Pernahkah Anda melihat barisan kode pemrograman dan merasa seperti sedang membaca mantra pemanggil hujan? Rumit, membingungkan, dan membuat kepala berdenyut. Banyak orang akhirnya menyerah sebelum berperang dan melabeli bahwa coding adalah aktivitas “dewa” yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang jenius. Namun, mari kita jujur: berhenti bilang coding itu susah. Masalahnya bukan pada jarimu yang kaku saat mengetik, tapi mungkin karena kamu hanya kurang melatih logika.
Pada dasarnya, bahasa pemrograman hanyalah alat komunikasi, sama seperti bahasa manusia. Perbedaannya, komputer adalah lawan bicara yang sangat patuh namun sangat kaku. Ia tidak mengerti intuisi; ia hanya mengerti instruksi yang logis dan berurutan.
Coding Adalah Tentang Pola Pikir, Bukan Hafalan
Banyak mahasiswa Teknik Informatika terjebak pada kesalahan yang sama: mencoba menghafal sintaks atau perintah bahasa pemrograman seperti menghafal kamus. Padahal, inti dari coding adalah problem solving. Di Universitas Ma’soem, mahasiswa diajarkan bahwa sebelum menyentuh papan ketik, seseorang harus mampu menyusun algoritma langkah-langkah logis untuk menyelesaikan masalah.
Jika Anda tidak bisa menjelaskan cara membuat secangkir kopi secara mendetail (mulai dari mengambil gelas, memasukkan bubuk, hingga menuang air panas secara berurutan), maka Anda akan kesulitan menulis kode. Coding akan terasa sangat berat bagi mereka yang malas berpikir sistematis. Sebaliknya, bagi mereka yang memiliki logika tajam, bahasa pemrograman apa pun baik itu Python, Java, atau C++ hanya akan menjadi sekadar alat yang mudah dikuasai.
Sinergi Logika di Fakultas Teknik
Menariknya, kebutuhan akan logika ini tidak hanya milik anak Informatika. Rekan-rekan di jurusan Teknik Industri pun menggunakan logika yang serupa untuk melakukan optimasi sistem. Perbedaannya hanya pada medianya: anak Informatika mengoptimasi aliran data, sementara anak Industri mengoptimasi aliran proses dan manusia. Di Universitas Ma’soem, interaksi antar-jurusan ini seringkali membuka mata bahwa logika yang kuat adalah “nyawa” dari seorang insinyur.
Jika Anda merasa coding itu sulit, coba mundur sejenak. Berhenti menyalahkan sintaks yang error dan mulailah melatih cara Anda berpikir. Pecahkan masalah besar menjadi potongan-potongan kecil yang logis. Saat logika Anda sudah terbentuk, coding tidak lagi terlihat seperti teka-teki gelap, melainkan seperti bermain lego yang sangat menyenangkan.
Kemampuan logika bukanlah bakat lahir, melainkan otot yang harus dilatih terus-menerus. Dengan fasilitas yang mendukung dan kurikulum yang tepat di Universitas Ma’soem, Anda memiliki ruang untuk menempa logika tersebut hingga tajam. Jadi, jangan katakan coding itu susah jika Anda belum benar-benar melatih pola pikir sistematis Anda. Dunia digital tidak butuh penghafal kode, dunia butuh pemikir logis yang mampu memberikan solusi nyata lewat teknologi.





