Memilih untuk menempuh studi di jurusan Teknologi Pangan Universitas Ma’soem adalah langkah yang sangat tepat bagi kamu yang ingin menjadi inovator di industri kuliner dan manufaktur pangan. Di Universitas Ma’soem, mahasiswa tidak hanya belajar tentang mikrobiologi atau teknik pengolahan, tetapi juga didorong untuk menciptakan produk inovasi yang memiliki daya jual tinggi.
Kampus yang berlokasi di Jatinangor-Cipacing ini sangat mendukung kemandirian mahasiswa dalam berwirausaha. Namun, ada satu tantangan yang sering dihadapi mahasiswa: produknya sudah enak dan inovatif, tapi fotonya masih terlihat “seadanya”. Sebagai mahasiswa yang mandiri dan kreatif di Universitas Ma’soem, kamu harus tahu bahwa di era digital ini, rasa adalah nomor dua setelah mata memandang. Dengan teknik Food Photography yang benar, produk inovasi kuliahmu bisa terlihat seperti brand mahal meskipun hanya difoto menggunakan kamera HP.
Kamu tidak butuh kamera DSLR puluhan juta untuk membuat produkmu terlihat menggiurkan. Cukup gunakan HP yang kamu miliki, kreativitas, dan beberapa teknik dasar yang sering digunakan oleh para fotografer profesional. Berikut adalah panduan praktisnya!
1. Cahaya Matahari adalah Koentji (Natural Lighting)
Jangan pernah menggunakan flash bawaan HP jika ingin foto makanan yang estetik. Flash akan membuat bayangan yang kasar dan warna makanan terlihat pucat.
- Golden Hour: Manfaatkan cahaya matahari tidak langsung. Carilah posisi di dekat jendela pada pagi hari (sekitar pukul 08.00–10.00) atau sore hari.
- Soft Light: Cahaya jendela memberikan efek soft light yang membuat tekstur makanan terlihat jelas namun tetap lembut. Jika cahaya terlalu terik, gunakan gorden tipis warna putih sebagai diffuser.
2. Perhatikan Komposisi: Rule of Thirds
Jangan selalu meletakkan produk tepat di tengah frame. Gunakan fitur grid (garis bantu) pada kamera HP-mu.
- Titik Fokus: Letakkan bagian paling menarik dari produkmu (misalnya lelehan keju atau taburan topping) di titik pertemuan garis grid. Ini akan membuat foto terlihat lebih dinamis dan profesional.
- Negative Space: Berikan sedikit ruang kosong di sekitar produk agar mata audiens fokus pada objek utama dan foto tidak terlihat “sesak”.
Mengapa Mahasiswa Universitas Ma’soem Harus Jago Branding Visual?
Di Universitas Ma’soem, setiap mahasiswa dipersiapkan untuk menjadi pribadi yang mandiri dan kompetitif.
- Nilai Tambah Produk: Produk inovasi pangan yang kamu buat dalam tugas kuliah di Ma’soem akan memiliki nilai jual lebih tinggi jika dikemas dengan visual yang baik.
- Persiapan Portofolio: Foto-foto produk yang estetis bisa menjadi portofolio di LinkedIn atau Instagram tokomu. Ini menunjukkan bahwa lulusan Ma’soem tidak hanya pinter secara akademis, tapi juga jago dalam pemasaran digital.
- Kemandirian Bisnis: Dengan bisa memotret sendiri, kamu menghemat biaya sewa fotografer saat ingin memulai bisnis rintisan (startup) pangan selepas lulus nanti.
3. Gunakan Background dan Properti yang Relevan
Background yang berantakan akan merusak fokus. Gunakan alas foto yang simpel seperti papan kayu, kain serbet (linnen), atau kertas karton polos dengan warna netral (putih, abu-abu, atau cokelat muda).
- Properti Pendukung: Letakkan bahan baku asli di sekitar produk. Misalnya, jika kamu membuat inovasi “Cookies Tepung Biji Nangka”, letakkan beberapa biji nangka mentah atau sedikit taburan tepung di samping piring. Ini memberikan kesan “segar” dan “alami”.
- Kerapian: Pastikan piring atau wadah yang kamu gunakan bersih dari sidik jari atau tetesan saus yang tidak rapi. Detail kecil ini sangat memengaruhi kesan mewah.
4. Angle Foto: Pilih Sudut Pandang Terbaik
Setiap jenis makanan punya “sudut ganteng” yang berbeda:
- Top Down (90 Derajat): Cocok untuk makanan yang ditata di atas piring atau flat lay (misalnya pizza, mangkuk salad, atau aneka kue pasar).
- Eye Level (45-0 Derajat): Sangat pas untuk makanan yang memiliki lapisan atau tinggi, seperti burger, minuman layer, atau sandwich. Ini memperlihatkan tekstur dan volume produk.
5. Sentuhan Terakhir: Editing, Bukan Filter Berlebihan
Jangan gunakan filter bawaan aplikasi sosial media yang seringkali merusak warna asli makanan. Gunakan aplikasi editing profesional seperti Lightroom Mobile atau Snapseed.
- Saturation & Contrast: Tingkatkan sedikit saturasi agar warna makanan lebih “berani” dan atur contrast agar detailnya keluar.
- White Balance: Pastikan warna putih pada foto tetap putih (tidak terlalu kuning atau biru) agar makanan terlihat higienis dan segar.
- Sharpening: Tambahkan sedikit sharpening agar tekstur makanan terlihat lebih tajam dan renyah.
Tips Tambahan agar Produk Kelihatan “Premium”
- Garnish itu Wajib: Tambahkan potongan daun mint, taburan wijen, atau irisan cabai yang rapi sebagai pemanis.
- Porsi Kecil Lebih Elegan: Dalam dunia fotografi, porsi yang sedikit lebih sedikit biasanya terlihat lebih high-end daripada piring yang penuh sesak.
- Lensa Bersih: Ini sepele, tapi sering terlupa. Lap lensa HP-mu dengan kain halus sebelum memotret agar hasil foto tidak berkabut karena bekas sidik jari.
Membuat produk inovasi di Teknologi Pangan Universitas Ma’soem adalah sebuah pencapaian, namun mempresentasikannya secara visual adalah keahlian tambahan yang akan membuatmu unggul. Dengan teknik food photography yang tepat, orang tidak akan menyangka bahwa produk yang mereka lihat adalah hasil praktikum kuliah di kostan, melainkan produk dari sebuah brand profesional yang mahal.
Teruslah bereksperimen dengan kamera HP-mu. Jadilah mahasiswa Ma’soem yang tidak hanya cerdas di laboratorium, tapi juga piawai dalam mengomunikasikan karyamu kepada dunia melalui visual yang memukau. Selamat memotret!





