IMG

Food Vlogger vs Food Scientist: Kolaborasi Unik Agribisnis dan Tekpang di Dunia Digital


Bagi mahasiswa yang menempuh pendidikan di Jurusan Teknologi Pangan (Tekpang) dan Agribisnis Universitas Ma’soem (Masoem University), dunia pangan bukan lagi sekadar soal urusan dapur atau sawah. Di Universitas Ma’soem, para mahasiswa dididik dengan semangat untuk menjadi inovator yang adaptif terhadap tren digital.

Kurikulum di Tekpang Ma’soem fokus pada sains pengolahan dan keamanan pangan, sementara Agribisnis membekali mahasiswa dengan ketajaman strategi bisnis dan pemasaran. Integrasi kedua ilmu inilah yang menjadikan lulusan Universitas Ma’soem unggul dalam mengisi ceruk pasar baru di dunia digital, di mana kolaborasi antara konten kreatif (seperti Food Vlogging) dan validasi ilmiah (Food Science) menjadi kunci utama dalam membangun kepercayaan konsumen modern di tahun 2026.

Di era media sosial yang semakin padat informasi, muncul sebuah fenomena menarik: kolaborasi antara para pembuat konten kuliner dengan para ahli sains pangan. Jika dulu food vlogger hanya fokus pada rasa yang enak dan visual yang menggugah selera, kini penonton mulai menuntut lebih. Mereka ingin tahu: Apakah makanan ini aman? Bagaimana proses kimianya? Apakah bahan bakunya etis? Di sinilah sinergi unik antara Agribisnis dan Teknologi Pangan Universitas Ma’soem memainkan perannya.


Food Vlogger: Wajah Pemasaran di Era Agribisnis Digital

Dalam perspektif Agribisnis, seorang food vlogger adalah agen pemasaran garis depan. Mahasiswa Agribisnis Universitas Ma’soem mempelajari bahwa pemasaran produk pangan saat ini sangat bergantung pada narasi atau storytelling.

Seorang lulusan Agribisnis yang terjun ke dunia digital tahu bahwa menjual produk bukan sekadar memajang foto. Mereka menggunakan teknik riset pasar untuk mengetahui tren apa yang sedang viral, lalu mengemasnya dalam konten video yang menarik. Namun, tanpa dasar ilmu pangan yang kuat, konten tersebut hanyalah “bungkus” tanpa isi. Di situlah mereka membutuhkan rekan dari Teknologi Pangan.


Food Scientist: Penjaga Kualitas dan Validitas

Di sisi lain, mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Ma’soem berperan sebagai “otak” di balik layar. Saat seorang vlogger mempromosikan tren kombucha atau plant-based meat, seorang food scientist bertugas memastikan bahwa informasi yang disampaikan secara medis dan kimiawi adalah akurat.

Di laboratorium Tekpang Ma’soem, mahasiswa belajar tentang:

  • Analisis Sensorik: Mengapa sebuah tekstur makanan bisa terasa renyah namun tetap juicy?
  • Keamanan Pangan (Food Safety): Memastikan konten edukasi tentang makanan fermentasi atau makanan kaleng tidak menyesatkan penonton mengenai risiko bakteri.
  • Inovasi Produk: Menciptakan formula makanan yang unik yang nantinya bisa menjadi bahan konten viral bagi para vlogger.

Sinergi Agribisnis dan Tekpang dalam Satu Konten Digital

Mengapa kolaborasi ini dianggap unik dan bernilai jual tinggi? Berikut adalah beberapa bentuk kolaborasi nyata yang sering dipraktikkan mahasiswa Universitas Ma’soem dalam tugas proyek terintegrasi mereka:

1. Konten Edukasi “The Science Behind the Taste”

Banyak konten digital sekarang yang membedah mengapa makanan tertentu sangat disukai. Mahasiswa Tekpang memberikan penjelasan ilmiah tentang reaksi Maillard (pencokelatan yang menghasilkan aroma sedap), sementara mahasiswa Agribisnis menghitung peluang bisnis jika produk tersebut diproduksi secara massal.

2. Transparansi Rantai Pasok (Farm to Table)

Konsumen tahun 2026 sangat peduli pada isu sustainability. Anak Agribisnis Ma’soem bisa membuat konten vlogging yang menelusuri asal-usul bahan baku dari petani lokal (hasil binaan mereka), sementara anak Tekpang menjelaskan bagaimana proses pasca-panen dilakukan agar nutrisinya tetap terjaga sampai ke tangan konsumen. Ini adalah kolaborasi Zero Waste dan Food Loss yang sangat edukatif.

3. Review Makanan Berbasis Data

Berbeda dengan vlogger biasa yang hanya bilang “enak banget!”, vlogger yang berkolaborasi dengan food scientist Ma’soem akan memberikan ulasan yang lebih berbobot. Mereka bisa membahas profil nutrisi, penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) yang aman, hingga sertifikasi halal yang menjadi fokus utama di Universitas Ma’soem.


Mengapa Harus Memilih Universitas Ma’soem?

Menjadi profesional di dunia pangan digital membutuhkan ekosistem belajar yang mendukung. Universitas Ma’soem menawarkan hal tersebut melalui:

  • Inkubator Bisnis Modern: Tempat mahasiswa Agribisnis dan Tekpang bertemu untuk menciptakan merek pangan mereka sendiri dan memasarkannya melalui studio konten yang tersedia di kampus.
  • Fasilitas Laboratorium Standar Industri: Memungkinkan mahasiswa Tekpang melakukan uji coba produk sebelum “dipamerkan” ke publik.
  • Kurikulum Karakter “Cageur, Bageur, Pinter”:
    • Cageur: Menjamin konten yang dihasilkan mempromosikan kesehatan fisik.
    • Bageur: Memastikan informasi yang disampaikan jujur, tidak mengandung hoaks pangan, dan menghargai hak petani/produsen.
    • Pinter: Menghasilkan konten yang cerdas, berbasis riset, dan mampu bersaing secara global.

Peluang Karier Masa Depan

Kolaborasi ini membuka pintu karier yang sangat luas bagi lulusan Universitas Ma’soem:

  1. Creative Food Consultant: Konsultan bagi restoran besar untuk menciptakan menu unik sekaligus memasarkannya di media sosial.
  2. Digital Food Quality Controller: Bekerja di perusahaan e-commerce pangan untuk memastikan kualitas produk yang dijual sesuai dengan deskripsi digital.
  3. Food Influencer & Entrepreneur: Membangun brand makanan sendiri dengan kredibilitas sains yang kuat.
  4. R&D Marketing Specialist: Bagian riset dan pengembangan di perusahaan multinasional yang bertugas mengomunikasikan keunggulan produk secara sains kepada masyarakat luas.

Dunia digital telah menghapus batas antara laboratorium dan pasar. Seorang food vlogger yang cerdas butuh dukungan sains, dan seorang food scientist butuh panggung digital untuk menyebarkan manfaat ilmunya.

Melalui jurusan Agribisnis dan Teknologi Pangan, Universitas Ma’soem hadir sebagai wadah bagi Anda yang ingin menjadi bagian dari revolusi pangan ini. Kami tidak hanya mencetak sarjana, tapi kami mencetak inovator yang mampu berbicara di depan kamera sekaligus memahami apa yang terjadi di bawah mikroskop.