Bagi setiap mahasiswa tingkat akhir yang sedang melangkah ke tahapan penyusunan karya ilmiah, skripsi sering kali dipandang sebagai muara dari seluruh proses pembelajaran selama menempuh studi Sarjana (S1). Di dalam skripsi, mahasiswa dituntut untuk tidak sekadar menghafal teori atau memaparkan data, melainkan menunjukkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan sistematis dalam memecahkan suatu fenomena sosial, teknis, maupun bisnis.
Ketika mulai menyusun Bab I Pendahuluan, salah satu komponen yang paling krusial, strategis, sekaligus paling sering menimbulkan perdebatan saat bimbingan bersama dosen pembimbing adalah Rumusan Masalah. Banyak peneliti pemula terjebak dengan menganggap rumusan masalah hanyalah sekadar kumpulan pertanyaan acak di akhir latar belakang. Padahal, rumusan masalah adalah penentu arah, koridor utama, dan fondasi dasar yang akan mengendalikan seluruh jalannya riset yang Anda lakukan.
Memahami Pengertian Rumusan Masalah dalam Skripsi
Secara terminologi akademis, rumusan masalah adalah artikulasi tersurat mengenai pertanyaan-pertanyaan spesifik yang ingin dijawab oleh peneliti melalui kegiatan penelitian ilmiah. Rumusan masalah pada dasarnya merupakan pemetaan atau konversi dari fenomena riil dan kesenjangan (gap) yang telah dipaparkan dalam Latar Belakang Masalah menjadi bentuk pertanyaan akademis yang tajam, fokus, serta terukur.
Dalam penyusunan skripsi, latar belakang masalah bertugas menceritakan gambaran umum, fakta empiris, data kuantitatif, serta gap antara kondisi ideal (dassollen) dengan fakta lapangan yang terjadi (dassein). Setelah kesenjangan tersebut teridentifikasi dengan jelas, rumusan masalah hadir untuk menegaskan: “Lantas, aspek mana dari kesenjangan ini yang secara spesifik akan diteliti dan dicari solusinya?”
Para ahli metodologi penelitian sering menggambarkan rumusan masalah sebagai kompas jalan atau cetak biru (blueprint) penelitian. Tanpa rumusan masalah yang jelas dan terarah, sebuah skripsi akan kehilangan fokus, pembahasannya cenderung melebar tanpa tujuan, dan peneliti akan kesulitan dalam menentukan metode analisis data yang tepat.
Mengapa Rumusan Masalah Sangat Vital dalam Skripsi?
Peran rumusan masalah tidak berhenti pada Bab I semata. Dalam struktur karya ilmiah yang utuh, rumusan masalah bertindak sebagai poros utama yang menghubungkan seluruh bab dari awal hingga akhir. Berikut adalah alasan mengapa rumusan masalah memegang peranan yang sangat vital:
1. Menentukan Tujuan Penelitian
Antara rumusan masalah dan tujuan penelitian terdapat hubungan kausalitas dan simetri yang mutlak. Jika rumusan masalah terdiri dari dua poin pertanyaan, maka tujuan penelitian pun harus memuat dua poin jawaban yang selaras. Rumusan masalah bertanya tentang apa atau bagaimana, sedangkan tujuan penelitian menyatakan komitmen untuk mengetahui, menganalisis, atau menguji hal tersebut.
2. Membatasi Ruang Lingkup dan Fokus Riset
Sebuah fenomena bisnis atau sains di dunia nyata bisa sangat luas dan kompleks. Tanpa adanya pembatasan melalui rumusan masalah, peneliti akan mudah tergoda untuk menganalisis variabel-variabel lain yang tidak relevan. Rumusan masalah menetapkan batas tegas (boundaries) mengenai apa yang diteliti dan apa yang sengaja diabaikan.
3. Menuntun Pemilihan Teori pada Bab II
Peneliti tidak bisa asal memasukkan teori ke dalam Bab II (Tinjauan Pustaka). Seluruh teori, konsep, dan penelitian terdahulu yang dikutip dalam Bab II wajib memiliki relevansi langsung untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dieksplorasi pada rumusan masalah.
4. Menjadi Dasar Penentuan Metodologi pada Bab III
Apakah penelitian Anda harus menggunakan metode kuantitatif atau kualitatif? Apakah butuh uji regresi linier, uji beda, atau pendekatan analisis deskriptif kualitatif? Jawabannya ditentukan sepenuhnya oleh kalimat dalam rumusan masalah Anda. Pertanyaan yang menanyakan “seberapa besar pengaruh” akan menuntun pada analisis statistik kuantitatif, sementara pertanyaan “mengapa dan bagaimana proses” akan mengarahkan riset ke pendekatan kualitatif.
5. Menjadi Tolok Ukur Kesimpulan pada Bab V
Penguji skripsi dalam sidang akhir akan selalu membandingkan antara Bab I dan Bab V. Kesimpulan pada Bab V dikatakan baik dan sah apabila secara presisi mampu menjawab setiap pertanyaan yang diajukan dalam rumusan masalah di Bab I. Jika ada rumusan masalah yang tidak terjawab pada bab kesimpulan, maka skripsi tersebut dianggap cacat secara metodologis.
Bentuk-bentuk Rumusan Masalah Berdasarkan Jenis Penelitian
Dalam praktik metodologi penelitian skripsi, bentuk rumusan masalah sangat dipengaruhi oleh pendekatan dan jenis riset yang digunakan. Secara garis besar, rumusan masalah dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama:
A. Rumusan Masalah Deskriptif
Rumusan masalah deskriptif adalah pertanyaan penelitian yang berkenaan dengan keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri tanpa dihubungkan dengan variabel lain).
- Tujuan: Untuk mengetahui, menggambarkan, atau memetakan kondisi suatu variabel secara mendalam.
- Contoh (Bidang Bisnis Digital):
- “Bagaimana tingkat adopsi pembayaran digital berbasis QRIS pada pelaku UMKM di Kabupaten Sumedang?”
- “Seberapa tinggi efektivitas kampanye konten edukasi di media sosial Instagram terhadap brand awareness kampus?”
B. Rumusan Masalah Komparatif
Rumusan masalah komparatif adalah pertanyaan penelitian yang bersifat membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda.
- Tujuan: Untuk menemukan ada atau tidaknya perbedaan yang signifikan antara dua kelompok atau lebih.
- Contoh (Bidang Teknik Industri & Manajemen):
- “Apakah terdapat perbedaan efisiensi waktu produksi yang signifikan antara sebelum dan sesudah penerapan sistem manajemen kerja Lean Manufacturing?”
- “Bagaimana perbandingan tingkat kepuasan pengguna antara aplikasi mobile banking BUMN A dan BUMN B?”
C. Rumusan Masalah Asosiatif (Kausal / Hubungan)
Rumusan masalah asosiatif adalah pertanyaan penelitian yang bersifat menanyakan hubungan atau pengaruh antara dua variabel atau lebih. Bentuk ini paling sering ditemukan pada riset kuantitatif S1.
- Tujuan: Untuk menguji pengaruh, tingkat hubungan, atau daya prediksi variabel independen (bebas) terhadap variabel dependen (terikat).
- Contoh (Bidang Sistem Informasi & Perbankan Syariah):
- “Seberapa besar pengaruh Kualitas Antarmuka Pengguna (UI) dan Keamanan Transaksi secara simultan terhadap Loyalitas Nasabah pada aplikasi mobile banking syariah?”
- “Apakah Persepsi Kemudahan Berbagi Informasi memediasi hubungan antara Penerapan Sistem Informasi Manajemen dengan Kinerja Karyawan?”
Kriteria Rumusan Masalah yang Baik dan Bernilai Akademis
Tidak semua pertanyaan bisa dikategorikan sebagai rumusan masalah yang baik untuk tingkat perkuliahan Sarjana. Dosen pembimbing dan tim penguji akan menilai rumusan masalah Anda berdasarkan kriteria-kriteria baku berikut:
| Kriteria | Penjelasan dan Standar Kelayakan |
| Spesifik & Jelas (Specific) | Kalimat rumusan tidak boleh ambigu, menggunakan istilah baku, dan tidak menimbulkan multitafsir bagi pembaca. |
| Memiliki Nilai Kebaruan (Novelty) | Pertanyaan yang diajukan tidak sekadar menanyakan hal yang sudah menjadi fakta umum (common sense) atau sudah selesai dijawab oleh ribuan riset sebelumnya tanpa variabel pembeda. |
| Dapat Diuji secara Ilmiah (Testable/Researchable) | Masalah yang dirumuskan harus memiliki ketersediaan data riil di lapangan dan variabelnya dapat diukur secara sistematis (baik dengan skala statistik maupun indikator kualitatif). |
| Feasible (Dapat Direalisasikan) | Rumusan masalah harus memperhitungkan keterbatasan waktu penyusunan skripsi, ketersediaan biaya, akses ke lokasi/responden, serta tingkat kesulitan metode bagi mahasiswa S1. |
| Memiliki Manfaat Praktis & Teoretis | Jawaban atas rumusan masalah tersebut harus memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan (theoretical value) atau pemecahan masalah operasional di lembaga/perusahaan (practical value). |
Panduan Praktis: Cara Menyusun Rumusan Masalah dalam 4 Langkah
Bagi mahasiswa yang sering mengalami writer’s block saat menyusun Bab I, berikut adalah tahapan sistematis untuk merumuskan pertanyaan penelitian dari latar belakang:
Langkah 1: Identifikasi Masalah Utama dan Kesenjangan (Gap)
Mulailah dengan mencermati fenomena riil di lokasi penelitian. Temukan titik ketidaksesuaian antara apa yang seharusnya terjadi dengan fakta di lapangan.
- Kasus: Sebuah perusahaan e-commerce telah mengeluarkan biaya pemasaran digital (digital ads) yang sangat besar, tetapi angka penjualan bulanan stagnan.
- Gap: Biaya promosi naik pesat, namun conversion rate transaksi tidak ikut meningkat.
Langkah 2: Tentukan Variabel atau Fokus Utama
Dari fenomena di atas, pilih variabel-variabel kunci yang diperkirakan saling berhubungan berdasarkan kajian teori awal.
- Variabel Bebas (X_1): Targeting Ads (Pemasaran Digital Terarah)
- Variabel Bebas (X_2): User Experience (Pengalaman Pengguna Aplikasi)
- Variabel Terikat (Y): Purchase Decision (Keputusan Pembelian)
Langkah 3: Tentukan Bentuk Hubungan Riset
Tentukan apakah Anda hanya ingin menggambarkan fenomena tersebut (deskriptif) atau menguji pengaruh keterkaitan antar variabel (asosiatif kausal).
Langkah 4: Formula Kontrol Kalimat Tanya Akademis
Susun pertanyaan menggunakan kata tanya yang terukur seperti “Bagaimana…”, “Seberapa besar pengaruh…”, atau “Apakah terdapat perbedaan…”. Hindari kata tanya yang jawabannya hanya “Ya” atau “Tidak” tanpa membutuhkan analisis ilmiah.
Kesalahan Fatal Mahasiswa dalam Menyusun Rumusan Masalah
Dalam proses bimbingan skripsi, terdapat beberapa kesalahan umum yang sering kali membuat rumusan masalah ditolak atau diminta untuk direvisi total oleh dosen pembimbing:
- Pertanyaan Terlalu Dangkal (Non-Academic Question): Menanyakan hal-hal administratif yang bisa dijawab hanya dengan membaca brosur atau wawancara singkat 1 menit. Contoh Salah: “Apa saja produk yang dijual di Perusahaan X?” (Ini bukan rumusan masalah ilmiah, melainkan daftar produk).
- Tidak Selaras dengan Latar Belakang: Rumusan masalah tiba-tiba muncul menanyakan variabel Z, padahal dalam paragraf-paragraf latar belakang dari awal tidak pernah membahas atau melandasi pentingnya variabel Z tersebut.
- Menggunakan Kata Tanya yang Kurang Tepat: Menggunakan kata tanya “Mengapa” pada riset kuantitatif ketat tanpa indikator kualitatif, sehingga membingungkan arah teknik analisis data statistik yang akan dipakai.
- Terlalu Luas dan Mengawang-awang: Merumuskan masalah yang cakupannya terlalu raksasa untuk skala skripsi S1, misalnya menanyakan “Bagaimana strategi menghapuskan kemiskinan di seluruh Indonesia?” tanpa ada lokus dan batasan yang spesifik.
Menyiapkan Kualitas SDM Berdaya Saing Bersama Ma’soem University
Penyusunan karya ilmiah seperti skripsi membutuhkan daya analitis yang tajam, pemahaman metodologi penelitian yang kuat, serta iklim akademik yang suportif dengan bimbingan dosen terstruktur sejak awal masa perkuliahan. Universitas Ma’soem yang berlokasi strategis di kawasan pendidikan Jatinangor-Cileunyi (perbatasan Bandung dan Sumedang), berkomitmen penuh untuk mencetak lulusan berdaya saing tinggi, berjiwa entrepreneur, serta berkarakter mulia melalui Pijakan Karakter Utama (cageur, bageur, pinter).
Didukung oleh kurikulum berbasis kebutuhan industri modern, fasilitas perpustakaan digital terpadu, laboratorium komputer dan teknik yang lengkap, serta bimbingan akademik yang responsif dari dosen-dosen berpengalaman, Ma’soem University siap membimbing mahasiswa melakukan riset ilmiah yang bernilai tinggi dan lulus tepat waktu melalui berbagai pilihan program studi unggulan:
- Bisnis Digital: Menggembleng mahasiswa dalam analisis data bisnis, strategi e-commerce, digital marketing, analisis riset pasar, serta ekosistem bisnis modern.
- Sistem Informasi: Membekali mahasiswa dengan keahlian tata kelola IT, audit sistem informasi, analisis data bisnis, serta manajemen proyek digital.
- Teknik Informatika: Mengasah keahlian rekayasa perangkat lunak, integrasi sistem, kecerdasan buatan (AI), dan keamanan siber (cybersecurity).
- Teknik Industri: Membekali mahasiswa dengan keahlian perancangan sistem kerja, efisiensi operasional, manajemen rantai pasok (supply chain), serta K3 industri.
- Perbankan Syariah: Membekali mahasiswa dengan keahlian manajemen keuangan, analisis pembiayaan, kepatuhan regulasi, dan operasional keuangan korporasi.
Selain bidang bisnis, komputer, dan teknik, Ma’soem University menyediakan berbagai pilihan program studi prospektif lainnya seperti Agribisnis, Bimbingan Konseling, dan Pendidikan Bahasa Inggris. Bagi karyawan atau profesional yang ingin melanjutkan studi S1 untuk peningkatan jenjang karier dan kualifikasi akademik, tersedia skema perkuliahan fleksibel Hybrid Class No Ribet serta beragam skema Beasiswa Pendidikan.
Informasi pendaftaran mahasiswa baru dapat diakses melalui portal resmi pmb.masoemuniversity.com, WhatsApp di +62 851 8563 4253, serta Instagram @masoem_university.



