Di balik aroma khas yang menyegarkan semangkuk soto atau bakso, daun seledri menyimpan cerita ekonomi yang menarik. Selama ini dikenal sebagai “penghias” hidangan, sayuran hijau ini sebenarnya adalah komoditas dengan permintaan yang stabil dan terus terdorong oleh mesin pertumbuhan terbesar ekonomi Indonesia: industri kuliner. Lonjakan jumlah restoran, kafe, dan UMKM kuliner, ditambah dengan perubahan tren konsumsi, secara langsung menciptakan pasar yang semakin besar dan beragam bagi daun seledri. Artikel ini akan mengupas bagaimana dinamika industri kuliner menjadi pendorong utama permintaan seledri, serta peluang yang terbuka bagi para petani dan pelaku usaha di dalamnya.
Pertumbuhan Industri Kuliner: Mesin Pendorong Utama
Industri makanan dan minuman (mamin) di Indonesia sedang berada dalam fase pertumbuhan yang sangat positif. Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) mencatat pertumbuhan industri ini mencapai 6,38 persen sepanjang tahun 2025, dan pada triwulan pertama 2026 angkanya meningkat menjadi 7,04 persen . Angka ini melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,61 persen, menegaskan posisi industri mamin sebagai salah satu sektor penopang utama ekonomi . Pertumbuhan ini bahkan diproyeksikan akan terus berlanjut, dengan target mencapai 7 persen per tahun hingga 2029 .
Peran sektor ini sangat vital. Industri makanan dan minuman menyumbang sekitar 7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan sekitar 42 persen terhadap PDB nonmigas . Jika dilihat lebih spesifik, subsektor penyediaan akomodasi dan makan minum (yang mencakup restoran, kafe, dan jasa boga) mencatat pertumbuhan tertinggi pada triwulan I 2026, yakni 13,14 persen secara tahunan . Laporan Food Service – Hotel, Restaurant and Institutional Annual 2025 bahkan menunjukkan bahwa nilai pasar hotel, restoran, dan institusi (HRI) Indonesia mencapai USD 29 miliar pada 2024, menjadikannya pasar foodservice terbesar di Asia Tenggara .
Ledakan ini tidak lepas dari peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner. Menjadi tulang punggung perekonomian nasional, UMKM menyumbang sekitar 61,9 persen terhadap PDB, dengan jumlah unit usaha melampaui 65 juta pada pertengahan 2025 . Dengan lebih dari 65 juta unit usaha, mayoritas di antaranya bergerak di bidang kuliner, kebutuhan bahan baku segar seperti seledri menjadi kebutuhan harian yang besar .
Permintaan Multisektor dan Stabilitas Pasar
Pertumbuhan industri kuliner menciptakan permintaan seledri yang stabil dan luas. Kebutuhan ini datang dari berbagai lini, tidak hanya dari dapur rumah tangga. Pelaku usaha seperti restoran, hotel, jasa katering, pasar tradisional, hingga toko sayur modern menjadi konsumen rutin yang membutuhkan pasokan seledri dalam jumlah besar dan berkesinambungan . Penggunaan seledri yang hampir universal dalam berbagai hidangan populer Indonesia—seperti soto, bakso, mi ayam, nasi goreng, dan sup—menciptakan permintaan yang stabil sepanjang tahun .
Kondisi ini menjadikan budidaya seledri sebagai usaha pertanian yang layak dengan perputaran modal yang relatif cepat. Masa panen yang singkat dibandingkan beberapa komoditas hortikultura lainnya memungkinkan petani untuk lebih cepat mendapatkan kembali modalnya . Stabilitas ini juga tercermin dari meningkatnya harga pada momen-momen tertentu, seperti menjelang Lebaran. Di Bangka, misalnya, harga daun seledri melonjak hingga Rp350.000 – Rp400.000 per kilogram akibat lonjakan permintaan untuk hidangan berkuah khas Lebaran, sementara pasokan terbatas . Fenomena ini menunjukkan betapa tingginya ketergantungan pasar pada komoditas ini.
Inovasi Kuliner dan Perluasan Fungsi Seledri
Industri kuliner tidak hanya mendorong permintaan dalam volume besar, tetapi juga memperluas fungsi dan nilai guna seledri. Tren kuliner viral yang dipengaruhi media sosial sepanjang 2025-2026 mendorong para pelaku UMKM untuk menciptakan menu-menu unik, praktis, dan memiliki daya tarik visual yang kuat . Karakter menu yang mudah diproduksi dan “fotogenik” menjadi kunci viralitas di platform seperti TikTok dan Instagram . Dalam konteks ini, seledri tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi juga mulai dieksplorasi sebagai bahan utama atau pewarna alami.
Inovasi-inovasi kuliner pun bermunculan. Daun seledri, yang selama ini dikenal sebagai pelengkap masakan, kini diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah . Sebuah penelitian mengkaji penggunaan daun seledri sebagai bahan tambahan dalam pembuatan cookies putri salju, yang bertujuan untuk memberikan warna hijau alami dan meningkatkan kandungan serat serta nilai gizinya . Penelitian lain mengeksplorasi penggunaan ekstrak seledri dalam pembuatan mie basah, yang terbukti memengaruhi aroma dan tekstur produk . Inovasi semacam ini menunjukkan bahwa seledri memiliki potensi untuk menjadi bahan baku yang lebih beragam, tidak hanya untuk hidangan tradisional tetapi juga untuk produk kuliner modern dan camilan sehat.
Dinamika Lain: Gaya Hidup Sehat dan Industri Pendukung
Meskipun fokus utama adalah industri kuliner, dua faktor lain turut memperkuat permintaan. Pertama, tren gaya hidup sehat yang meningkat. Seledri, dengan kandungan gizinya yang kaya akan vitamin A, C, K, kalium, kalsium, dan antioksidan, mulai diakui sebagai salah satu “superfood” alami . Hal ini mendorong konsumsinya tidak hanya sebagai sayuran, tetapi juga sebagai bahan jus, salad, dan minuman herbal, yang memperluas pangsa pasar .
Kedua, pertumbuhan sektor pariwisata dan hospitality. Menteri Pariwisata menyebut pengembangan industri makanan dan minuman sebagai kunci untuk meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan . Pertumbuhan hotel, restoran, dan kafe yang melayani wisatawan domestik dan mancanegara secara langsung meningkatkan kebutuhan pasokan bahan baku kuliner, termasuk seledri. Ekspansi usaha kuliner multibrand dan pembukaan gerai di bandara-bandara internasional menunjukkan bahwa permintaan ini akan terus meningkat .
Tantangan dan Peluang bagi Petani
Tingginya permintaan dari industri kuliner membawa dampak langsung pada rantai pasok seledri. Petani menghadapi peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, pasar yang luas dan stabil memberikan kepastian untuk menjual hasil panen . Kemitraan dengan pelaku usaha kuliner, hotel, atau katering dapat menjadi strategi ampuh untuk memperoleh pembeli tetap . Di sisi lain, mereka harus menghadapi tantangan seperti serangan hama, penyakit daun, dan perubahan cuaca yang dapat memengaruhi produktivitas .
Penerapan budidaya yang baik (Good Agricultural Practices/GAP), penggunaan benih unggul, dan sanitasi lahan menjadi kunci untuk menghasilkan panen yang berkualitas dan memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat . Bagi petani, ini adalah waktu yang tepat untuk berinvestasi dalam peningkatan kualitas dan kapasitas produksi, mengingat prospek industri kuliner yang masih sangat cerah.
Kesimpulan
Industri kuliner adalah mesin penggerak utama permintaan daun seledri di Indonesia. Pertumbuhan yang solid, didorong oleh ekspansi UMKM dan perubahan tren konsumsi, menciptakan pasar yang besar, beragam, dan stabil. Seledri tidak lagi hanya pelengkap, tetapi telah menjadi komoditas penting yang menghubungkan sektor pertanian dengan dinamika ekonomi yang lebih luas. Bagi petani dan pelaku usaha, memahami dan merespons kebutuhan industri kuliner yang terus berkembang adalah kunci untuk memanfaatkan peluang ini secara maksimal. Ke depan, dengan prospek industri makanan dan minuman yang terus positif, permintaan akan seledri dipastikan akan tetap menjadi cerita sukses di tengah geliat ekonomi nasional.




