Ketika mendengar kata pemrograman, sebagian orang langsung membayangkan rumus, angka, dan berbagai simbol yang terlihat rumit. Akibatnya, muncul pertanyaan: apakah belajar pemrograman harus bisa matematika terlebih dahulu? Jawabannya, tidak selalu.
Pemrograman memang dapat menggunakan konsep matematika tertentu, tetapi kebutuhan matematikanya bergantung pada bidang yang dipelajari. Untuk membuat website sederhana, misalnya, seseorang lebih banyak berhadapan dengan logika, struktur kode, dan pemecahan masalah daripada rumus matematika yang kompleks.
Hal yang justru lebih penting bagi pemula adalah memahami bagaimana sebuah masalah dapat diubah menjadi langkah-langkah yang sistematis. Jadi, kalau selama sekolah merasa kurang percaya diri dengan matematika, bukan berarti pintu untuk belajar coding otomatis tertutup.
Apa yang Sebenarnya Dibutuhkan Saat Belajar Pemrograman?
Pemrograman pada dasarnya merupakan proses memberikan instruksi kepada komputer agar melakukan sesuatu sesuai kebutuhan. Karena itu, kemampuan berpikir logis menjadi salah satu bekal yang cukup penting.
Beberapa kemampuan yang dapat membantu saat mulai belajar antara lain:
- memahami pola dan hubungan sebab-akibat,
- memecah masalah menjadi bagian yang lebih kecil,
- mengikuti urutan instruksi,
- teliti membaca kode,
- dan terbiasa mencoba ketika menemukan kesalahan.
Misalnya, ketika membuat program untuk menghitung total belanja, memang terdapat operasi matematika sederhana. Namun, tantangannya bukan hanya menghitung angka. Programmer juga perlu menentukan apa yang terjadi ketika pengguna memasukkan data, bagaimana program memprosesnya, dan bagaimana hasil akhirnya ditampilkan.
Di sinilah kemampuan berpikir sistematis mulai terasa lebih penting daripada sekadar hafal rumus.
Matematika Seperti Apa yang Bisa Digunakan?
Tidak semua bidang pemrograman membutuhkan tingkat matematika yang sama. Pada tahap dasar, seseorang mungkin hanya bertemu dengan operasi seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, perbandingan, atau persentase.
Contohnya dapat ditemukan pada berbagai program sederhana:
- menghitung total harga produk,
- menentukan diskon,
- menghitung nilai rata-rata,
- mengatur jumlah stok,
- membandingkan dua angka.
Sementara itu, matematika yang lebih kompleks dapat menjadi lebih relevan pada bidang tertentu, seperti machine learning, data science, computer graphics, simulasi, atau pengembangan algoritma tertentu.
Artinya, kebutuhan matematika akan mengikuti bidang pemrograman yang dipilih. Tidak perlu menguasai semuanya sejak hari pertama.
Kalau Lemah Matematika, Apakah Tetap Bisa Coding?
Bisa. Kesulitan matematika tidak otomatis membuat seseorang kesulitan memahami pemrograman. Bahkan, ada pemula yang awalnya tidak percaya diri dengan angka tetapi dapat berkembang setelah terbiasa menyusun logika program.
Masalah yang sering terjadi justru muncul karena terlalu cepat menyimpulkan, “Saya tidak jago matematika, berarti saya tidak cocok belajar coding.” Anggapan tersebut dapat membuat seseorang berhenti sebelum benar-benar mencoba.Solusinya adalah memulai dari konsep yang sederhana. Jangan langsung mengejar bahasa pemrograman yang kompleks. Pahami terlebih dahulu bagaimana variabel menyimpan data, bagaimana kondisi bekerja, bagaimana perulangan digunakan, serta bagaimana sebuah fungsi menjalankan tugas tertentu. Jika menemui konsep matematika yang belum dipahami, pelajari bagian yang memang diperlukan. Jadi, belajar matematika dan pemrograman dapat berjalan beriringan sesuai kebutuhan.
Bagaimana Cara Belajar Pemrograman untuk Pemula?
Belajar pemrograman akan terasa lebih ringan jika dilakukan secara bertahap. Daripada hanya membaca teori, pemula dapat langsung membuat proyek kecil agar konsep yang dipelajari terasa nyata.
Urutannya dapat dimulai dari:
- memahami dasar algoritma dan logika,
- mengenal variabel serta tipe data,
- mempelajari percabangan,
- mencoba perulangan,
- mengenal fungsi,
- kemudian membuat proyek sederhana.
Misalnya, setelah mempelajari percabangan, cobalah membuat program yang menentukan apakah seseorang sudah memenuhi batas usia tertentu. Setelah memahami perulangan, buat program sederhana untuk menampilkan daftar angka.
Kesalahan saat coding juga bukan sesuatu yang harus ditakuti. Pesan error justru dapat menjadi petunjuk untuk mengetahui bagian program yang perlu diperbaiki.
Saat Belajar Sendiri Terasa Membingungkan, Apa Solusinya?
Belajar dari internet memang memberikan banyak sumber, tetapi pemula terkadang justru bingung menentukan materi yang harus dipelajari lebih dahulu. Tutorial yang terlalu cepat, istilah teknis yang belum familiar, atau error yang tidak diketahui penyebabnya dapat membuat proses belajar terasa berat.
Pada kondisi seperti ini, belajar dalam lingkungan akademik dapat menjadi salah satu pilihan. Ma’soem University menyediakan program studi S1 Sistem Informasi yang dapat menjadi lingkungan untuk mempelajari berbagai konsep sistem informasi dan teknologi secara lebih terarah. Pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan kode, tetapi juga dapat membantu mahasiswa memahami bagaimana teknologi digunakan untuk menyelesaikan kebutuhan dan permasalahan tertentu. Bagi calon mahasiswa yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai program studi maupun proses perkuliahan, Admin Univ Ma’soem dapat dihubungi melalui +62 851 8563 4253.
Tidak Harus Jago Matematika, yang Penting Mau Memahami Logika
Pada akhirnya, pertanyaan “Apakah belajar pemrograman harus bisa matematika terlebih dahulu?” tidak perlu menjadi alasan untuk menunda belajar coding. Matematika memang memiliki peran dalam bidang pemrograman tertentu, tetapi pemula tidak harus menguasai matematika tingkat lanjut sebelum menulis kode pertama.
Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan berpikir logis, berlatih memecahkan masalah, dan tidak mudah menyerah ketika kode menghasilkan error.
Kalau selama ini merasa, “Aku nggak jago matematika, mungkin coding bukan buatku,” coba ubah pertanyaannya menjadi, “Masalah sederhana apa yang bisa aku buat menjadi sebuah program?” Dari pertanyaan kecil itulah proses belajar bisa dimulai.




