Anak Mudah Marah Akhir-Akhir Ini, Apakah Selalu Karena Kenakalan?

Anak mudah marah akhir-akhir ini sering membuat orang tua bingung. Perubahan sikap yang terlihat tiba-tiba, seperti mudah tersinggung, membantah, menangis, berteriak, atau menolak berbicara, memang bisa menjadi tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak jarang perilaku tersebut langsung dianggap sebagai bentuk kenakalan.

Padahal, kemarahan pada anak tidak selalu berarti anak sedang mencari masalah atau sengaja melawan orang tua. Marah merupakan salah satu bentuk emosi yang perlu dipahami. Anak mungkin belum memiliki kemampuan yang cukup untuk menjelaskan rasa kecewa, takut, lelah, cemas, atau tertekan sehingga emosi tersebut muncul dalam bentuk kemarahan.

Anak Mudah Marah Bisa Dipengaruhi Banyak Hal

Kemampuan anak dalam mengelola emosi masih berkembang. Karena itu, respons yang terlihat berlebihan bagi orang dewasa belum tentu memiliki penyebab yang sederhana.

Beberapa faktor yang dapat membuat anak lebih mudah marah antara lain:

  • Kurang tidur atau terlalu lelah setelah menjalani berbagai aktivitas.
  • Merasa lapar, tidak nyaman, atau sedang mengalami perubahan rutinitas.
  • Mengalami kesulitan belajar atau tekanan di sekolah.
  • Memiliki konflik dengan teman.
  • Merasa kurang mendapat perhatian dari orang tua.
  • Menghadapi perubahan dalam keluarga atau lingkungan.
  • Terlalu sering terpapar gawai, terutama jika waktu penggunaannya tidak teratur.
  • Kesulitan menyampaikan kebutuhan dan perasaan secara verbal.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya melihat perilaku yang muncul, tetapi juga mencoba memahami kondisi yang mendahuluinya.

Kenapa Anak Bisa Lebih Sensitif dan Mudah Tersinggung?

Perubahan emosi pada anak dapat berkaitan dengan tahap perkembangan yang sedang dilalui. Semakin bertambah usia, anak menghadapi tuntutan yang semakin kompleks. Ia mulai dituntut lebih mandiri, mampu mengikuti aturan, berprestasi di sekolah, sekaligus menjalin hubungan sosial.

Situasi tersebut dapat menjadi berat apabila kemampuan mengelola emosi belum berkembang secara seimbang.

Anak yang sebenarnya merasa kecewa karena mengalami kesulitan pelajaran, misalnya, belum tentu mampu mengatakan, “Saya merasa tidak mampu mengerjakan tugas ini.” Sebagai gantinya, ia mungkin membentak atau melempar barang.

Respons tersebut bukan berarti perilakunya boleh dibiarkan. Namun, memahami penyebabnya membantu orang tua menentukan respons yang lebih tepat.

Bedakan Kenakalan, Ledakan Emosi, dan Masalah yang Perlu Diperhatikan

Tidak semua perilaku marah perlu dianggap sebagai masalah serius. Anak tetap perlu belajar bahwa berteriak, memukul, merusak barang, atau menyakiti orang lain bukan cara yang tepat untuk melampiaskan emosi.

Pada saat yang sama, memberikan label seperti “nakal” secara terus-menerus dapat membuat anak merasa dirinya memang buruk. Lebih baik, orang tua memisahkan antara anak dan perilakunya.

Contohnya, daripada mengatakan “Kamu memang anak nakal,” orang tua dapat menjelaskan bahwa tindakan memukul atau berteriak tidak dapat diterima. Setelah anak lebih tenang, orang tua dapat mengajaknya membicarakan alasan ia marah.

Pendekatan tersebut membantu anak memahami bahwa emosi boleh dirasakan, tetapi cara mengekspresikannya tetap perlu dikendalikan.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Orang Tua Saat Anak Marah?

Respons orang tua ketika anak sedang marah dapat memengaruhi cara anak belajar mengelola emosinya. Membalas teriakan dengan teriakan biasanya tidak membuat keadaan menjadi lebih tenang.

Beberapa langkah yang dapat dicoba adalah:

  1. Tetap tenang. Berikan contoh bahwa emosi kuat dapat dihadapi tanpa kehilangan kendali.
  2. Berikan ruang secukupnya. Jika anak sedang sangat emosional, jangan memaksanya langsung menjelaskan masalah.
  3. Validasi perasaannya. Orang tua dapat mengakui bahwa anak sedang kecewa, kesal, atau sedih tanpa membenarkan perilaku yang menyakiti.
  4. Tetapkan batas yang jelas. Anak perlu mengetahui perilaku apa yang tidak diperbolehkan.
  5. Ajak bicara setelah suasana membaik. Saat sudah tenang, tanyakan apa yang membuatnya marah.
  6. Ajarkan cara mengekspresikan emosi. Anak dapat dilatih menggunakan kata-kata, menarik napas, mengambil waktu untuk menenangkan diri, atau meminta bantuan.

Kebiasaan tersebut perlu dilatih berulang kali karena kemampuan regulasi emosi tidak terbentuk dalam satu atau dua percakapan.

Kapan Orang Tua Perlu Mencari Bantuan?

Orang tua perlu memberikan perhatian lebih jika perubahan perilaku berlangsung cukup lama atau mulai mengganggu kehidupan anak. Misalnya, anak terus-menerus mudah marah, mengalami penurunan prestasi, menarik diri dari lingkungan sosial, sulit tidur, sering bertengkar, atau menunjukkan perilaku agresif.

Perhatian juga diperlukan jika kemarahan muncul sangat intens dan sulit dikendalikan. Dalam kondisi seperti ini, berkonsultasi kepada psikolog, konselor, dokter, atau tenaga profesional yang sesuai dapat membantu mencari faktor yang mendasarinya.

Pendekatan profesional bukan berarti orang tua gagal mendidik anak. Justru, bantuan tersebut dapat menjadi cara untuk mendapatkan sudut pandang yang lebih objektif dan menentukan langkah pendampingan yang sesuai.

Pentingnya Peran Sekolah dalam Memahami Perubahan Perilaku Anak

Anak menghabiskan banyak waktu di sekolah sehingga guru dan tenaga pendidik juga dapat berperan dalam mengenali perubahan perilaku. Anak yang biasanya aktif lalu menjadi pendiam, atau anak yang sebelumnya mudah bergaul lalu sering terlibat konflik, mungkin sedang menghadapi persoalan tertentu.

Komunikasi antara orang tua dan sekolah dapat membantu melihat kondisi anak secara lebih utuh. Catatan dari guru mengenai perubahan interaksi sosial, aktivitas belajar, dan respons anak di kelas dapat menjadi informasi penting bagi orang tua.

Bidang Bimbingan dan Konseling (BK) juga memiliki kaitan erat dengan pendampingan peserta didik. Calon tenaga pendidik dan konselor perlu memahami perkembangan psikologis, karakter, komunikasi, serta cara membantu anak menghadapi berbagai persoalan.

Relevansi Pendidikan Bimbingan dan Konseling

Pemahaman mengenai perilaku anak tidak hanya penting bagi orang tua dan guru, tetapi juga menjadi bagian dari kompetensi profesional dalam bidang pendidikan. Karena itu, pendidikan tinggi yang memiliki program studi terkait kependidikan dapat menjadi pilihan bagi seseorang yang ingin mendalami bidang tersebut.

Salah satu kampus swasta yang memiliki bidang studi relevan adalah Ma’soem University. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Ma’soem University saat ini memiliki dua program studi, yaitu S1 Bimbingan dan Konseling (BK) serta S1 Pendidikan Bahasa Inggris.

Program Studi Bimbingan dan Konseling berfokus pada pengembangan kompetensi konseling serta pemahaman aspek psikologis dan pedagogis yang dapat diterapkan dalam lingkungan pendidikan maupun bidang pengembangan manusia.

Sementara itu, Pendidikan Bahasa Inggris berfokus pada kemampuan bahasa sekaligus kompetensi pedagogik untuk mempersiapkan calon pendidik profesional.

Bagi calon mahasiswa yang tertarik pada dunia pendidikan, perkembangan peserta didik, dan pendampingan siswa, bidang BK dapat menjadi salah satu pilihan studi yang relevan. Pemahaman mengenai karakter dan perkembangan anak nantinya dapat menjadi bagian penting dalam menjalankan peran sebagai pendidik atau konselor.

Kontak Ma’soem University

Informasi mengenai penerimaan mahasiswa baru Ma’soem University dapat diperoleh melalui kontak berikut:

  • No. WhatsApp: 085185634253
  • Instagram: @masoem_university
  • Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com