Di era aplikasi modern saat ini, batasan antara fungsionalitas teknis dan kenyamanan visual menjadi semakin tipis. Membangun sebuah perangkat lunak tidak lagi hanya sekadar memastikan kode berjalan tanpa error, tetapi juga memastikan manusia yang menggunakannya merasa nyaman dan terbantu. Bagi mahasiswa Teknik Informatika di Universitas Ma’soem, memahami konsep UI/UX Design bukan lagi sebuah pilihan atau sekadar hobi sampingan, melainkan sebuah keharusan agar aplikasi yang dibangun memiliki daya saing tinggi di industri digital yang sangat kompetitif.
Seringkali, mahasiswa di Fakultas Teknik terjebak dalam pola pikir bahwa “yang penting aplikasi jalan”. Namun, kenyataannya adalah sehebat apa pun algoritma yang Anda tulis atau secepat apa pun database yang Anda rancang, produk tersebut akan segera ditinggalkan jika tampilannya membingungkan atau alur penggunaannya menyulitkan. Di sinilah peran UI dan UX menjadi sangat krusial.
Membedah Perbedaan UI dan UX Design
Seringkali istilah UI (User Interface) dan UX (User Experience) dianggap sebagai satu hal yang sama, padahal keduanya memiliki fokus yang berbeda namun saling melengkapi secara harmonis. Di Universitas Ma’soem, mahasiswa diajarkan untuk melihat UI sebagai “wajah” dari sebuah produk digital. UI Design berfokus pada keindahan visual dan elemen-elemen yang tertangkap oleh mata, seperti pemilihan palet warna, tipografi, bentuk ikon, hingga tata letak tombol agar terlihat estetis dan modern.
Di sisi lain, UX Design memiliki cakupan yang jauh lebih luas dan bersifat psikologis. UX berfokus pada pengalaman, perasaan, dan kemudahan pengguna saat berinteraksi dengan aplikasi tersebut dari awal hingga akhir. UX adalah tentang menjawab pertanyaan: “Apakah alur pendaftarannya logis?”, “Apakah pengguna bisa menemukan menu yang mereka cari dalam waktu kurang dari tiga detik?”, atau “Bagaimana perasaan pengguna setelah selesai menggunakan aplikasi ini?”. Seorang desainer UX yang baik di lingkungan Fakultas Teknik harus mampu berempati dengan pengguna untuk memahami masalah nyata yang ingin mereka selesaikan.
Mengapa Seorang Programmer Harus Melek Desain?
Mungkin muncul pertanyaan di benak Anda, “Mengapa saya sebagai calon programmer di Universitas Ma’soem harus belajar desain jika nanti di kantor sudah ada tim desainer khusus?” Jawabannya terletak pada efisiensi kolaborasi. Seorang programmer yang memahami prinsip UI/UX akan memiliki komunikasi yang jauh lebih lancar dengan tim kreatif. Anda akan memahami alasan teknis di balik sebuah desain, sehingga saat proses implementasi kode atau slicing, hasilnya akan jauh lebih presisi dan sesuai dengan visi awal.
Selain itu, memahami UX akan membantu programmer membangun logika sistem yang lebih “manusiawi”. Anda tidak hanya berpikir tentang bagaimana data masuk ke database, tetapi juga bagaimana cara memberikan pesan kesalahan (error message) yang membantu, atau bagaimana memberikan umpan balik visual saat sebuah proses sedang berjalan. Kemampuan ini akan membuat Anda menonjol di mata perusahaan karena Anda dianggap sebagai pengembang yang solutif, bukan sekadar pelaksana instruksi kode.
Relevansi UI/UX bagi Mahasiswa Teknik Industri
Menariknya, konsep UI/UX ini juga sangat relevan bagi mahasiswa Teknik Industri di Universitas Ma’soem. Dalam perancangan sistem informasi manufaktur, dashboard monitoring pabrik, atau perangkat lunak kendali mesin, desain antarmuka yang buruk bisa berakibat fatal. Bayangkan jika seorang operator pabrik salah menekan tombol darurat hanya karena tata letak yang membingungkan atau warna peringatan yang tidak terlihat jelas.
Di Fakultas Teknik, penerapan prinsip UX dalam sistem industri bertujuan untuk meminimalisir human error dan memaksimalkan efisiensi kerja. Sebuah sistem industri yang dirancang dengan prinsip UX yang baik akan memudahkan manajer produksi untuk membaca data performa mesin secara cepat dan akurat. Ini membuktikan bahwa desain yang baik bukan hanya soal kecantikan, melainkan soal keamanan dan produktivitas di dunia kerja nyata.
Memulai Langkah Menjadi Developer yang Berorientasi Pengguna
Bagi mahasiswa Universitas Ma’soem yang ingin mulai mendalami bidang ini, Anda tidak harus langsung menjadi ahli dalam seni lukis digital. Mulailah dengan mempelajari prinsip-prinsip dasar desain seperti hirarki visual, kontras, dan penggunaan ruang kosong (white space). Saat ini sudah banyak alat kolaborasi yang ramah bagi pengembang seperti Figma, yang memungkinkan Anda melihat kode CSS dari sebuah elemen desain secara instan.
Manfaatkanlah fasilitas laboratorium dan komunitas diskusi di kampus untuk menguji coba prototipe aplikasi Anda kepada rekan sesama mahasiswa. Terbukalah terhadap kritik dan masukan mengenai kemudahan penggunaan sistem yang Anda buat. Dengan terus melatih kepekaan terhadap kebutuhan manusia di balik layar, Anda akan tumbuh menjadi seorang pengembang perangkat lunak yang lengkap; ahli dalam baris kode, namun tetap peduli pada kenyamanan pengguna.
Masa depan teknologi bukan milik mereka yang hanya bisa membuat mesin pintar, melainkan milik mereka yang bisa membuat mesin tersebut mudah digunakan oleh siapa saja. Di Universitas Ma’soem, Anda memiliki wadah yang tepat untuk mengasah kedua kemampuan tersebut secara seimbang. Mari mulai membangun karya digital yang tidak hanya berfungsi dengan benar, tetapi juga memberikan pengalaman yang luar biasa dan bermanfaat bagi penggunanya!





