Daging Hewani vs Plant-Based Food: Mana yang Lebih Ramah Lingkungan?

Perdebatan mengenai daging hewani vs plant-based food semakin menarik seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap keberlanjutan lingkungan. Pilihan makanan ternyata tidak hanya berkaitan dengan rasa, harga, atau kandungan gizi, tetapi juga berhubungan dengan penggunaan lahan, air, energi, serta emisi gas rumah kaca.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa makanan berbasis tumbuhan atau plant-based food cenderung memiliki dampak lingkungan yang lebih rendah dibandingkan makanan berbasis hewani. Namun, dampaknya tetap bergantung pada jenis bahan pangan, cara produksi, pengolahan, distribusi, hingga pola konsumsi.

Daging Hewani dan Tantangan Lingkungan

Produksi daging membutuhkan sumber daya yang cukup besar. Peternakan tidak hanya membutuhkan lahan untuk memelihara hewan, tetapi juga membutuhkan pakan, air, energi, serta berbagai proses pendukung lainnya.

Hewan ternak seperti sapi juga menghasilkan emisi gas rumah kaca selama proses pemeliharaan. Selain itu, lahan pertanian yang digunakan untuk menghasilkan pakan ternak menjadi bagian dari jejak lingkungan produk daging.

Penelitian yang diterbitkan di Nature Food menunjukkan bahwa produksi makanan hewani secara global menyumbang porsi emisi gas rumah kaca yang lebih besar dibandingkan makanan nabati.

Hal tersebut bukan berarti daging harus sepenuhnya dihilangkan dari kehidupan manusia. Namun, produksi dan konsumsi daging perlu dikelola secara lebih efisien agar kebutuhan pangan tetap terpenuhi tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap lingkungan.

Plant-Based Food Lebih Ringan bagi Lingkungan?

Plant-based food merupakan makanan yang bahan utamanya berasal dari tumbuhan, seperti kedelai, kacang-kacangan, gandum, sayuran, buah, dan berbagai jenis biji-bijian.

Dari perspektif lingkungan, makanan berbasis tumbuhan umumnya membutuhkan lahan dan menghasilkan emisi yang lebih rendah dibandingkan banyak produk hewani. Review ilmiah terbaru yang menganalisis berbagai penelitian juga menemukan bahwa alternatif pangan berbasis tumbuhan secara umum membutuhkan lebih sedikit sumber daya alam dan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih rendah dibandingkan pangan hewani.

Contohnya dapat dilihat pada perbandingan berbagai bahan pangan. Daging sapi memiliki jejak lingkungan yang jauh lebih besar dibandingkan beberapa sumber protein nabati seperti tahu dan lentil. Meski demikian, tidak semua plant-based food otomatis memiliki dampak lingkungan yang sama.

Tidak Semua Plant-Based Food Sama

Istilah plant-based food sering dianggap otomatis berarti paling ramah lingkungan. Padahal, proses produksinya tetap perlu diperhatikan.

Kedelai yang diolah menjadi produk pangan dengan proses sederhana tentu berbeda dengan produk plant-based ultra-proses yang membutuhkan banyak tahapan produksi, energi, kemasan, dan distribusi.

Begitu pula dengan bahan pangan yang berasal dari wilayah jauh. Transportasi, penyimpanan dengan suhu tertentu, penggunaan kemasan, serta energi dalam proses produksi dapat memengaruhi jejak lingkungan suatu produk.

Karena itu, membandingkan daging hewani vs plant-based food tidak cukup hanya berdasarkan bahan utamanya. Seluruh rantai produksi perlu diperhatikan, mulai dari bahan baku sampai produk dikonsumsi.

Peran Teknologi Pangan dalam Menciptakan Pangan Berkelanjutan

Perubahan pola konsumsi juga membutuhkan inovasi. Di sinilah Teknologi Pangan memiliki peran penting.

Teknologi Pangan mempelajari bagaimana bahan pangan dapat diolah menjadi produk yang aman, berkualitas, bergizi, memiliki masa simpan yang baik, dan memiliki nilai tambah. Pengembangan makanan berbasis tumbuhan menjadi salah satu contoh bagaimana ilmu pangan dapat mendukung inovasi produk masa depan.

Di Ma’soem University, Fakultas Pertanian hanya memiliki dua jurusan, yaitu Teknologi Pangan dan Agribisnis. Fokus tersebut membuat mahasiswa dapat mendalami bidang pangan dan pertanian secara lebih spesifik. (Masoem University)

Mahasiswa Teknologi Pangan dapat mempelajari berbagai aspek seperti pengolahan pangan, keamanan pangan, mikrobiologi, analisis pangan, pengendalian mutu, hingga pengembangan produk. Pengetahuan tersebut relevan dengan kebutuhan industri makanan yang terus mencari produk inovatif.

Agribisnis Juga Punya Peran Penting

Menciptakan pangan yang lebih ramah lingkungan tidak berhenti pada proses pengolahan. Produk tersebut juga membutuhkan sistem produksi, distribusi, pemasaran, dan rantai pasok yang efisien.

Di sinilah jurusan Agribisnis Ma’soem University memiliki peran. Agribisnis tidak hanya berkaitan dengan kegiatan pertanian, tetapi juga pengelolaan bisnis dari hulu hingga hilir.

Mahasiswa dapat memahami bagaimana komoditas pertanian dikelola menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi, bagaimana rantai pasok dibangun, serta bagaimana strategi bisnis dikembangkan untuk menghadapi perubahan kebutuhan konsumen. (Masoem University)

Kombinasi antara Teknologi Pangan dan Agribisnis menjadi sangat relevan ketika industri pangan mulai bergerak menuju inovasi produk yang lebih berkelanjutan.

Tertarik Belajar Dunia Pangan dan Agribisnis di Ma’soem University?

Bagi calon mahasiswa yang tertarik dengan perkembangan plant-based food, inovasi pangan, pertanian modern, dan bisnis pangan, Ma’soem University dapat menjadi pilihan untuk mengembangkan kompetensi di bidang tersebut.

Pembelajaran di Fakultas Pertanian diarahkan pada bidang yang dekat dengan kebutuhan industri, dengan dua pilihan jurusan yang spesifik, yaitu Teknologi Pangan dan Agribisnis. Teknologi Pangan berfokus pada inovasi, pengolahan, keamanan, dan kualitas pangan, sedangkan Agribisnis berfokus pada pengelolaan bisnis serta rantai nilai sektor pertanian. (Masoem University)

Informasi pendaftaran Ma’soem University:
WhatsApp: +62 851 8563 4253

Masa Depan Pangan Membutuhkan Inovasi

Perbandingan daging hewani dan plant-based food menunjukkan bahwa pilihan pangan memiliki hubungan erat dengan keberlanjutan lingkungan. Secara umum, pangan berbasis tumbuhan memiliki keunggulan dalam penggunaan sumber daya dan emisi, meskipun metode produksi dan jenis produknya tetap harus diperhatikan. (ScienceDirect)

Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi inovasi di industri pangan. Pengembangan bahan pangan alternatif, efisiensi proses produksi, pengurangan limbah, peningkatan masa simpan, serta pengelolaan rantai pasok menjadi bagian penting dari masa depan sistem pangan.

Melalui Teknologi Pangan dan Agribisnis di Ma’soem University, generasi muda dapat mempersiapkan diri untuk memahami perubahan tersebut sekaligus mengambil bagian dalam perkembangan industri pangan dan pertanian modern.