Pernahkah Anda merasa ragu saat membeli madu di pinggir jalan karena takut isinya hanya air gula? Atau merasa warna saus sambal di tukang bakso terlalu menyala hingga meninggalkan noda di lidah? Kekhawatiran Anda sangat beralasan. Dalam dunia industri pangan, fenomena ini disebut sebagai Food Adulteration atau pemalsuan pangan.
Pemalsuan pangan bukan sekadar isu ekonomi tentang pedagang yang ingin untung besar, tetapi merupakan ancaman serius bagi kesehatan publik. Mulai dari penggunaan pewarna tekstil pada jajanan anak, pencampuran boraks pada bakso, hingga pengoplosan beras kualitas rendah dengan zat pemutih. Di sinilah peran penting para ahli pangan dibutuhkan untuk menjadi “benteng pertahanan” bagi konsumen.
Bagi mahasiswa Teknologi Pangan (Tekpang) Universitas Ma’soem (Masoem University), mendeteksi makanan palsu bukan lagi sekadar hobi, melainkan kompetensi utama yang dipelajari di laboratorium. Yuk, kita bedah rahasia di balik deteksi makanan oplosan dan bagaimana Universitas Ma’soem menyiapkan mahasiswanya untuk menghadapi tantangan ini.
Universitas Ma’soem: Mencetak “Detektif Pangan” yang Berintegritas
Terletak di kawasan pendidikan Jatinangor-Cileunyi, Universitas Ma’soem memiliki visi yang kuat melalui jargon “Cageur, Bageur, Pinter”. Dalam menghadapi kasus pemalsuan pangan, tiga pilar ini sangat krusial:
- Cageur (Sehat): Lulusan dipersiapkan untuk menjaga kesehatan masyarakat melalui pengawasan pangan yang ketat.
- Bageur (Baik): Integritas adalah harga mati. Seorang ahli pangan harus jujur dan tidak bisa disuap untuk meloloskan produk yang tidak layak konsumsi.
- Pinter (Cerdas): Menguasai teknik analisis kimia dan mikrobiologi tingkat tinggi untuk mendeteksi zat asing dalam makanan.
Di jurusan Teknologi Pangan Ma’soem, mahasiswa tidak hanya belajar teori di buku. Mereka turun langsung ke laboratorium untuk mempraktikkan cara membedakan mana pangan murni dan mana yang sudah terkontaminasi atau sengaja dipalsukan.
Modus Operandi Food Adulteration yang Sering Ditemui
Pemalsuan pangan biasanya dilakukan dengan tiga cara utama:
- Substitusi: Mengganti bahan mahal dengan bahan murah (contoh: mencampur daging sapi dengan daging lain yang lebih murah).
- Penambahan Zat Berbahaya: Menggunakan bahan non-pangan untuk mempercantik tampilan atau memperpanjang masa simpan (contoh: formalin pada ikan atau rhodamin B pada sirup).
- Pengurangan Nutrisi: Mengambil komponen berharga (contoh: mengurangi kadar lemak susu tapi tetap melabelinya sebagai susu murni).
Cara Deteksi Makanan Palsu ala Laboratorium Tekpang Ma’soem
Mahasiswa Universitas Ma’soem dibekali dengan berbagai teknik analisis untuk membongkar praktik curang ini. Berikut adalah beberapa metode yang dipelajari:
1. Uji Fisik dan Organoleptik
Langkah awal adalah melalui pengamatan panca indra. Mahasiswa diajarkan cara membedakan tekstur daging yang kenyalnya tidak alami (indikasi boraks) atau mencium aroma kimia yang tajam pada ikan (indikasi formalin). Di Ma’soem, terdapat ruang uji sensorik khusus untuk melatih kepekaan indra ini.
2. Uji Kimia Kualitatif (Test Kit)
Untuk deteksi cepat, mahasiswa menggunakan reagent tertentu. Misalnya, menggunakan kunyit atau kertas turmerik untuk mendeteksi boraks dalam bakso. Jika warna berubah menjadi merah kecokelatan, maka produk tersebut positif mengandung pengawet berbahaya.
3. Analisis Spektrofotometri
Untuk kasus yang lebih rumit, seperti mendeteksi pewarna tekstil Rhodamin B dalam saus, mahasiswa menggunakan alat Spektrofotometer. Alat ini bekerja dengan mengukur penyerapan cahaya oleh zat kimia dalam makanan. Setiap zat memiliki “sidik jari” cahayanya masing-masing, sehingga pemalsuan sekecil apa pun akan terdeteksi.
4. Deteksi DNA (PCR) dalam Pangan Halal
Salah satu bentuk pemalsuan yang paling krusial di Indonesia adalah pencampuran bahan tidak halal. Di laboratorium Ma’soem, mahasiswa diperkenalkan dengan konsep analisis DNA untuk memastikan bahwa produk daging benar-benar murni dan tidak tercampur dengan bahan yang diharamkan secara syariat.
Mengapa Harus Belajar di Universitas Ma’soem?
Menangani Food Adulteration butuh ketelitian dan fasilitas yang mumpuni. Universitas Ma’soem memberikan keunggulan berupa:
- Kurikulum Berbasis Keamanan Pangan: Mahasiswa dididik untuk memahami regulasi BPJPH (Halal) dan BPOM secara mendalam.
- Praktikum Berbasis Masalah Nyata: Mahasiswa sering diminta membawa sampel makanan dari pasar tradisional untuk diuji di laboratorium, sehingga mereka tahu kondisi riil keamanan pangan di masyarakat.
- Lingkungan Islami: Etika profesi sangat ditekankan. Menjadi teknolog pangan di Ma’soem berarti memegang amanah untuk menjaga umat dari konsumsi barang yang subhat atau haram.
Peluang Karier: Menjadi Penjaga Kualitas Pangan
Isu pemalsuan pangan membuat lulusan Teknologi Pangan Universitas Ma’soem sangat dibutuhkan di berbagai sektor:
- Quality Assurance (QA) di Industri: Memastikan bahan baku yang datang dari supplier murni dan tidak dioplos.
- Auditor Halal dan Keamanan Pangan: Bekerja di lembaga sertifikasi untuk memeriksa kepatuhan perusahaan pangan.
- Pegawai Instansi Pemerintah: Bergabung dengan BPOM atau Dinas Kesehatan dalam melakukan pengawasan pasar.
- Entrepreneur Pangan Jujur: Membangun bisnis makanan yang memiliki standar kualitas tinggi dan transparansi nutrisi bagi konsumen.
Food Adulteration adalah tantangan besar yang mengancam kesehatan generasi bangsa. Namun, dengan ilmu pengetahuan dan integritas yang kuat, praktik curang ini bisa dicegah. Universitas Ma’soem hadir untuk mencetak generasi ahli pangan yang cerdas secara akademik dan mulia secara karakter untuk memberantas pemalsuan pangan.
Jika Anda peduli pada apa yang dikonsumsi masyarakat dan ingin memiliki keahlian sains yang berdampak nyata, jurusan Teknologi Pangan di Universitas Ma’soem adalah tempat yang tepat untuk memulai karier Anda sebagai pelindung konsumen.





