Analisis Masa Simpan Produk: Skill Unggulan dari Jurusan Teknologi Pangan

Bagi konsumen, tanggal kadaluwarsa adalah informasi dasar untuk keamanan konsumsi. Namun, bagi industri, menentukan tanggal tersebut adalah proses sains yang sangat kompleks. Di sinilah Jurusan Teknologi Pangan memegang peran sentral. Menentukan masa simpan (shelf life) bukan sekadar menebak-nebak, melainkan hasil analisis mendalam terhadap perubahan kimia, fisik, dan mikrobiologi sebuah produk.

Di Universitas Ma’soem, analisis masa simpan menjadi salah satu keahlian teknis utama yang diajarkan. Kemampuan ini sangat dicari oleh perusahaan untuk memastikan produk mereka tetap berkualitas selama di perjalanan, di rak toko, hingga ke tangan konsumen.


1. Menguji Ketahanan Produk Melalui Uji Mikrobiologi

Musuh utama masa simpan produk adalah pertumbuhan mikroba. Mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan dilatih untuk melakukan penghitungan jumlah mikroba secara berkala.

  • Batas Aman: Mereka mempelajari kapan populasi bakteri atau jamur dalam makanan mencapai titik yang tidak lagi aman dikonsumsi.
  • Efektivitas Pengawetan: Skill ini digunakan untuk membuktikan apakah metode pengawetan (seperti pengaturan pH atau penambahan bahan alami) benar-benar mampu menghambat kerusakan produk dalam jangka waktu tertentu.

2. Metode ASLT (Accelerated Shelf Life Testing)

Dalam industri yang bergerak cepat, perusahaan tidak mungkin menunggu satu tahun hanya untuk mengetahui apakah produknya tahan lama. Mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan mempelajari metode ASLT atau uji masa simpan yang dipercepat.

  • Simulasi Ekstrem: Produk disimpan dalam suhu atau kelembapan tinggi untuk memicu kerusakan lebih cepat.
  • Perhitungan Matematis: Dengan menggunakan persamaan kimia (seperti rumus Arrhenius), mahasiswa dapat memprediksi masa simpan produk pada suhu normal hanya berdasarkan data pengujian selama beberapa minggu di laboratorium.

3. Analisis Oksidasi dan Perubahan Sensorik

Tidak semua produk menjadi beracun saat rusak; terkadang mereka hanya berubah rasa atau warna. Mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan belajar mendeteksi perubahan kualitas ini.

  • Oksidasi Lemak: Pada produk seperti keripik atau minyak, mahasiswa menganalisis kadar ketengikan (bilangan peroksida).
  • Uji Organoleptik: Mereka menggunakan indra penciuman dan perasa untuk menentukan kapan aroma produk mulai berubah atau teksturnya tidak lagi renyah, meskipun produk tersebut secara mikrobiologi masih aman.

4. Peran Pengemasan terhadap Masa Simpan

Masa simpan sangat bergantung pada kemasan yang digunakan. Mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan melakukan riset untuk mencocokkan jenis produk dengan material kemasan yang tepat.

  • Laju Transmisi Uap Air: Mereka menghitung seberapa kuat kemasan menahan masuknya udara dan kelembapan agar produk tidak cepat mlempem atau berjamur.
  • Inovasi Kemasan: Mempelajari penggunaan kemasan vakum atau Modified Atmosphere Packaging (MAP) untuk memperpanjang usia produk secara alami tanpa banyak bahan kimia.

Analisis masa simpan produk adalah kombinasi antara ketelitian laboratorium dan perhitungan matematika yang presisi. Keahlian ini membuat lulusan Jurusan Teknologi Pangan memiliki nilai tawar tinggi di departemen Quality Control (QC) dan Research and Development (R&D). Di Universitas Ma’soem, penguasaan skill ini memastikan mahasiswa siap membantu industri dalam menciptakan produk yang awet, aman, dan tetap berkualitas tinggi.