Memasuki dekade 2020-an, lingkup dunia kerja mengalami perubahan yang sangat signifikan. Bagi mahasiswa Generasi Z di Universitas Ma’soem, khususnya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), realitas yang dihadapi kini bukan lagi sekadar persaingan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif). Tapi juga fenomena skill gap atau kesenjangan antara apa yang dipelajari di bangku kuliah dengan kebutuhan industri yang menjadi tantangan nyata dan membayangi para calon lulusan Perbankan Syariah dan Manajemen Bisnis Syariah.
Kuliah memang memberikan fondasi teoritis yang kokoh, namun dalam dunia kerja—atau yang sering disebut sebagai workforce biasanya menuntut lebih dari sekadar hafalan definisi. Menyadari hal tersebut, Himpunan Mahasiswa (Hima) FEBI Universitas Ma’soem mengambil langkah progresif dengan menyelenggarakan Seminar Intelektual bertajuk “Workforce for Z Generation”. Dengan menghadirkan sosok inspiratif, Sadam Permana, acara ini bukan sekadar seremoni kampus biasa, melainkan sebagai alarm pengingat bahwa masa depan harus dijemput dengan strategi, bukan sekadar ijazah.
Mengapa tema workforce menjadi hal yang sangat krusial bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)? Karena, yang pertama terletak pada spesialisasi bidang Perbankan dan Manajemen Bisnis Syariah itu sendiri. Industri keuangan syariah saat ini sedang bertransformasi menuju digitalisasi penuh. Generasi Z seringkali dianggap sebagai digital native, namun secara profesional, mereka perlu mengonversi kemampuan media sosial menjadi kemampuan literasi finansial digital dan etika bisnis yang berbasis Syariah dalam waktu yang bersamaan.
Atas dasar itulah Himpunan Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam mengundang Sadam Permana sebagai Fasilitator pemaparannya, dengan menekankan bahwa “bekerja” bagi Gen Z bukan lagi tentang rutinitas dari jam 9 ke jam 5, melainkan tentang value creation. Dimana mahasiswa Manajemen Bisnis Syariah tidak hanya dituntut mengerti manajemen organisasi, tetapi juga harus mampu membaca data dan tren pasar global. Hima FEBI melalui seminar ini berargumen bahwa paparan terhadap praktisi seperti Sadam adalah cara tercepat untuk membedah realitas industri yang tidak tertulis di dalam buku yang berbasis teks.
Kemudian alasan yang kedua berfokus pada esensi dari “Seminar Intelektual” nya. Yang mana Hima FEBI memahami bahwa menjadi mahasiswa intelektual itu berarti memiliki daya kritis terhadap masa depan. Nah, disini Sadam Permana menyoroti bahwa masalah utama Gen Z dalam dunia kerja seringkali terletak pada resilience (daya tahan) dan adaptability (kemampuan beradaptasi). Di jurusan Perbankan Syariah, ketelitian dan integritas adalah harga mati. Namun, tanpa kemampuan komunikasi dan kolaborasi yang diasah melalui organisasi dan seminar seperti ini, kecerdasan intelektual tersebut akan terisolasi. Seminar ini membuktikan bahwa Hima FEBI berfungsi sebagai jembatan atau mediator yang menghubungkan idealisme mahasiswa dengan pragmatisme dunia kerja. Mahasiswa diajak untuk tidak hanya menjadi “penonton” di industri syariah, tetapi menjadi pemain kunci yang membawa inovasi.
Lebih jauh lagi, inisiatif Hima FEBI ini menegaskan peran organisasi mahasiswa sebagai laboratorium pengembangan diri. Kuliah memberikan kerangka berpikir, namun organisasi memberikan simulasi kehidupan. Dengan mendatangkan tokoh Sadam Permana, Hima FEBI menunjukkan kelasnya dalam membangun jaringan (networking). Bagi mahasiswa Gen Z yang cenderung menyukai efisiensi, seminar ini menjadi jalan pintas (shortcut) untuk mendapatkan pengetahuan berbasis pengalaman (experiential learning). Hal ini memperkuat posisi Hima FEBI bahwa “Gak Cuma Kuliah” yang menjadi sebuah keharusan tapi juga menjalin networking dan mendapatkan ilmunya. Mahasiswa yang terlibat aktif dalam kegiatan intelektual seperti ini memiliki kemungkinan lebih besar untuk terserap di pasar kerja karena mereka memiliki perspektif yang lebih luas tentang ekspektasi perusahaan dan ekosistem bisnis syariah.
Tokoh Sadam Permana tidak hanya memberikan teori, tetapi juga melakukan bedah mentalitas. Ia menantang mahasiswa Ma’soem untuk keluar dari zona nyaman. Di era workforce Gen Z, fleksibilitas adalah kunci, namun konsistensi adalah pondasi. Pesan ini sangat relevan bagi mahasiswa yang kelak akan mengelola aset umat melalui bank syariah atau membangun korporasi berbasis syariah. Hima FEBI berhasil menciptakan ruang di mana mahasiswa bisa berdialog langsung mengenai kekhawatiran mereka—mulai dari ketakutan akan otomatisasi AI hingga persaingan yang semakin ketat.
Kegiatan Seminar Intelektual “Workforce for Z Generation” yang diinisiasi oleh Hima FEBI Ma’soem adalah sebuah pernyataan sikap. Bahwa mahasiswa FEBI tidak boleh hanya menjadi lulusan yang pasif. Kehadiran Sadam Permana telah memberikan peta jalan (roadmap) yang jelas mengenai apa yang harus disiapkan: skill teknis yang mumpuni, karakter yang kuat, dan mentalitas pembelajar sepanjang hayat.
Sudah saatnya mahasiswa membuang jauh-jauh pemikiran bahwa kuliah saja cukup. Realitas dunia kerja adalah hutan belantara bagi mereka yang tidak bersenjata, namun merupakan ladang peluang bagi mereka yang telah mengasah kemampuan intelektualnya. Hima FEBI Ma’soem telah membuka pintu, Sadam Permana telah menunjukkan arah, kini bola ada di tangan mahasiswa masing-masing.
Masa depan Perbankan Syariah dan Manajemen Bisnis Syariah ada di pundak Generasi Z yang mau bergerak lebih dari sekadar duduk di dalam kelas. Karena pada akhirnya, kesuksesan karier adalah pertemuan antara persiapan yang matang dengan kesempatan yang datang. Dan melalui seminar ini, mahasiswa Universitas Ma’soem telah satu langkah lebih maju dalam persiapan tersebut.





