secara perlahan.

Beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan meliputi:

  1. Membiasakan anak bangun dan tidur pada waktu yang teratur.
  2. Mengajak anak berbicara mengenai kegiatan yang akan dilakukan di sekolah.
  3. Mengajarkan anak melakukan beberapa aktivitas sederhana secara mandiri.
  4. Mengajak anak mengenal lingkungan sekolah sebelum hari pertama.
  5. Membiasakan perpisahan singkat, misalnya saat anak dititipkan kepada anggota keluarga yang dipercaya.

Persiapan tersebut membantu anak memahami bahwa berpisah dari orang tua bukan berarti ditinggalkan. Anak juga belajar bahwa orang tua akan kembali setelah kegiatan selesai.

Hindari Memaksa Anak Berhenti Menangis

Kalimat seperti “Jangan menangis”, “Kamu sudah besar”, atau “Malu kalau menangis” mungkin terdengar sederhana, tetapi dapat membuat anak merasa emosinya tidak diterima.

Lebih baik, bantu anak mengenali perasaannya. Orang tua dapat mengatakan bahwa rasa sedih atau takut ketika berada di tempat baru merupakan hal yang wajar. Setelah itu, arahkan perhatian anak pada aktivitas yang menyenangkan di sekolah.

Pendekatan tersebut mengajarkan anak bahwa emosi boleh dirasakan, tetapi tetap dapat dikelola.

Kerja Sama Orang Tua dan Guru Sangat Penting

Jika anak terus menangis saat ditinggal, orang tua sebaiknya berkomunikasi dengan guru. Guru dapat memberikan informasi mengenai perilaku anak setelah orang tua meninggalkan sekolah.

Dalam beberapa kasus, anak mungkin menangis hanya selama beberapa menit lalu kembali bermain. Jika demikian, orang tua tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa anak mengalami masalah serius.

Sebaliknya, jika tangisan berlangsung terus-menerus, anak menolak sekolah secara konsisten, atau muncul perubahan perilaku yang cukup mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut perlu diperhatikan lebih lanjut. Orang tua dapat berdiskusi dengan guru atau tenaga profesional yang memiliki kompetensi dalam perkembangan anak.

Kapan Anak Membutuhkan Pendampingan Lebih Lanjut?

Setiap anak membutuhkan waktu adaptasi yang berbeda. Namun, orang tua perlu lebih waspada apabila kecemasan anak terlihat sangat kuat dan tidak menunjukkan perkembangan setelah mendapatkan pendampingan secara konsisten.

Beberapa hal yang dapat menjadi perhatian antara lain:

  • Anak terus-menerus menolak pergi ke sekolah.
  • Anak mengalami kecemasan yang sangat berat ketika harus berpisah.
  • Keluhan fisik seperti sakit perut atau sakit kepala muncul berulang kali menjelang sekolah.
  • Anak mengalami perubahan pola tidur atau makan.
  • Anak tidak mampu mengikuti kegiatan sekolah karena rasa takut yang berlebihan.
  • Kondisi tersebut berlangsung cukup lama dan mengganggu aktivitas anak.

Pendampingan dari guru, konselor sekolah, atau tenaga profesional dapat membantu mencari penyebab sekaligus menentukan pendekatan yang sesuai.

Pentingnya Peran Tenaga Pendidikan dalam Mendampingi Anak

Kemampuan memahami kondisi emosional peserta didik menjadi salah satu bagian penting dalam dunia pendidikan. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga berhadapan dengan beragam karakter, kebutuhan, dan kondisi psikologis siswa.

Hal tersebut membuat bidang pendidikan dan Bimbingan dan Konseling (BK) memiliki peran yang relevan dalam mendukung perkembangan anak di lingkungan sekolah. Calon tenaga pendidik perlu memahami komunikasi yang tepat, perkembangan peserta didik, serta cara memberikan pendampingan sesuai kebutuhan.

Salah satu perguruan tinggi swasta yang memiliki bidang pendidikan adalah Ma’soem University. Kampus ini memiliki Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang saat ini menyediakan dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris.

Program Studi Bimbingan dan Konseling relevan bagi mahasiswa yang ingin mempelajari pendampingan peserta didik, perkembangan individu, serta layanan konseling dalam lingkungan pendidikan. Sementara itu, Pendidikan Bahasa Inggris berfokus pada kompetensi pendidikan dan pengajaran bahasa Inggris.

Pemahaman mengenai perkembangan anak seperti kecemasan saat berpisah dari orang tua dapat menjadi salah satu pengetahuan yang berguna bagi calon pendidik maupun konselor. Pada praktiknya, kemampuan tersebut perlu diterapkan secara profesional sesuai kondisi dan kebutuhan setiap peserta didik.

Kontak Ma’soem University

Bagi calon mahasiswa atau orang tua yang ingin mengetahui informasi lebih lanjut mengenai program pendidikan di Ma’soem University, informasi dapat diperoleh melalui kontak berikut:

  • No. WhatsApp: 085185634253
  • Instagram: @masoem_university
  • Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com