Pilihan belanja online semakin beragam. Dalam satu kategori produk saja, Gen Z dapat menemukan banyak toko dengan harga, kualitas, tampilan, dan layanan yang berbeda. Kondisi ini membuat bisnis tidak cukup hanya menawarkan harga murah untuk mendapatkan perhatian. Konsumen dapat membandingkan produk dalam waktu singkat dan berpindah ke toko lain ketika menemukan pilihan yang dianggap lebih sesuai.
Gen Z juga memiliki kebiasaan mencari informasi sebelum membeli. Mereka dapat melihat konten media sosial, membaca ulasan, membandingkan harga, hingga memperhatikan bagaimana sebuah brand berkomunikasi dengan konsumennya. Karena itu, relevansi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan bisnis ketika ingin mempertahankan perhatian konsumen.
Pemahaman mengenai kondisi tersebut menjadi bagian penting dalam bisnis digital. Ma’soem University menyediakan program S1 Bisnis Digital yang mempelajari berbagai aspek bisnis di era digital, mulai dari pemasaran, perilaku konsumen, strategi bisnis, hingga pemanfaatan teknologi. Pembelajaran tersebut dapat menjadi bekal untuk memahami bagaimana bisnis menyusun strategi ketika persaingan dan perilaku konsumen terus berubah.
Konsumen Gen Z Mencari Alasan untuk Memilih
Ketika banyak toko menawarkan produk yang hampir serupa, konsumen membutuhkan alasan untuk memilih satu brand dibandingkan brand lainnya. Alasan tersebut tidak selalu berupa potongan harga.
Sebuah bisnis dapat membangun pembeda melalui kualitas produk, desain, pelayanan, kemudahan transaksi, kecepatan respons, maupun pengalaman yang diberikan setelah pembelian. Bahkan cara brand menyampaikan informasi dapat menjadi bagian dari pengalaman tersebut.
Misalnya, dua toko menjual produk dengan harga yang hampir sama. Toko pertama hanya menampilkan foto produk dan harga, sedangkan toko kedua memberikan informasi ukuran secara detail, video penggunaan, ulasan pelanggan, serta respons yang cepat ketika konsumen bertanya. Perbedaan pengalaman tersebut dapat menjadi pertimbangan ketika konsumen menentukan pilihan.
Konten Tidak Cukup Hanya Menarik, Harus Relevan
Media sosial menjadi salah satu tempat Gen Z menemukan produk. Namun, banyaknya konten yang muncul membuat perhatian konsumen semakin sulit dipertahankan. Bisnis perlu membuat konten yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki hubungan dengan kebutuhan audiens.
Konten dapat dikembangkan melalui beberapa pendekatan, seperti:
- Edukasi mengenai cara memilih atau menggunakan produk.
- Konten yang menjawab masalah konsumen.
- Video demonstrasi produk.
- Cerita di balik proses pembuatan produk.
- Respons terhadap pertanyaan atau tren yang relevan.
Dengan pendekatan tersebut, media sosial tidak hanya menjadi tempat untuk memajang produk. Brand dapat membangun komunikasi yang membuat konsumen mengenal produk sekaligus memahami nilai yang ditawarkan.
Pengalaman Belanja Ikut Menentukan Persepsi terhadap Brand
Relevansi sebuah bisnis tidak berhenti ketika konsumen tertarik pada produk. Pengalaman setelah melakukan pembelian juga dapat memengaruhi cara konsumen melihat brand.
Bayangkan konsumen sudah tertarik karena melihat konten yang menarik, tetapi ketika membuka halaman produk, informasinya tidak lengkap. Proses checkout membingungkan atau pesan kepada penjual tidak mendapatkan respons. Pengalaman seperti ini dapat membuat konsumen mengurungkan niat membeli.
Karena itu, bisnis perlu memperhatikan perjalanan konsumen secara menyeluruh, mulai dari:
Melihat konten → mencari informasi → membandingkan produk → checkout → menerima pesanan → memberikan ulasan.
Setiap tahap memberikan kesempatan bagi bisnis untuk menciptakan pengalaman yang lebih baik.
Jangan Terlalu Bergantung pada Tren
Tren dapat membantu bisnis mendapatkan perhatian dalam waktu singkat, tetapi mengikuti semua tren bukan berarti strategi yang selalu tepat. Jika konten dibuat hanya karena sesuatu sedang viral tanpa mempertimbangkan relevansinya, komunikasi brand dapat terlihat dipaksakan.
Bisnis sebaiknya memilih tren yang sesuai dengan karakter produk dan target konsumen. Dengan begitu, tren berfungsi sebagai cara memperluas jangkauan, bukan menggantikan identitas brand.
Strategi yang fleksibel juga penting. Bisnis dapat mempertahankan nilai utama dan karakter brand, sementara format konten, promosi, serta media komunikasi dapat disesuaikan berdasarkan kebiasaan konsumen.
Data Membantu Bisnis Memahami Apa yang Benar-Benar Dibutuhkan
Persaingan yang ketat membuat keputusan bisnis perlu didukung oleh informasi yang jelas. Data mengenai produk yang paling banyak dilihat, konten dengan interaksi tinggi, tingkat pembelian, hingga produk yang sering ditinggalkan di keranjang dapat membantu bisnis menemukan pola perilaku konsumen.
Namun, data perlu dibaca secara menyeluruh. Tingginya jumlah views tidak selalu berarti tingginya penjualan. Bisnis juga perlu melihat apakah konten tersebut menghasilkan kunjungan ke halaman produk, transaksi, atau bahkan pembelian ulang.
Dengan melakukan evaluasi secara berkala, bisnis dapat mengetahui strategi yang perlu dipertahankan, diperbaiki, atau dihentikan. Pendekatan ini membuat perubahan strategi tidak hanya didasarkan pada perkiraan.
Tantangan Utamanya adalah Menjaga Relevansi dalam Jangka Panjang
Salah satu tantangan terbesar e-commerce adalah mempertahankan perhatian konsumen setelah mereka mengenal sebuah brand. Konsumen bisa tertarik pada satu produk hari ini, tetapi kebutuhan mereka dapat berubah setelah beberapa waktu.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, bisnis dapat membangun hubungan yang lebih berkelanjutan melalui pelayanan yang konsisten, komunikasi yang relevan, serta produk yang terus memberikan nilai. Program loyalitas, rekomendasi personal, konten edukatif, dan komunikasi setelah pembelian dapat digunakan selama tetap disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.
Bagi yang ingin mempelajari lebih jauh mengenai strategi bisnis dan pemasaran digital, informasi perkuliahan dapat diperoleh melalui Admin Univ Ma’soem di +62 851 8563 4253.
Relevan Bukan Berarti Harus Selalu Mengikuti Semua Perubahan
E-commerce yang kompetitif membuat bisnis perlu memahami bahwa Gen Z memiliki banyak pilihan. Harga tetap dapat menjadi pertimbangan, tetapi bukan satu-satunya faktor. Konsumen juga dapat memperhatikan kualitas, pengalaman, kredibilitas, komunikasi, dan nilai yang diberikan sebuah brand.
Karena itu, bisnis perlu membangun fondasi yang kuat sekaligus tetap terbuka terhadap perubahan. Menggunakan data untuk memahami konsumen, membuat konten yang relevan, memberikan pengalaman belanja yang nyaman, dan mempertahankan identitas brand dapat menjadi bagian dari strategi untuk menghadapi persaingan.
Ketika bisnis mampu memahami apa yang dibutuhkan konsumennya tanpa kehilangan karakter sendiri, relevansi tidak hanya bergantung pada tren yang sedang ramai. Strategi tersebut dapat membantu brand tetap memiliki ruang di tengah pilihan e-commerce yang semakin beragam.




