Sekolah yang berada di sekitar gunung api memiliki tanggung jawab lebih dalam memastikan keselamatan warga sekolah. Aktivitas gunung api dapat berubah dari waktu ke waktu, sementara siswa dan guru tetap menjalankan kegiatan belajar seperti biasa. Karena itu, kesiapsiagaan bencana perlu menjadi bagian dari pengelolaan sekolah, bukan hanya dilakukan ketika status gunung api meningkat.
Salah satu aspek penting dalam kesiapsiagaan tersebut adalah jalur evakuasi sekolah. Jalur ini perlu direncanakan berdasarkan kondisi lingkungan, potensi bahaya, jumlah warga sekolah, serta arahan dari pihak berwenang.
Mengidentifikasi Risiko di Lingkungan Sekolah
Langkah pertama adalah mengenali potensi bahaya yang mungkin terjadi. Erupsi gunung api tidak hanya berkaitan dengan lava, tetapi juga dapat menimbulkan abu vulkanik, awan panas, lontaran material, serta aliran lahar.
Sekolah perlu mengetahui apakah lokasinya berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Api dan memahami karakteristik ancaman di wilayah tersebut. Pedoman sekolah aman dari bencana yang diterbitkan BNPB juga memasukkan lokasi sekolah terhadap KRB, potensi aliran lahar, riwayat dampak erupsi, serta kesiapan pelatihan dan simulasi sebagai bagian yang perlu diperhatikan. (BNPB)
Pemetaan sederhana dapat dilakukan melalui beberapa pertanyaan:
- Di mana lokasi sekolah terhadap gunung api?
- Apakah terdapat sungai atau lembah yang berpotensi menjadi jalur lahar?
- Jalan mana yang dapat digunakan untuk keluar dari kawasan sekolah?
- Apakah ada jalan yang berpotensi tertutup atau sulit dilalui?
- Di mana lokasi aman untuk berkumpul?
- Berapa jumlah siswa, guru, dan tenaga kependidikan yang harus dievakuasi?
Informasi tersebut menjadi dasar sebelum sekolah menentukan jalur evakuasi.
Menentukan Jalur Evakuasi yang Mudah Dipahami
Jalur evakuasi tidak cukup hanya dibuat di atas kertas. Rute harus dapat digunakan oleh seluruh warga sekolah dalam kondisi darurat.
Sekolah perlu memilih rute yang relatif mudah dilalui dan tidak mengarah ke area yang telah diidentifikasi sebagai zona berbahaya. Rute juga sebaiknya memiliki alternatif apabila jalur utama tidak dapat digunakan.
Peta evakuasi dapat ditempatkan di lokasi yang sering dilalui warga sekolah, seperti:
- ruang kelas;
- ruang guru;
- kantor tata usaha;
- perpustakaan;
- aula;
- kantin;
- koridor sekolah;
- area dekat pintu keluar.
Tanda panah, simbol titik kumpul, dan petunjuk arah perlu dibuat sederhana agar dapat dipahami siswa dari berbagai tingkat usia.
Menentukan Titik Kumpul
Jalur evakuasi harus memiliki tujuan yang jelas. Karena itu, sekolah perlu menentukan titik kumpul atau assembly point yang aman dan cukup luas untuk menampung seluruh warga sekolah.
Pemilihan titik kumpul tidak boleh hanya berdasarkan area yang terlihat luas. Lokasinya perlu mempertimbangkan potensi bahaya di sekitar sekolah. Jika terdapat kemungkinan aliran lahar, misalnya, lokasi di sekitar alur sungai perlu mendapat perhatian khusus.
Titik kumpul juga perlu memiliki akses yang mudah dijangkau dari berbagai ruang sekolah. Setelah seluruh siswa berkumpul, guru dapat melakukan pendataan untuk memastikan tidak ada siswa yang tertinggal.
Membuat Prosedur Evakuasi untuk Siswa
Anak-anak dapat mengalami kepanikan ketika menghadapi suara peringatan atau situasi yang tidak biasa. Karena itu, prosedur evakuasi harus dibuat sederhana dan dilatih secara berkala.
Guru dapat memberikan arahan seperti:
- Tetap tenang dan mendengarkan instruksi.
- Meninggalkan ruangan sesuai jalur yang telah ditentukan.
- Tidak berlari secara berlebihan atau saling mendorong.
- Mengikuti guru atau petugas yang bertanggung jawab.
- Menuju titik kumpul yang telah ditentukan.
- Tetap berada bersama kelompok kelas.
- Menunggu pendataan dan instruksi berikutnya.
Prosedur tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi sekolah dan arahan kebencanaan dari pemerintah daerah serta instansi terkait.
Simulasi Membantu Siswa Mengenali Jalur
Jalur evakuasi akan sulit digunakan secara efektif apabila siswa tidak pernah mempraktikkannya. Simulasi menjadi bagian penting untuk mengenalkan rute sekaligus melihat masalah yang mungkin tidak terlihat ketika sekolah hanya membuat peta.
Saat simulasi, sekolah dapat mengevaluasi beberapa hal, seperti:
- waktu yang diperlukan untuk mengosongkan ruang kelas;
- kepadatan pada pintu keluar;
- siswa yang membutuhkan pendampingan;
- kejelasan tanda evakuasi;
- kondisi jalur alternatif;
- kemampuan guru melakukan pendataan;
- komunikasi antara sekolah dan pihak terkait.
BNPB juga menempatkan pelatihan dan simulasi sebagai bagian dari kesiapsiagaan sekolah terhadap bencana gunung api. (BNPB)
Simulasi sebaiknya tidak dilakukan hanya sekali. Pengulangan membantu siswa baru, guru baru, maupun tenaga kependidikan memahami prosedur yang berlaku.
Peran Guru dalam Kesiapsiagaan Bencana
Guru bukan hanya bertugas membawa siswa keluar dari kelas. Mereka juga perlu memahami pembagian tugas ketika keadaan darurat terjadi.
Sekolah dapat menentukan guru atau tenaga kependidikan yang bertanggung jawab pada beberapa fungsi, seperti:
- memberikan instruksi evakuasi;
- memimpin kelompok siswa;
- memeriksa ruang tertentu;
- membantu siswa yang membutuhkan perhatian khusus;
- melakukan pendataan di titik kumpul;
- berkomunikasi dengan pihak sekolah dan orang tua;
- membantu penyampaian informasi resmi.
Pembagian tugas yang jelas dapat mengurangi kebingungan ketika banyak orang harus bergerak dalam waktu yang sama.
Mengajarkan Literasi Kebencanaan Sejak di Kelas
Kesiapsiagaan tidak harus selalu dilakukan melalui simulasi. Materi tentang gunung api juga dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran sesuai mata pelajaran dan tingkat pendidikan.
Siswa dapat mempelajari alasan gunung api dapat mengalami erupsi, jenis ancaman yang mungkin muncul, simbol pada peta evakuasi, hingga cara mengikuti informasi kebencanaan dari sumber resmi.
Pembelajaran juga dapat menggunakan aktivitas sederhana seperti membuat peta lingkungan sekolah, mengenali rute keluar dari kelas, atau melakukan permainan peran ketika menerima peringatan bencana.
Pendekatan seperti ini membuat siswa tidak hanya menghafal jalur evakuasi, tetapi memahami alasan mereka harus mengikuti jalur tersebut.
Pendidikan dan Kesiapsiagaan di Ma’soem University
Pembahasan mengenai kesiapsiagaan sekolah juga relevan bagi perguruan tinggi yang mempersiapkan calon tenaga pendidik. Ma’soem University, salah satu kampus swasta di Jawa Barat, memiliki Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang menaungi dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Informasi tersebut tercantum pada laman resmi FKIP Ma’soem University.
Bagi mahasiswa kependidikan, isu keselamatan siswa dapat menjadi bagian dari pemahaman yang lebih luas mengenai lingkungan sekolah. Mahasiswa BK, misalnya, memiliki keterkaitan dengan pendampingan siswa dalam menghadapi situasi yang dapat memengaruhi kondisi sosial dan emosional mereka. Sementara itu, calon guru Pendidikan Bahasa Inggris dapat memahami pentingnya komunikasi instruksi yang jelas ketika berada di lingkungan sekolah.
Pemahaman seperti ini dapat mendukung calon pendidik agar tidak hanya memperhatikan kegiatan pembelajaran di kelas, tetapi juga kondisi keselamatan dan kebutuhan siswa dalam situasi tertentu.
Jalur Evakuasi Perlu Diperiksa Secara Berkala
Peta evakuasi tidak seharusnya dianggap sebagai dokumen yang selesai setelah dicetak. Kondisi sekolah dapat berubah. Ruang kelas bisa berpindah, bangunan baru dapat dibangun, akses jalan dapat berubah, dan jumlah siswa juga berganti setiap tahun.
Karena itu, sekolah perlu melakukan pemeriksaan berkala terhadap:
- kondisi pintu dan jalur keluar;
- tanda arah evakuasi;
- titik kumpul;
- jalur alternatif;
- akses bagi siswa berkebutuhan khusus;
- daftar kontak darurat;
- pembagian tugas guru dan tenaga kependidikan;
- prosedur komunikasi dengan orang tua.
Koordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, serta pihak yang berwenang dalam pemantauan gunung api juga penting agar prosedur sekolah tidak berdiri sendiri dan tetap mengikuti informasi kebencanaan yang berlaku.
Informasi Ma’soem University
No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com




