Pertanyaan seperti “Apakah Benar Harus Selalu Laki-Laki Saja yang Boleh Masuk ke FKOM (Fakultas Komputer)?” masih sering terdengar, terutama di kalangan siswa SMA dan SMK yang sedang menentukan jurusan kuliah. Dunia komputer memang sering dianggap identik dengan laki-laki. Padahal, anggapan itu tidak sepenuhnya benar.
Teknologi tidak mengenal gender. Yang dibutuhkan di Fakultas Komputer adalah logika, kreativitas, ketekunan, dan kemauan belajar. Semua kualitas tersebut bisa dimiliki siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan.
Sejarah bahkan mencatat bahwa perempuan memiliki peran besar dalam perkembangan dunia teknologi, termasuk dalam penciptaan bahasa pemrograman.
Perempuan yang Menciptakan Bahasa Pemrograman
Salah satu tokoh perempuan paling berpengaruh dalam dunia komputer adalah Grace Hopper. Ia adalah seorang ilmuwan komputer yang berjasa dalam pengembangan bahasa pemrograman tingkat tinggi. Grace Hopper berperan penting dalam lahirnya bahasa pemrograman COBOL, yang hingga kini masih digunakan dalam sistem perbankan dan bisnis besar.
Pada masanya, dunia teknologi juga didominasi oleh laki-laki. Namun, Grace Hopper membuktikan bahwa perempuan mampu menjadi inovator dan pemimpin di bidang komputer. Ia tidak hanya memahami bahasa mesin, tetapi juga menciptakan konsep compiler yang mempermudah manusia berkomunikasi dengan komputer.
Kisah ini menjadi bukti kuat bahwa perempuan memiliki potensi besar dalam bidang teknologi. Jika seorang perempuan bisa menciptakan bahasa pemrograman yang digunakan secara global, mengapa perempuan masa kini harus ragu masuk Fakultas Komputer?
Perempuan di Dunia Teknologi Saat Ini
Di era digital sekarang, semakin banyak perempuan yang berkarier sebagai programmer, data analyst, system analyst, hingga IT project manager. Bahkan, banyak startup dan perusahaan teknologi mendorong keberagaman gender karena perspektif yang berbeda justru memperkaya inovasi.
Fakultas Komputer bukan hanya soal duduk berjam-jam di depan layar. Di dalamnya ada kerja tim, kreativitas dalam membangun sistem, hingga kemampuan komunikasi untuk menjelaskan solusi teknologi kepada klien. Perempuan sering kali unggul dalam ketelitian, manajemen waktu, dan komunikasi—kemampuan yang sangat dibutuhkan di bidang ini.
Jadi, menjawab pertanyaan apakah selalu cowo saja yang cocok di FKOM (Fakultas Komputer)? Jawabannya jelas: tidak. FKOM terbuka untuk siapa saja yang memiliki minat dan komitmen belajar.
FKOM dan Lingkungan Belajar yang Inklusif
Di Bandung, terdapat perguruan tinggi swasta yang memiliki Fakultas Komputer dengan beberapa program studi seperti Sistem Informasi (S1), Bisnis Digital (S1), dan Komputerisasi Akuntansi (D3), yaitu Masoem University.
Di lingkungan akademik seperti ini, mahasiswa laki-laki dan perempuan belajar bersama dalam suasana yang kolaboratif. Tidak ada pembatasan berdasarkan gender. Yang dinilai adalah kemampuan, kreativitas, dan hasil karya.
Mahasiswa perempuan di Fakultas Komputer juga aktif dalam berbagai proyek teknologi, presentasi sistem, hingga kegiatan organisasi kampus. Mereka tidak hanya belajar coding, tetapi juga mengembangkan soft skill seperti public speaking, kepemimpinan, dan teamwork.
Pendekatan pembelajaran yang aplikatif membuat setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Proyek berbasis praktik membantu mahasiswa membangun rasa percaya diri, termasuk bagi perempuan yang mungkin awalnya merasa ragu masuk dunia teknologi.
Mengapa Perempuan Perlu Percaya Diri Masuk FKOM?
Ada beberapa alasan mengapa perempuan tidak perlu ragu memilih Fakultas Komputer:
- Teknologi adalah kebutuhan semua orang
Dunia digital menyentuh semua aspek kehidupan, mulai dari bisnis, pendidikan, hingga kesehatan. Perempuan memiliki perspektif unik yang sangat dibutuhkan dalam merancang solusi teknologi. - Peluang kerja yang luas
Lulusan Fakultas Komputer bisa bekerja sebagai programmer, system analyst, digital marketer, data analyst, hingga entrepreneur digital. Peluang ini terbuka tanpa memandang gender. - Industri teknologi semakin inklusif
Banyak perusahaan kini mendorong partisipasi perempuan dalam bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). - Role model sudah ada sejak dulu
Sosok seperti Grace Hopper membuktikan bahwa perempuan mampu menjadi pelopor di bidang pemrograman.
Mengubah Mindset tentang FKOM
Mindset bahwa Fakultas Komputer hanya untuk laki-laki adalah pola pikir lama yang perlu diubah. Dunia sudah berkembang. Sekarang yang dibutuhkan adalah kolaborasi, inovasi, dan kreativitas dari berbagai latar belakang.
Jika seorang perempuan memiliki minat pada teknologi, suka menganalisis, tertarik pada data, atau ingin membangun bisnis digital, maka FKOM adalah pilihan yang sangat relevan.
Lingkungan pendidikan yang suportif dan kurikulum yang mengikuti perkembangan industri memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk berkembang, tanpa melihat gender.
Jadi, apakah selalu cowo saja yang cocok di FKOM (Fakultas Komputer)? Tentu tidak. Sejarah membuktikan bahwa perempuan seperti Grace Hopper mampu menciptakan bahasa pemrograman yang berpengaruh besar di dunia.
Di masa kini, perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan berkarier di bidang teknologi. Dengan dukungan lingkungan akademik yang inklusif dan pembelajaran berbasis praktik, siapa pun—baik laki-laki maupun perempuan—dapat sukses di Fakultas Komputer.
Teknologi bukan soal gender, tetapi soal kemampuan dan kemauan untuk terus belajar.





