IMG

Ekspor Produk Pertanian ke Luar Negeri? Ini Skill yang Harus Kamu Asah Sejak Semester 1!


Pernah nggak sih kamu lagi scrolling media sosial terus nemu berita tentang pemuda Indonesia yang sukses ekspor vanili ke Amerika, atau kopi Gayo yang laku keras di kafe-kafe elit London? Rasanya bangga banget, kan? Sektor pertanian Indonesia itu ibarat “raksasa tidur”. Kita punya segalanya, tapi kita butuh lebih banyak anak muda yang nggak cuma jago nanam, tapi juga jago jualan ke pasar global.

Kalau kamu punya cita-cita jadi eksportir muda atau International Agribusiness Manager, kuliah di Universitas Ma’soem (Masoem University) adalah langkah awal yang paling strategis. Kampus yang terletak di kawasan Jatinangor-Cileunyi ini emang punya reputasi mencetak lulusan yang punya mentalitas entrepreneur global.

Tapi ingat, jadi eksportir itu nggak instan. Kamu butuh persiapan matang. Nih, ada beberapa skill yang wajib kamu asah sejak semester 1 kalau mau produk pertanian kita menembus pasar internasional!


Universitas Ma’soem: Jembatan Menuju Pasar Global

Sebelum kita bahas skill, kita harus tahu dulu kenapa Universitas Ma’soem jadi tempat yang pas buat belajar. Di sini, mahasiswa dididik dengan prinsip “Cageur, Bageur, Pinter”.

  • Cageur (Sehat): Karena mengurus logistik ekspor itu butuh fisik yang kuat dan stamina tinggi.
  • Bageur (Baik): Ekspor adalah bisnis kepercayaan. Tanpa integritas (kejujuran), relasi internasional kamu bakal hancur dalam sekejap.
  • Pinter (Cerdas): Kamu harus cerdas membaca peluang pasar dunia dan regulasi yang rumit.

Di Universitas Ma’soem, khususnya di jurusan Agribisnis dan Teknologi Pangan, kurikulumnya didesain agar mahasiswa “melek” teknologi dan manajemen modern. Kamu bakal didorong buat nggak cuma mikirin pasar lokal Bandung atau Jakarta, tapi gimana caranya nanas atau kopi petani lokal bisa sampai ke meja makan orang Jepang atau Eropa.


Skill Wajib Buat Calon Eksportir Sejak Semester 1

Dunia ekspor itu high risk high reward. Biar kamu siap tempur, asah 5 skill ini dari sekarang:

1. Kemampuan Bahasa Asing (Terutama Inggris)

Ini adalah “senjata” utama. Kamu nggak harus jadi sastrawan, tapi kamu harus bisa negosiasi, membalas email penawaran, dan memahami dokumen kontrak dalam bahasa Inggris. Di Universitas Ma’soem, kamu bakal ketemu komunitas mahasiswa yang aktif, manfaatin itu buat latihan speaking. Bayangin gimana mau jualan ke Dubai kalau jelasin spek barang aja masih terbata-bata?

2. Pemahaman Standar Kualitas Internasional (Food Safety)

Pasar luar negeri itu sangat cerewet soal kualitas. Mereka nggak cuma cari yang enak, tapi yang aman. Kamu harus paham apa itu HACCP, ISO 22000, atau standar residu pestisida di Uni Eropa.

  • Tips: Manfaatin laboratorium Teknologi Pangan di Universitas Ma’soem buat belajar cara menjaga kualitas produk agar tetap segar dan aman meskipun dikirim lewat jalur laut berbulan-bulan.

3. Kemampuan Riset Pasar Digital

Zaman sekarang, cari pembeli nggak harus terbang ke luar negeri. Kamu harus jago pakai alat-alat digital seperti Trade Map, Alibaba, atau LinkedIn buat cari siapa yang butuh komoditas kamu. Di jurusan Agribisnis Ma’soem, kamu bakal diajari gimana cara baca tren data komoditas dunia. Skill “detektif pasar” ini penting banget biar kamu nggak salah kirim barang.

4. Literasi Logistik dan Dokumen Ekspor

Ekspor itu bukan cuma kirim paket lewat kurir biasa. Ada yang namanya Bill of Lading (B/L), Certificate of Origin (COO), sampai urusan Bea Cukai. Sejak semester 1, cobalah baca-baca soal istilah Incoterms. Di Universitas Ma’soem, materi manajemen rantai pasok bakal ngebantu kamu memahami alur barang dari gudang sampai ke pelabuhan tujuan.

5. Skill Komunikasi dan Negosiasi Bisnis

Ekspor adalah soal membangun relasi jangka panjang. Kamu harus bisa meyakinkan pembeli bahwa produk petani mitra kamu adalah yang terbaik. Skill “Bageur” yang diajarkan di Ma’soem sangat kepake di sini. Etika bisnis yang baik bakal bikin pembeli luar negeri merasa nyaman kerja sama sama kamu berkali-kali.


Mengapa Harus Mulai Sejak Kuliah di Ma’soem?

Mungkin kamu mikir, “Ah, nunggu lulus aja belajarnya.” Waduh, telat banget! Di Universitas Ma’soem, atmosfir kewirausahaannya kental banget. Kamu punya waktu 4 tahun buat eksperimen.

  • Manfaatin Dosen: Banyak dosen di Ma’soem yang punya jaringan ke industri. Jangan malu buat nanya, “Pak/Bu, gimana sih cara dapet pembeli dari luar negeri?”
  • Inkubator Bisnis: Kalau kamu punya produk (misal: keripik buah atau kopi), bawa ke inkubator bisnis kampus. Minta bimbingan soal kemasan (packaging) yang standar ekspor. Kemasan ekspor itu beda lho, harus kuat dan informasinya lengkap.

Prospek Karier: Nggak Cuma Jadi Eksportir Mandiri

Kalau kamu punya skill ekspor ini, karier kamu nggak cuma terbatas jadi bos ekspor sendiri (meskipun itu tujuannya). Kamu juga bisa jadi incaran banyak pihak:

  1. Export-Import Manager: Di perusahaan besar seperti Indofood atau perusahaan perkebunan negara.
  2. Trader Komoditas: Kerja di bursa berjangka atau perusahaan perdagangan internasional.
  3. Analyst di Atase Perdagangan: Bekerja di kedutaan besar RI di luar negeri buat promosiin produk kita.
  4. Konsultan UMKM: Bantuin petani dan pengusaha lokal biar produknya bisa go international.

Ekspor produk pertanian bukan mimpi di siang bolong. Itu adalah peluang nyata yang didepan mata. Gen Z punya keunggulan di bidang teknologi dan akses informasi, dan Universitas Ma’soem nyediain wadah buat kamu asah semua itu jadi skill profesional.

Jangan bangga kalau cuma bisa jualan di pasar sebelah. Banggalah saat produk dari desa kamu ada di supermarket luar negeri. Semua itu dimulai dari pilihan kampus yang tepat dan semangat kamu buat asah skill sejak semester pertama.