
Oleh: Gilang Setia Pradana
Bahasa Indonesia memiliki peran yang sangat penting sebagai identitas bangsa sekaligus alat
pemersatu masyarakat yang beragam. Sejak diikrarkannya Sumpah Pemuda pada tahun 1928,
bahasa Indonesia telah menjadi simbol persatuan yang mampu menghubungkan berbagai suku,
budaya, dan bahasa daerah di Indonesia. Keberadaan bahasa Indonesia tidak hanya berfungsi
sebagai alat komunikasi, tetapi juga mencerminkan jati diri serta karakter bangsa Indonesia di
tengah perbedaan yang ada.
Memasuki era digital, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membawa
perubahan besar dalam cara masyarakat berinteraksi. Kehadiran media sosial, aplikasi pesan
instan, serta berbagai platform digital lainnya membuat komunikasi menjadi lebih cepat dan
praktis. Namun, di sisi lain, hal ini juga memengaruhi cara penggunaan bahasa Indonesia,
terutama di kalangan generasi muda. Banyak pengguna yang cenderung menggunakan bahasa
tidak baku, singkatan, bahkan mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing dalam
kehidupan sehari-hari.
Fenomena tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya salah, karena bahasa bersifat dinamis dan
selalu berkembang mengikuti zaman. Penggunaan bahasa yang lebih santai dalam konteks
informal dapat mempererat hubungan sosial dan menciptakan suasana komunikasi yang lebih
akrab. Akan tetapi, permasalahan muncul ketika penggunaan bahasa tidak baku tersebut
digunakan dalam situasi formal, seperti dalam penulisan akademik, dunia kerja, atau
komunikasi resmi. Hal ini dapat menurunkan kualitas komunikasi serta mengurangi citra
profesional seseorang.
Selain itu, pengaruh globalisasi juga semakin kuat dalam era digital. Akses yang mudah
terhadap informasi dari berbagai negara membuat masyarakat Indonesia semakin akrab dengan
bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Tidak sedikit individu yang lebih memilih
menggunakan istilah asing dibandingkan padanan dalam bahasa Indonesia, meskipun
sebenarnya sudah tersedia. Jika hal ini terus dibiarkan, maka dapat menggeser peran bahasa
Indonesia sebagai bahasa utama dalam kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, era digital juga memberikan peluang besar untuk memperkuat eksistensi bahasa
Indonesia. Berbagai platform digital dapat dimanfaatkan untuk menyebarluaskan penggunaan
bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik melalui konten edukatif, artikel, video, maupun
media sosial. Kreator konten, pendidik, serta masyarakat umum memiliki peran penting dalam
memberikan contoh penggunaan bahasa yang sesuai dengan kaidah. Dengan cara ini, bahasa
Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga dapat berkembang mengikuti kemajuan zaman.
Peran generasi muda sangat menentukan dalam menjaga keberlangsungan bahasa Indonesia di
era digital. Sebagai pengguna aktif teknologi, generasi muda diharapkan mampu menggunakan
bahasa Indonesia secara bijak sesuai dengan situasi dan kondisi. Mereka dapat tetap
menggunakan bahasa santai dalam komunikasi informal, namun tetap menjaga penggunaan
bahasa baku dalam konteks formal. Kesadaran ini penting agar bahasa Indonesia tetap memiliki
kedudukan yang kuat sebagai bahasa nasional.
Selain itu, dunia pendidikan juga memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan
pemahaman mengenai pentingnya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Pembelajaran bahasa Indonesia tidak hanya sebatas teori, tetapi juga perlu diterapkan dalam
praktik sehari-hari. Dengan pembiasaan yang konsisten, kemampuan berbahasa yang baik akan
terbentuk secara alami.
Lebih jauh lagi, penggunaan bahasa Indonesia di ruang digital juga berkaitan dengan citra
bangsa di mata dunia internasional. Konten-konten yang dipublikasikan melalui internet dapat
diakses oleh masyarakat global, sehingga penggunaan bahasa yang baik akan mencerminkan
kualitas sumber daya manusia Indonesia. Sebaliknya, penggunaan bahasa yang tidak teratur
dan tidak sesuai kaidah dapat memberikan kesan kurang profesional.
Tidak hanya itu, perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan, mesin penerjemah, dan
algoritma pencarian juga sangat bergantung pada penggunaan bahasa yang terstruktur dengan
baik. Jika bahasa Indonesia tidak digunakan secara konsisten dan sesuai kaidah, maka
pengembangan teknologi berbasis bahasa Indonesia dapat terhambat. Oleh karena itu,
penggunaan bahasa yang baik dan benar juga berperan dalam mendukung kemajuan teknologi
nasional.
Pemerintah dan berbagai lembaga terkait juga memiliki peran penting dalam menjaga dan
mengembangkan bahasa Indonesia. Upaya seperti penyusunan kamus, pembakuan istilah, serta
kampanye penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar perlu terus dilakukan. Selain itu,
regulasi terkait penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik dan media juga menjadi langkah
penting dalam mempertahankan eksistensinya.
Di tengah maraknya konten digital, penting pula untuk meningkatkan kesadaran literasi digital
masyarakat. Literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi,
tetapi juga mencakup kemampuan berkomunikasi secara efektif dan etis. Dalam hal ini,
penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi salah satu aspek penting yang harus
diperhatikan.
Dengan demikian, bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa harus terus dijaga dan
dilestarikan, terutama di tengah arus perkembangan teknologi yang semakin pesat. Era digital
seharusnya tidak menjadi ancaman, melainkan menjadi sarana untuk memperkuat eksistensi
bahasa Indonesia. Melalui kesadaran dan peran aktif seluruh masyarakat, khususnya generasi
muda, bahasa Indonesia dapat terus berkembang tanpa kehilangan jati dirinya sebagai simbol
persatuan bangsa.




