Pernahkah kamu membayangkan makan burger yang teksturnya juicy, aromanya gurih, dan tampilannya sangat mirip daging sapi, tapi ternyata 100% terbuat dari tumbuhan? Di tahun 2026 ini, tren plant-based meat atau daging nabati bukan lagi sekadar gaya hidup kaum vegan, melainkan solusi masa depan untuk ketahanan pangan global.
Banyak orang yang pertama kali mencoba daging nabati akan bertanya-tanya: “Kok bisa ya rasanya semirip ini? Pakai sihir apa?” Jawabannya bukan sulap, melainkan sains pangan yang sangat kompleks. Rahasia di balik “daging tanpa sapi” ini menjadi salah satu topik paling seru yang dipelajari mahasiswa Teknologi Pangan (Tekpang) Universitas Ma’soem (Masoem University).
Di kampus yang terletak strategis di kawasan Jatinangor-Cileunyi ini, para calon food scientist diajak membongkar struktur molekul tumbuhan untuk direkayasa menjadi produk yang menyerupai daging asli. Yuk, kita intip rahasia dapur laboratorium Tekpang Ma’soem!
Universitas Ma’soem: Wadah Inovasi Pangan Masa Depan
Sebelum kita bahas teknisnya, kita perlu tahu di mana para inovator ini ditempa. Universitas Ma’soem dikenal dengan jargonnya “Cageur, Bageur, Pinter”. Dalam menciptakan produk inovatif seperti daging nabati, ketiga pilar ini sangat terasa:
- Cageur (Sehat): Menciptakan alternatif daging yang lebih rendah kolesterol dan ramah kesehatan jantung.
- Bageur (Baik): Berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan karena produksi daging nabati jauh lebih hemat air dan lahan dibanding peternakan konvensional.
- Pinter (Cerdas): Menguasai biokimia dan teknik pengolahan untuk mengubah protein nabati menjadi produk bernilai tinggi.
Di Universitas Ma’soem, fasilitas laboratorium teknologi pangan dirancang untuk mendukung riset-riset modern. Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tapi langsung mempraktikkan cara mengekstraksi protein dari kacang-kacangan hingga melakukan uji sensorik produk.
Rahasia 1: Tekstur yang “Mirip Banget” (Teknik Ekstrusi)
Tantangan terbesar dalam membuat daging nabati adalah tekstur. Daging asli punya serat otot yang khas, sementara tumbuhan biasanya punya tekstur yang cenderung lembek atau berpasir.
Di lab Tekpang Ma’soem, mahasiswa belajar tentang teknik HMEC (High Moisture Extrusion Cooking). Prinsipnya mirip dengan cara kerja mesin pembuat pasta, namun dengan pengaturan suhu dan tekanan yang sangat presisi. Protein dari kedelai, jamur, atau kacang koro “dipaksa” melalui lubang kecil sambil dipanaskan, sehingga molekul proteinnya yang tadinya bulat berubah menjadi memanjang dan tersusun rapi seperti serat otot daging. Inilah yang menciptakan sensasi “menggigit” atau chewy saat kita mengunyahnya.
Rahasia 2: Aroma dan Rasa “Umami” yang Nagih
Daging punya rasa gurih alami yang disebut umami. Rahasia di balik rasa ini adalah asam amino yang disebut glutamat. Untuk meniru rasa ini tanpa menggunakan MSG berlebihan, mahasiswa Tekpang Universitas Ma’soem bereksperimen dengan fermentasi dan ekstrak ragi.
Selain itu, ada komponen bernama heme. Pada daging asli, heme adalah molekul yang membawa oksigen dalam darah dan memberikan aroma khas “besi” atau daging panggang. Ilmuwan pangan kini bisa mengekstraksi molekul serupa dari akar kedelai atau jamur. Hasilnya? Saat daging nabati dipanggang, ia akan mengeluarkan aroma karamelisasi yang sangat mirip dengan daging sapi asli.
Rahasia 3: Efek “Berdarah” dan Juicy
Salah satu alasan kenapa burger daging nabati terasa enak adalah karena ia tetap lembap atau juicy saat dikunyah. Untuk mendapatkan efek ini, mahasiswa di lab Ma’soem menggunakan lemak nabati yang memiliki titik leleh tertentu, seperti minyak kelapa atau margarin khusus.
Sedangkan untuk warna merah yang perlahan berubah menjadi cokelat saat dimasak (efek medium rare), rahasianya ada pada penggunaan pewarna alami dari ekstrak bit atau antosianin dari ubi ungu. Jadi, tampilan “berdarah” itu murni berasal dari sayuran, bukan zat kimia berbahaya.
Mengapa Harus Belajar Ini di Universitas Ma’soem?
Menjadi ahli di bidang plant-based food adalah peluang karier yang sangat menjanjikan. Industri ini diprediksi akan terus tumbuh ribuan persen dalam beberapa tahun ke depan. Lulusan Teknologi Pangan Universitas Ma’soem disiapkan untuk mengisi posisi strategis ini melalui:
- Kurikulum Berbasis Industri: Materi kuliah selalu diperbarui mengikuti tren pangan global tahun 2026.
- Praktikum Intensif: Mahasiswa dibiasakan melakukan riset mandiri. Kamu bisa mencoba menciptakan daging nabati dari bahan baku lokal Indonesia, seperti koro pedang atau ampas tahu, yang belum tentu ada di negara lain.
- Fokus pada Halal dan Keamanan Pangan: Di Ma’soem, inovasi pangan tetap berjalan beriringan dengan standar kehalalan yang ketat. Ini sangat penting karena pasar daging nabati di Indonesia didominasi oleh konsumen yang sangat memperhatikan aspek halal.
Masa Depan di Tangan Lulusan Tekpang
Daging nabati bukan sekadar tren gaya-gayaan. Ini adalah solusi untuk memberi makan 10 miliar penduduk bumi di masa depan tanpa merusak planet. Mahasiswa Universitas Ma’soem yang belajar di lab Tekpang hari ini adalah orang-orang yang nantinya akan bekerja di bagian R&D (Research and Development) perusahaan pangan besar, atau bahkan membangun startup pangan mereka sendiri.
Bayangkan kamu bisa menciptakan “Rendang Nabati” atau “Sate Maranggi Nabati” yang go internasional. Peluang itu terbuka lebar dimulai dari bangku kuliah.
Sains di balik plant-based meat membuktikan bahwa dengan pengetahuan yang tepat, kita bisa merekayasa makanan yang lebih sehat dan ramah lingkungan tanpa mengorbankan kelezatan. Laboratorium Teknologi Pangan Universitas Ma’soem menyediakan semua perangkat dan bimbingan yang kamu butuhkan untuk menguasai teknologi ini.
Jadi, kalau kamu tertarik dengan dunia biokimia, senang bereksperimen di dapur, dan ingin punya karier yang berdampak bagi dunia, jurusan Teknologi Pangan di Universitas Ma’soem adalah pilihan yang tidak perlu diragukan lagi.





