Oleh: Dr. M. Ryzki Wiryawan, S.Ip., M.T
Lingkungan kampus seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi mahasiswa untuk belajar, berkembang, serta membangun relasi sosial yang positif. Namun pada kenyataannya, praktik bullying masih menjadi persoalan yang sering terjadi di lingkungan perguruan tinggi. Bullying tidak hanya terjadi di sekolah menengah, tetapi juga dapat dialami oleh mahasiswa dalam berbagai bentuk, baik secara langsung maupun melalui media digital.
Tindakan bullying dijelaskan sebagai tindakan agresif yang dilakukan secara berulang dengan adanya ketimpangan kekuatan antara pelaku dan korban. Bentuk bullying dapat berupa intimidasi verbal, kekerasan fisik, pengucilan sosial, pelecehan rasial, hingga pelecehan seksual. Selain itu, perkembangan teknologi juga memunculkan cyberbullying, yaitu tindakan mempermalukan atau menyerang seseorang melalui media elektronik dan media sosial.
Di lingkungan kampus, bullying sering kali muncul dalam bentuk yang lebih halus dan sulit dikenali. Misalnya, mengejek penampilan atau latar belakang seseorang, menyebarkan rumor, mengucilkan teman dari kelompok pergaulan, hingga komentar merendahkan di media sosial. Banyak korban yang memilih diam karena takut dianggap lemah atau khawatir situasi akan semakin buruk.
Padahal, dampak bullying terhadap mahasiswa sangat serius. Berdasarkan berbagai sumber, korban bullying memiliki risiko lebih tinggi mengalami stres, kecemasan, depresi, kehilangan rasa percaya diri, bahkan penurunan prestasi akademik. Bullying juga dapat menyebabkan mahasiswa kehilangan konsentrasi belajar, malas menghadiri kelas, dan menarik diri dari lingkungan sosial. Dalam kasus yang lebih berat, bullying bahkan dapat memicu keinginan untuk menyakiti diri sendiri.
Tidak hanya korban, pelaku bullying juga berisiko mengalami dampak negatif dalam jangka panjang. Individu yang terbiasa menggunakan agresi untuk memperoleh kekuasaan cenderung memiliki pola hubungan sosial yang tidak sehat serta lebih berisiko mengalami masalah perilaku di masa depan. Oleh karena itu, bullying bukan hanya persoalan individu, tetapi masalah bersama yang harus ditangani oleh seluruh civitas akademika.
Dalam konteks Indonesia, isu bullying di kampus masih sering dianggap sepele atau hanya bagian dari “candaan”. Padahal, budaya meremehkan, senioritas berlebihan, hingga perundungan di media sosial dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam bagi korban. Mahasiswa baru, mahasiswa dari daerah berbeda, maupun mereka yang dianggap “berbeda” sering kali menjadi kelompok yang rentan mengalami bullying.
Untuk menciptakan lingkungan kampus yang sehat, diperlukan kesadaran bersama tentang pentingnya sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan. Mahasiswa perlu memahami bahwa setiap individu memiliki hak untuk merasa aman dan diterima di lingkungan kampus. Selain itu, penting bagi korban bullying untuk tidak memendam masalah sendirian dan segera mencari bantuan dari orang terpercaya.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental dan kenyamanan mahasiswa, Career Development Center (CDC) di Ma’soem University menyediakan layanan pendampingan dan konseling bagi mahasiswa yang menghadapi berbagai persoalan, termasuk bullying dan tekanan sosial di lingkungan kampus. Mahasiswa dapat berkonsultasi secara nyaman dan rahasia untuk mendapatkan dukungan serta solusi yang tepat.
Ma’soem University juga mengusung konsep kampus bebas bullying dengan menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan saling menghormati. Setiap tindakan bullying, baik secara langsung maupun melalui media digital, tidak akan ditoleransi dan pelaku dapat dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku di lingkungan kampus. Komitmen ini menjadi bagian dari upaya kampus dalam menjaga kenyamanan serta kesehatan mental seluruh mahasiswa.
Pada akhirnya, bullying bukanlah hal yang dapat dianggap normal atau dibiarkan begitu saja. Kampus yang baik bukan hanya tempat untuk mengejar prestasi akademik, tetapi juga ruang yang aman bagi setiap mahasiswa untuk berkembang tanpa rasa takut. Dengan membangun budaya saling menghormati dan peduli terhadap sesama, lingkungan kampus dapat menjadi tempat yang lebih inklusif, sehat, dan mendukung perkembangan seluruh mahasiswa.





