Anak Tidak Mau Berbagi Mainan, Apakah Itu Wajar?

Anak tidak mau berbagi mainan sering membuat orang tua bertanya-tanya apakah perilaku tersebut merupakan tanda anak terlalu egois atau justru bagian dari perkembangan yang normal. Pada usia tertentu, anak memang belum sepenuhnya memahami konsep berbagi, bergantian, dan melihat kebutuhan orang lain.

Ketika anak mempertahankan mainannya, menangis saat mainan diambil, atau menolak memberikan barang kesayangannya kepada teman, orang tua tidak perlu langsung memberikan label negatif. Perilaku tersebut perlu dilihat berdasarkan usia, situasi, serta kemampuan anak dalam memahami emosi dan aturan sosial.

Mengapa Anak Tidak Mau Berbagi Mainan?

Berbagi merupakan keterampilan sosial yang berkembang secara bertahap. Anak kecil masih berada dalam proses mengenali dirinya sendiri, memahami kepemilikan, serta belajar bahwa orang lain juga memiliki keinginan.

Beberapa alasan anak tidak mau berbagi mainan antara lain:

  • Belum memahami konsep kepemilikan bersama. Anak dapat menganggap mainan yang berada di tangannya sebagai sesuatu yang sepenuhnya miliknya.
  • Masih belajar mengendalikan emosi. Keinginan untuk mempertahankan mainan bisa terasa sangat kuat sehingga anak langsung menangis atau marah.
  • Mainan tersebut memiliki nilai emosional. Anak mungkin lebih sulit berbagi benda favorit, terutama jika mainan tersebut sering digunakan atau memiliki kenangan tertentu.
  • Belum memahami konsep bergantian. Bagi anak usia dini, menunggu giliran dapat terasa sulit karena kemampuan mengendalikan impuls masih berkembang.
  • Merasa kehilangan kendali. Ketika orang lain mengambil mainannya secara tiba-tiba, anak dapat merasa tidak nyaman atau terancam.

Karena itu, anak yang tidak mau berbagi mainan belum tentu menunjukkan sifat egois. Orang tua perlu melihat perilaku tersebut sebagai bagian dari proses belajar keterampilan sosial.

Pada Usia Berapa Anak Mulai Belajar Berbagi?

Kemampuan berbagi tidak muncul secara tiba-tiba. Anak biasanya membutuhkan pengalaman berulang untuk memahami bahwa memberikan kesempatan kepada orang lain bukan berarti kehilangan sesuatu untuk selamanya.

Pada usia balita, bermain berdampingan tanpa benar-benar berinteraksi merupakan hal yang umum. Anak dapat bermain di tempat yang sama sambil tetap fokus pada mainannya sendiri. Seiring bertambahnya usia, anak mulai mengenal permainan bersama, aturan sederhana, serta konsep bergiliran.

Memasuki usia prasekolah, kemampuan memahami perasaan orang lain biasanya semakin berkembang. Anak mulai dapat diarahkan untuk menunggu giliran, meminjamkan mainan, dan memahami bahwa teman juga ingin bermain.

Perkembangan setiap anak tetap dapat berbeda. Orang tua tidak perlu membandingkan kemampuan berbagi seorang anak dengan anak lain secara berlebihan.

Cara Mengajarkan Anak Agar Mau Berbagi

Mengajarkan anak berbagi sebaiknya dilakukan secara bertahap. Memaksa anak menyerahkan mainan ketika belum siap justru dapat membuat aktivitas berbagi terasa seperti hukuman.

Beberapa cara yang dapat dicoba orang tua yaitu:

1. Berikan Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Anak banyak belajar melalui pengamatan. Orang tua dapat menunjukkan perilaku berbagi melalui aktivitas sederhana, seperti berbagi makanan, bergantian menggunakan barang, atau memberikan sesuatu kepada anggota keluarga.

Gunakan kalimat sederhana seperti, “Ayah sudah selesai memakai ini, sekarang giliran kamu.” Contoh konkret membantu anak memahami konsep bergantian secara lebih mudah.

2. Ajarkan Konsep Bergiliran

Tidak semua situasi harus langsung diarahkan pada berbagi. Konsep bergiliran sering kali lebih mudah dipahami anak.

Saat dua anak menginginkan mainan yang sama, orang tua dapat membuat aturan sederhana: satu anak bermain terlebih dahulu, kemudian memberikan kesempatan kepada anak lainnya. Gunakan durasi yang sesuai agar anak tidak merasa harus menunggu terlalu lama.

3. Hormati Barang yang Sangat Disukai Anak

Anak boleh memiliki barang yang tidak ingin dibagikan. Mainan kesayangan dapat memiliki arti khusus bagi anak sehingga orang tua sebaiknya tidak selalu memaksanya untuk diberikan kepada orang lain.

Sebelum bermain bersama, orang tua dapat membantu anak memilih mainan mana yang bersedia dipinjamkan dan mana yang ingin disimpan.

4. Hindari Memberi Label “Pelith” atau “Egois”

Ucapan seperti “Kamu pelit sekali” mungkin membuat anak merasa dirinya buruk, bukan memahami perilaku apa yang perlu diperbaiki. Lebih baik fokus pada tindakan.

Misalnya, orang tua dapat mengatakan, “Kakak masih ingin bermain, ya. Setelah selesai, kita kasih kesempatan kepada teman.”

Cara tersebut membantu anak memahami bahwa perasaannya diterima, tetapi tetap ada aturan sosial yang perlu dipelajari.

5. Berikan Pujian pada Perilaku Positif

Ketika anak bersedia berbagi atau menunggu giliran, berikan apresiasi secara spesifik. Contohnya, “Kakak mau memberikan giliran kepada teman. Itu membantu teman bisa ikut bermain.”

Pujian yang spesifik membuat anak memahami perilaku apa yang dianggap baik sehingga lebih mudah mengulanginya.

Kapan Orang Tua Perlu Lebih Memperhatikan?

Tidak mau berbagi saja biasanya bukan alasan untuk langsung mengkhawatirkan perkembangan anak. Namun, orang tua dapat memperhatikan pola perilaku secara keseluruhan.

Jika anak sangat kesulitan berinteraksi, selalu menolak kontak sosial, tidak mampu mengikuti aturan permainan sederhana sesuai usianya, atau menunjukkan kesulitan komunikasi yang menetap, orang tua dapat berkonsultasi kepada tenaga profesional yang sesuai.

Pendekatan yang tepat sebaiknya mempertimbangkan usia dan tahap perkembangan anak. Konseling juga dapat membantu orang tua memahami pola perilaku anak serta menentukan cara komunikasi yang lebih efektif.

Pendidikan dan Pemahaman Perkembangan Anak

Pemahaman mengenai perkembangan anak tidak hanya penting bagi orang tua, tetapi juga bagi calon tenaga pendidik dan konselor. Lingkungan pendidikan membutuhkan orang-orang yang mampu melihat perilaku anak berdasarkan tahap perkembangan, bukan sekadar memberikan penilaian baik atau buruk.

Hal tersebut relevan bagi mahasiswa yang tertarik pada bidang pendidikan dan konseling. Ma’soem University merupakan salah satu perguruan tinggi swasta yang memiliki bidang pendidikan yang berkaitan dengan pengembangan manusia.

Pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Ma’soem University, program studi yang tersedia adalah Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Program BK memiliki keterkaitan yang jelas dengan pemahaman perkembangan peserta didik, proses konseling, serta pendampingan individu dalam lingkungan pendidikan. Informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi calon mahasiswa yang ingin mendalami bidang pendidikan dan layanan bimbingan.

Pemahaman perkembangan sosial dan emosional anak juga dapat menjadi bekal penting bagi calon pendidik maupun konselor ketika menghadapi berbagai karakter anak di lingkungan sekolah. Perilaku seperti tidak mau berbagi mainan dapat menjadi salah satu contoh sederhana bahwa setiap anak membutuhkan pendekatan sesuai tahap perkembangannya.

Hal yang Sebaiknya Dihindari Saat Anak Menolak Berbagi

Orang tua terkadang secara spontan mengambil mainan dari anak lalu memberikannya kepada anak lain. Cara tersebut memang dapat menyelesaikan konflik sesaat, tetapi belum tentu membantu anak memahami makna berbagi.

Beberapa hal yang sebaiknya dihindari meliputi:

  • Memaksa anak memberikan semua mainannya.
  • Mempermalukan anak di depan teman atau keluarga.
  • Membandingkan anak dengan saudara atau teman.
  • Memberikan label negatif seperti “pelit” atau “egois”.
  • Menganggap setiap penolakan berbagi sebagai masalah perilaku.
  • Mengabaikan perasaan anak ketika mainannya direbut.

Orang tua dapat membantu anak belajar berbagi secara perlahan melalui contoh, kesempatan berlatih, aturan yang konsisten, dan komunikasi yang sesuai usia. Seiring perkembangan kemampuan sosial dan emosionalnya, anak akan semakin memahami bahwa bermain bersama membutuhkan kemampuan untuk bergantian, berkompromi, serta memperhatikan perasaan orang lain.

Informasi Kontak Ma’soem University

No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com