Anak Terlihat Ceria di Sekolah tetapi Berbeda Saat di Rumah, Apa Penyebabnya?

Orang tua terkadang merasa bingung ketika melihat anak terlihat ceria, aktif, dan mudah bergaul saat berada di sekolah, tetapi justru lebih pendiam, mudah marah, atau terlihat murung ketika sudah berada di rumah. Perbedaan perilaku tersebut tidak selalu berarti anak sedang mengalami masalah serius. Anak dapat menunjukkan sisi dirinya yang berbeda sesuai dengan lingkungan, orang-orang di sekitarnya, serta kondisi emosional yang sedang dirasakan.

Memahami alasan di balik perubahan perilaku anak penting dilakukan agar orang tua tidak terburu-buru memberikan label seperti “malas”, “manja”, atau “susah diatur”. Perilaku yang terlihat di rumah bisa menjadi petunjuk bahwa anak membutuhkan ruang untuk beristirahat, didengarkan, atau mendapatkan perhatian lebih.

Anak Bisa Menunjukkan Emosi yang Berbeda di Setiap Lingkungan

Sekolah dan rumah memiliki suasana yang berbeda. Di sekolah, anak mungkin memiliki rutinitas, teman untuk bermain, kegiatan belajar, serta berbagai aktivitas yang membuatnya terlihat aktif. Sementara itu, rumah merupakan tempat yang lebih familiar sehingga anak merasa lebih bebas menunjukkan emosi yang selama ini ditahannya.

Anak yang terlihat sangat ceria di sekolah belum tentu selalu merasa bahagia sepanjang hari. Bisa saja ia berusaha mengikuti aturan, menjaga hubungan dengan teman, atau menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah. Ketika sampai di rumah, rasa lelah secara fisik maupun emosional dapat muncul dalam bentuk diam, rewel, mudah tersinggung, atau ingin menyendiri.

Kondisi tersebut sering kali bukan berarti anak berpura-pura ceria di sekolah. Anak hanya memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan perasaannya berdasarkan situasi yang dihadapi.

Kelelahan Setelah Beraktivitas di Sekolah

Kegiatan sekolah membutuhkan energi yang cukup besar. Anak harus mengikuti pelajaran, berinteraksi dengan guru dan teman, berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya, serta mematuhi berbagai aturan.

Setelah menjalani aktivitas tersebut selama berjam-jam, anak mungkin membutuhkan waktu untuk mengembalikan energinya. Respons yang muncul di rumah dapat berupa:

  • lebih banyak diam daripada biasanya;
  • tidak ingin langsung diajak berbicara;
  • mudah kesal ketika mendapat pertanyaan;
  • ingin bermain sendiri;
  • tidur lebih cepat;
  • terlihat tidak bersemangat mengikuti aktivitas keluarga.

Orang tua dapat memberikan waktu bagi anak untuk beristirahat sebelum mengajaknya bercerita. Pertanyaan sederhana seperti “Hari ini bagaimana?” dapat menjadi pembuka, tetapi tidak perlu memaksa anak untuk langsung memberikan jawaban panjang.

Anak Mungkin Sedang Menyimpan Masalah di Sekolah

Perubahan suasana hati juga perlu diperhatikan apabila terjadi terus-menerus. Anak yang tampak ceria di sekolah tetapi selalu murung ketika di rumah mungkin sedang menghadapi sesuatu yang belum mampu ia ceritakan.

Masalah tersebut tidak selalu berupa perundungan. Konflik dengan teman, kesulitan memahami pelajaran, rasa takut kepada guru, tekanan untuk mendapatkan nilai tertentu, atau kesulitan mengikuti lingkungan pergaulan juga dapat memengaruhi kondisi emosional anak.

Orang tua dapat memperhatikan beberapa perubahan, seperti pola tidur yang berubah, penurunan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, perubahan nafsu makan, sering mengeluh sakit tanpa penyebab yang jelas, atau semakin enggan berbicara tentang sekolah.

Jika tanda-tanda tersebut berlangsung cukup lama atau semakin mengganggu aktivitas anak, orang tua sebaiknya mempertimbangkan konsultasi dengan tenaga profesional, seperti psikolog anak atau konselor.

Rumah Bisa Menjadi Tempat Anak Melepaskan Emosi

Ada alasan lain mengapa anak justru terlihat lebih emosional di rumah. Anak biasanya merasa lebih aman ketika berada bersama orang yang dipercaya. Perasaan yang sejak pagi ditahan akhirnya dapat keluar ketika ia sudah berada di lingkungan yang dianggap nyaman.

Misalnya, seorang anak tetap berusaha mengikuti kegiatan sekolah meskipun sedang kesal atau kecewa. Setelah sampai di rumah, ia mungkin langsung menangis atau marah karena tidak perlu lagi menyembunyikan emosinya.

Situasi tersebut bukan berarti orang tua boleh mengabaikan perilaku negatif. Anak tetap perlu belajar mengelola emosi dan memahami batas perilaku yang dapat diterima. Namun, pendekatan yang tenang biasanya lebih membantu dibandingkan langsung memarahi atau memberikan hukuman.

Pola Komunikasi Orang Tua Berpengaruh

Cara orang tua bertanya juga dapat menentukan apakah anak bersedia bercerita atau justru semakin menutup diri. Pertanyaan yang terlalu banyak dan bernada menghakimi dapat membuat anak merasa sedang diperiksa.

Orang tua dapat mencoba komunikasi yang lebih terbuka, misalnya:

  • “Kelihatannya kamu capek hari ini. Mau istirahat dulu?”
  • “Kalau ada sesuatu yang membuat kamu tidak nyaman, kamu boleh cerita kapan saja.”
  • “Ibu/Ayah siap mendengarkan kalau kamu ingin bercerita.”
  • “Tidak apa-apa kalau sekarang belum mau cerita.”

Kalimat seperti itu memberikan pesan bahwa anak memiliki ruang untuk berbicara tanpa langsung takut disalahkan.

Jangan Hanya Menilai Anak dari Perilakunya

Perilaku anak sebaiknya dilihat secara menyeluruh. Anak yang pendiam di rumah belum tentu tidak bahagia, begitu pula anak yang aktif di sekolah belum tentu tidak memiliki masalah.

Orang tua dapat membandingkan perubahan perilaku anak dari waktu ke waktu, bukan hanya membandingkannya dengan anak lain. Perhatikan juga pola yang muncul: kapan anak terlihat lebih ceria, kapan ia mudah marah, aktivitas apa yang membuatnya nyaman, serta situasi apa yang membuatnya menarik diri.

Pendekatan tersebut membantu orang tua memahami kebutuhan emosional anak secara lebih tepat.

Pentingnya Peran Bimbingan dan Konseling dalam Memahami Anak

Pemahaman terhadap perkembangan emosi dan perilaku anak juga menjadi bagian penting dalam bidang pendidikan. Guru, konselor sekolah, dan calon tenaga pendidik perlu memahami bahwa perilaku anak di ruang kelas belum tentu menggambarkan kondisi emosionalnya secara keseluruhan.

Bidang Bimbingan dan Konseling (BK), misalnya, berperan dalam membantu peserta didik mengenali dan mengembangkan kemampuan pribadi, sosial, belajar, serta perencanaan masa depan. Pengetahuan tersebut relevan bagi siapa saja yang ingin berkontribusi dalam pendampingan perkembangan anak dan remaja.

Salah satu perguruan tinggi swasta yang memiliki bidang pendidikan terkait adalah Ma’soem University. Pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), jurusan yang tersedia adalah Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Keberadaan program tersebut relevan bagi calon mahasiswa yang ingin mendalami pendidikan, komunikasi, pendampingan peserta didik, dan perkembangan mereka di lingkungan sekolah.

Pemahaman mengenai psikologi perkembangan dan komunikasi pendidikan dapat menjadi bekal penting bagi calon pendidik maupun konselor untuk melihat perilaku anak secara lebih utuh, termasuk ketika terdapat perbedaan perilaku antara sekolah dan rumah.

Kapan Orang Tua Perlu Mencari Bantuan Profesional?

Perubahan perilaku tidak selalu membutuhkan penanganan khusus. Namun, perhatian lebih diperlukan apabila perubahan tersebut berlangsung lama, semakin berat, atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari anak.

Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan antara lain:

  • anak terus-menerus terlihat sedih atau mudah marah;
  • anak menolak pergi ke sekolah tanpa alasan yang jelas;
  • prestasi akademik menurun secara drastis;
  • anak menarik diri dari teman dan keluarga;
  • pola tidur atau makan berubah cukup signifikan;
  • anak sering mengeluhkan ketakutan atau kecemasan;
  • anak menunjukkan ucapan atau perilaku yang mengarah pada keinginan menyakiti diri.

Orang tua tidak harus langsung menyimpulkan penyebabnya. Langkah awal dapat dilakukan melalui komunikasi dengan anak dan guru, kemudian mencari bantuan psikolog atau konselor apabila diperlukan.

Informasi Ma’soem University

No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com