Apa Itu Mixed Method, Kapan Dipakai dan Apakah Cocok untuk Skripsi S1? (Panduan untuk Mahasiswa Teknik)

Dalam dunia riset Fakultas Teknik di Masoem University, kita sering kali dihadapkan pada masalah yang tidak cukup dijawab hanya dengan angka, namun juga butuh penjelasan mendalam. Di sinilah Mixed Method atau Metode Campuran hadir sebagai solusi profesional untuk menghasilkan analisis sistem yang lebih tangguh dan komprehensif.

Di tahun 2026 ini, tren penelitian Teknik Informatika dan Teknik Industri mulai bergeser ke arah pemahaman pengguna (user-centric). Memahami Mixed Method akan membuat skripsi kamu memiliki integritas tinggi karena mampu memotret masalah dari dua sudut pandang sekaligus.


Apa Itu Mixed Method?

Secara sederhana, Mixed Method adalah prosedur penelitian yang mengombinasikan dua bentuk penelitian: Kuantitatif (data angka dan statistik) serta Kualitatif (data kata-kata, observasi, dan wawancara).

Tujuannya adalah agar kelemahan pada salah satu metode dapat ditutupi oleh kekuatan metode lainnya. Jika Kuantitatif memberikan gambaran “apa” yang terjadi secara luas, maka Kualitatif menjelaskan “mengapa” hal itu terjadi secara mendalam.


Kapan Mixed Method Harus Dipakai?

Metode ini sangat inovatif namun membutuhkan kedisiplinan tinggi. Kamu sebaiknya menggunakan Mixed Method jika:

  1. Hasil Kuantitatif Perlu Penjelasan: Misalnya, setelah menguji sistem (X) dan hasilnya gagal (Y), kamu perlu mewawancarai ahli untuk tahu penyebab teknis di baliknya.
  2. Ingin Membangun Instrumen Baru: Kamu melakukan wawancara dulu (Kualitatif) untuk menemukan variabel, baru kemudian membuat kuesioner (Kuantitatif) untuk mengujinya ke banyak orang.
  3. Masalah Sangat Kompleks: Masalah di industri atau laboratorium yang melibatkan perilaku manusia (operator/pengguna) sekaligus performa mesin/perangkat lunak.

Desain Mixed Method yang Sering Digunakan

Ada dua strategi utama yang biasanya diterapkan oleh mahasiswa teknik secara amanah dan sistematis:

  • Explanatory Sequential: Melakukan kuantitatif dulu, lalu diperdalam dengan kualitatif.
    • Contoh Teknik Informatika: Menyebar kuesioner kepuasan aplikasi, lalu melakukan wawancara mendalam kepada pengguna yang memberikan nilai paling rendah.
  • Exploratory Sequential: Melakukan kualitatif dulu, lalu diuji secara kuantitatif.
    • Contoh Teknik Industri: Mengobservasi kendala di lini produksi, lalu membuat standar operasional baru yang diuji efisiensinya secara statistik.

Apakah Cocok untuk Skripsi S1?

Jawabannya: Sangat cocok, namun menantang. Dosen pembimbing di Masoem University biasanya akan sangat mengapresiasi mahasiswa yang berani mengambil Mixed Method karena menunjukkan kemampuan analisis yang profesional. Namun, ada beberapa hal yang harus kamu pertimbangkan:

  • Waktu: Penelitian ini memakan waktu lebih lama karena ada dua tahap pengambilan data. Kamu harus sangat disiplin dengan jadwal.
  • Keahlian: Kamu harus menguasai dua alat sekaligus, misalnya SPSS/Python untuk statistik dan teknik Coding/Thematic Analysis untuk wawancara.
  • Beban Kerja: Skripsi Mixed Method sering kali terasa seperti mengerjakan dua penelitian dalam satu judul. Pastikan kamu memiliki mental yang tangguh.
KelebihanTantangan
Hasil penelitian sangat detail dan suportif.Membutuhkan waktu dan tenaga ekstra.
Memiliki nilai tawar tinggi di mata penguji.Analisis data lebih rumit dan berlapis.
Solusi yang dihasilkan lebih inovatif.Risiko data tidak sinkron antara angka dan kata.

Menggunakan Mixed Method adalah bukti bahwa kamu adalah calon teknokrat yang tidak hanya jago angka, tapi juga peduli pada realita di lapangan. Di atmosfer akademik yang religius, metode ini melatih kita untuk selalu jujur melihat fakta dari berbagai sisi.

Mau tahu cara menyusun “Rumusan Masalah” yang benar untuk penelitian Mixed Method agar tidak dibantai saat Sempro? Cek juga panduan teknis riset kami di: