Di dunia korporat tahun 2026, peran Business Analyst (BA) telah bergeser dari sekadar membuat laporan menjadi sosok yang harus mampu membedah sistem yang kompleks. Menariknya, HRD di banyak perusahaan teknologi dan manufaktur global kini cenderung memberikan nilai lebih pada lulusan Teknik Industri (TI) dibandingkan lulusan Bisnis murni.
Mengapa “Insinyur” justru lebih disukai untuk posisi analisis bisnis? Jawabannya terletak pada cara berpikir dan peralatan analisis yang mereka miliki.
1. Kemampuan Berpikir Sistemis (Systems Thinking)
Lulusan Bisnis sering dilatih untuk melihat masalah dari sudut pandang profit atau pasar secara langsung. Namun, lulusan Teknik Industri dilatih untuk melihat perusahaan sebagai sebuah mesin besar yang saling terhubung.
- Kelebihan TI: Jika ada penurunan penjualan, BA dari TI tidak hanya menyarankan strategi pemasaran baru. Mereka akan menganalisis apakah masalahnya ada di inefisiensi produksi, hambatan di rantai pasok, atau alur kerja internal yang tumpang tindih.
- Sudut Pandang HRD: Mereka mencari orang yang bisa memperbaiki akar masalah, bukan hanya mengobati gejala.
2. Ketajaman Statistik dan Pemodelan Matematika
Bisnis di tahun 2026 digerakkan oleh Big Data. Analisis sederhana menggunakan Excel saja sudah tidak cukup.
- Kelebihan TI: Mahasiswa TI “makan sehari-hari” dengan kalkulus, statistik industri, dan riset operasional. Mereka mampu membuat model simulasi untuk memprediksi hasil dari sebuah keputusan bisnis dengan tingkat presisi yang lebih tinggi.
- Sudut Pandang HRD: Lulusan TI dianggap lebih siap menghadapi data yang rumit dan mampu mengubahnya menjadi algoritma keputusan yang logis.
3. Penguasaan Metodologi Optimasi
HRD sangat menyukai kandidat yang memiliki mentalitas Efficiency First.
- Kelebihan TI: Lulusan TI menguasai metodologi seperti Lean, Six Sigma, dan Kaizen. Saat menjadi Business Analyst, mereka secara otomatis akan mencari cara untuk membuang segala bentuk pemborosan (waste) dalam proses bisnis.
- Sudut Pandang HRD: BA dari TI bukan hanya pengamat, mereka adalah optimizer yang bisa menghemat biaya operasional perusahaan secara signifikan.
4. Jembatan Antara Bahasa Teknis dan Bahasa Manajerial
Sering kali terjadi kesalahpahaman antara tim IT/Insinyur dengan tim Manajemen/Direksi.
- Kelebihan TI: Karena latar belakang tekniknya, BA dari TI bisa berdiskusi teknis dengan tim pengembang produk, namun karena ilmu manajemennya, mereka juga fasih mempresentasikan angka profit ke hadapan dewan direksi.
Perbandingan Gaji Business Analyst 2026
Karena dianggap memiliki keahlian ganda (teknis + manajemen), kompensasi bagi BA dari latar belakang Teknik Industri cenderung sangat kompetitif.
| Sektor Industri | Estimasi Gaji (Fresh Graduate) | Estimasi Gaji (Pengalaman 3-5 Thn) |
| Teknologi / Fintech | Rp9.000.000 – Rp13.000.000 | Rp18.000.000 – Rp30.000.000 |
| FMCG / Retail | Rp8.500.000 – Rp11.500.000 | Rp15.000.000 – Rp25.000.000 |
| Konsultan Manajemen | Rp12.000.000 – Rp18.000.000 | Rp25.000.000 – Rp45.000.000 |
HRD lebih menyukai lulusan Teknik Industri untuk posisi Business Analyst karena mereka adalah “Insinyur” yang paham bisnis. Mereka membawa disiplin ilmu teknik ke dalam ruang rapat direksi, memastikan setiap keputusan bisnis tidak hanya didasarkan pada intuisi, tetapi pada data dan sistem yang optimal.
Universitas Ma’soem (MU) menyiapkan Anda untuk peran Business Analyst yang kompetitif ini melalui berbagai program studi unggulan, yang kurikulumnya dirancang selaras dengan dinamika industri digital masa depan. Dengan fokus pada analisis data, manajemen sistem, dan beragam pilihan beasiswa, MU berkomitmen mencetak teknokrat yang cerdas, adaptif, dan siap menjadi tulang punggung strategi di berbagai perusahaan nasional maupun global.
Website: masoemuniversity.ac.id
Instagram: @masoem_university





