“Bikin website itu sebenarnya butuh berapa lama, sih?” Pertanyaan ini cukup sering muncul ketika seseorang ingin membangun website untuk bisnis, organisasi, maupun kebutuhan pribadi. Jawabannya tidak bisa disamakan untuk setiap proyek karena waktu pengerjaan dipengaruhi oleh tujuan, jumlah fitur, desain, konten, hingga kemampuan tim yang mengerjakannya. Website sederhana mungkin dapat diselesaikan dalam waktu relatif singkat, sedangkan website dengan sistem yang lebih kompleks membutuhkan proses lebih panjang. Karena itu, memahami tahapan pembuatannya menjadi langkah awal agar target pengerjaan tetap realistis.
Bukan Cuma Soal Menulis Kode
Membuat website bukan berarti langsung duduk di depan laptop lalu mulai menulis kode. Ada beberapa proses yang perlu disiapkan agar hasil akhirnya sesuai kebutuhan. Semakin jelas perencanaannya, semakin mudah pula proses pengerjaannya.
Secara umum, tahapan pembuatan website dapat mencakup:
- Menentukan tujuan dan kebutuhan website.
- Membuat struktur halaman serta alur pengguna.
- Menyiapkan desain tampilan.
- Mengembangkan fitur dan sistem.
- Memasukkan konten serta informasi.
- Melakukan pengujian sebelum website digunakan.
Misalnya, website profil perusahaan dengan beberapa halaman tentu memiliki kebutuhan berbeda dengan website toko online yang membutuhkan katalog produk, keranjang belanja, pembayaran, akun pelanggan, dan sistem pengelolaan pesanan.
Sederhana, Menengah, atau Kompleks?
Durasi pembuatan website sangat bergantung pada tingkat kerumitannya. Website sederhana dengan beberapa halaman informasi dapat dikerjakan lebih cepat dibandingkan website yang memiliki banyak fitur dan membutuhkan integrasi dengan sistem lain.
Sebagai gambaran, pembagiannya dapat dilihat seperti berikut:
| Jenis Website | Perkiraan Waktu |
|---|---|
| Website sederhana | Beberapa hari hingga 2 minggu |
| Website bisnis dengan beberapa fitur | 2–6 minggu |
| Website dengan sistem dan fitur kompleks | 1–3 bulan atau lebih |
Angka tersebut bukan patokan mutlak. Website yang terlihat sederhana pun dapat membutuhkan waktu lebih lama apabila desain sering berubah, materi belum tersedia, atau terdapat revisi berkali-kali.
Mengapa Prosesnya Bisa Lebih Lama dari Perkiraan?
Masalah yang sering terjadi adalah pemilik website hanya menghitung waktu untuk membuat tampilannya. Padahal, proses pengembangan memiliki banyak bagian yang perlu diperiksa satu per satu.
Contohnya, sebuah website sudah selesai secara visual, tetapi ketika dicoba melalui perangkat berbeda ternyata tampilannya berantakan. Atau tombol pendaftaran terlihat berfungsi, tetapi data pengguna ternyata tidak tersimpan dengan benar.
Hal seperti ini membuat tahap pengujian menjadi penting. Sebelum website dipublikasikan, pengembang perlu memastikan fitur berjalan sebagaimana mestinya, halaman dapat diakses, dan pengalaman pengguna tetap nyaman.
Belajar Membuat Sistem dari Dasarnya
Bagi seseorang yang ingin memahami proses pembuatan website secara lebih serius, kemampuan teknis perlu dibarengi dengan pemahaman mengenai sistem dan kebutuhan pengguna. Ma’soem University menyediakan program studi S1 Sistem Informasi dan S1 Bisnis Digital yang dapat menjadi pilihan untuk mempelajari bidang tersebut. S1 Sistem Informasi berkaitan dengan pengembangan dan pengelolaan sistem berbasis teknologi, sedangkan S1 Bisnis Digital menghubungkan pemanfaatan teknologi dengan kebutuhan serta strategi bisnis. Informasi mengenai program studi dapat ditanyakan melalui Admin Univ Ma’soem di +62 851 8563 4253.
Desain Bagus Belum Berarti Website Siap Digunakan
Pernah menemukan website yang tampilannya menarik tetapi sulit digunakan? Inilah salah satu alasan mengapa desain tidak boleh hanya berorientasi pada visual.
Website perlu mempertimbangkan bagaimana pengguna berpindah dari satu halaman ke halaman lain. Menu harus mudah ditemukan, informasi tidak membingungkan, dan tombol penting harus terlihat jelas.
Solusinya adalah melakukan pengujian dari sudut pandang pengguna. Coba minta beberapa orang mencoba website tanpa diberikan banyak arahan. Perhatikan bagian mana yang membuat mereka berhenti, bingung, atau harus bertanya.
Dari proses tersebut, pengembang dapat menemukan masalah yang mungkin tidak terlihat ketika website hanya diperiksa oleh pembuatnya sendiri.
Konten Juga Bisa Menentukan Cepat atau Lambatnya Pengerjaan
Tahukah bahwa proses pembuatan website bisa tertunda hanya karena kontennya belum siap?
Teks profil, foto produk, deskripsi layanan, logo, hingga informasi kontak sebaiknya disiapkan sejak awal. Jika konten baru diberikan ketika website hampir selesai, struktur halaman mungkin perlu disesuaikan kembali.
Karena itu, pembagian pekerjaan antara pemilik proyek dan pengembang perlu dibuat jelas. Siapa yang menyediakan konten? Siapa yang memeriksa desain? Kapan revisi diberikan? Pertanyaan sederhana seperti ini dapat membantu menjaga pengerjaan tetap sesuai jadwal.
Website Cepat Selesai atau Tepat Sasaran?
Mengejar website agar selesai secepat mungkin memang terdengar menarik. Namun, website yang cepat jadi tetapi banyak error justru dapat menimbulkan pekerjaan tambahan.
Target yang lebih masuk akal adalah menentukan waktu pengerjaan berdasarkan kebutuhan. Mulailah dari fitur yang benar-benar penting, kemudian kembangkan secara bertahap. Cara ini membantu tim fokus pada fungsi utama tanpa membuat proyek terlalu rumit sejak awal.
Pada akhirnya, tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua website. Lama pengerjaan bergantung pada skala proyek, fitur, desain, kesiapan konten, jumlah revisi, dan proses pengujian. Bagi calon pengembang website, memahami alur tersebut sejak awal akan membuat proses kerja lebih terarah. Karena itu, mempelajari Sistem Informasi maupun Bisnis Digital dapat menjadi bekal untuk memahami bagaimana sebuah website tidak hanya dibuat agar terlihat menarik, tetapi juga berfungsi sesuai kebutuhan penggunanya.




