Gempa bumi dapat terjadi pada kedalaman yang berbeda di bawah permukaan bumi. Perbedaan kedalaman sumber gempa menjadi salah satu faktor yang memengaruhi seberapa kuat guncangan dirasakan di permukaan. Karena itu, istilah gempa dangkal dan gempa dalam penting dipahami, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gempa seperti Indonesia.
Kedalaman gempa bukan satu-satunya faktor yang menentukan dampaknya. Magnitudo, jarak pusat gempa dari permukiman, kondisi tanah, jenis bangunan, hingga kepadatan penduduk turut memengaruhi tingkat kerusakan yang terjadi.
Apa Itu Gempa Dangkal?
Gempa dangkal adalah gempa bumi yang sumber atau hiposenternya berada relatif dekat dari permukaan bumi. Secara umum, gempa dengan kedalaman kurang dari sekitar 70 kilometer sering dikategorikan sebagai gempa dangkal.
Karena jarak sumber guncangan ke permukaan lebih pendek, energi seismik dapat mencapai permukaan sebelum mengalami banyak pelemahan. Kondisi tersebut membuat gempa dangkal berpotensi menghasilkan guncangan kuat di sekitar episentrum.
Dampaknya dapat terasa cukup besar meskipun magnitudo gempa tidak terlalu tinggi. Apabila pusat gempa berada dekat kawasan padat penduduk, kerusakan bangunan dan gangguan aktivitas masyarakat dapat terjadi.
Namun, kedalaman saja tidak cukup untuk menentukan tingkat kerusakan. Gempa dangkal yang terjadi di wilayah terpencil belum tentu menimbulkan dampak sosial sebesar gempa yang lebih besar tetapi berada jauh dari permukiman.
Apa Itu Gempa Dalam?
Gempa dalam merupakan gempa yang hiposenternya berada jauh di bawah permukaan bumi. Gempa yang memiliki kedalaman lebih dari 300 kilometer umumnya dikategorikan sebagai gempa dalam, sedangkan gempa berkedalaman 70–300 kilometer sering disebut gempa menengah.
Gempa yang berasal dari kedalaman besar dapat menghasilkan gelombang seismik yang merambat melalui lapisan bumi dan dirasakan di wilayah yang lebih luas. Meski begitu, energi guncangan di permukaan umumnya telah mengalami pelemahan selama perjalanannya dari sumber gempa.
Karakteristik ini membuat gempa dalam tidak selalu menyebabkan kerusakan berat tepat di atas sumbernya. Dampak yang dirasakan masyarakat tetap bergantung pada magnitudo, kedalaman, mekanisme sumber gempa, kondisi geologi, dan faktor lainnya.
Perbedaan Gempa Dangkal dan Gempa Dalam
Perbedaan paling mudah dilihat dari kedalaman hiposenternya. Berikut beberapa karakteristik yang membedakan keduanya:
| Aspek | Gempa Dangkal | Gempa Dalam |
|---|---|---|
| Kedalaman | Umumnya kurang dari 70 km | Umumnya lebih dari 300 km |
| Jarak sumber ke permukaan | Relatif dekat | Sangat jauh |
| Guncangan lokal | Berpotensi sangat kuat | Cenderung lebih tersebar |
| Potensi kerusakan lokal | Dapat tinggi, tergantung kondisi | Umumnya lebih rendah untuk magnitudo yang sama |
| Wilayah yang merasakan | Dapat terkonsentrasi di sekitar sumber | Dapat dirasakan di wilayah yang lebih luas |
Pembagian tersebut merupakan gambaran umum, bukan aturan bahwa setiap gempa dangkal pasti merusak atau setiap gempa dalam pasti tidak berbahaya.
Mana yang Lebih Berdampak?
Jika hanya membandingkan kedalaman sumber gempa, gempa dangkal pada umumnya memiliki potensi lebih besar untuk menghasilkan guncangan kuat di permukaan dibandingkan gempa yang jauh lebih dalam, terutama apabila magnitudo dan faktor lainnya relatif sama.
Akan tetapi, istilah “lebih berdampak” perlu dilihat dari beberapa aspek. Gempa dangkal berkekuatan sedang yang terjadi dekat kota padat penduduk dapat menimbulkan kerusakan serius. Sebaliknya, gempa dalam berkekuatan besar dapat dirasakan dalam area yang luas tanpa selalu menghasilkan kerusakan lokal yang sama.
Beberapa faktor yang menentukan dampak gempa antara lain:
- Magnitudo, yaitu ukuran energi yang dilepaskan oleh gempa.
- Kedalaman hiposenter, yang memengaruhi jarak energi menuju permukaan.
- Jarak dari episentrum, karena guncangan umumnya berubah seiring bertambahnya jarak.
- Kondisi tanah, terutama pada wilayah yang memiliki sedimen lunak yang dapat memperkuat guncangan tertentu.
- Kualitas bangunan, termasuk apakah bangunan dirancang untuk menghadapi beban gempa.
- Kepadatan penduduk, karena semakin banyak orang dan bangunan di wilayah terdampak, potensi kerugian juga dapat meningkat.
- Kondisi geografis, termasuk kemungkinan terjadinya longsor atau tsunami pada kondisi tertentu.
Mengapa Gempa Dangkal Perlu Diwaspadai?
Gempa dangkal menjadi perhatian khusus karena sumber guncangannya relatif dekat dengan permukaan. Gelombang seismik yang mencapai permukaan dalam jarak pendek dapat menghasilkan percepatan tanah yang signifikan.
Risikonya semakin besar apabila gempa terjadi di dekat kawasan perkotaan. Bangunan yang tidak memenuhi standar ketahanan gempa dapat mengalami kerusakan, terutama ketika guncangan berlangsung kuat.
Gempa yang terjadi di dasar laut juga perlu diperhatikan. Tidak semua gempa bawah laut menyebabkan tsunami. Namun, gempa yang memiliki karakteristik tertentu, seperti menyebabkan perubahan atau perpindahan dasar laut secara signifikan, dapat memicu tsunami.
Indonesia dan Risiko Gempa Bumi
Indonesia berada pada kawasan yang memiliki aktivitas tektonik tinggi. Pertemuan beberapa lempeng tektonik menyebabkan berbagai wilayah Indonesia memiliki potensi mengalami gempa bumi.
Kondisi tersebut membuat pengetahuan tentang gempa penting tidak hanya bagi masyarakat, tetapi juga bagi pelajar dan mahasiswa. Pemahaman dasar mengenai fenomena alam dapat membantu seseorang membaca informasi kebencanaan secara lebih kritis dan tidak mudah menyebarkan informasi yang keliru.
Pendidikan mengenai kebencanaan juga dapat dikaitkan dengan berbagai bidang studi. Mahasiswa pendidikan, misalnya, dapat mengenalkan pengetahuan mitigasi melalui kegiatan pembelajaran yang sesuai usia peserta didik.
Sebagai salah satu kampus swasta di Bandung, Ma’soem University memiliki lingkungan pendidikan yang dapat menjadi ruang untuk mempelajari berbagai isu sosial dan lingkungan secara akademis. Pada FKIP Ma’soem University, program studi yang tersedia adalah Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Pengetahuan mengenai kebencanaan dapat relevan dalam pendidikan, terutama ketika mahasiswa mempelajari cara menyampaikan informasi dan membangun kesiapsiagaan di lingkungan sekolah atau masyarakat.
Cara Meningkatkan Kesiapsiagaan Menghadapi Gempa
Masyarakat tidak dapat menentukan kapan gempa terjadi. Namun, risiko akibat gempa dapat dikurangi melalui kesiapsiagaan yang dilakukan sebelum bencana.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Mengenali jalur evakuasi dan lokasi yang relatif aman.
- Mengetahui prosedur Drop, Cover, and Hold On ketika guncangan terjadi.
- Menempatkan benda berat pada posisi yang tidak mudah jatuh.
- Memeriksa kondisi bangunan secara berkala.
- Menyiapkan perlengkapan darurat yang mudah dijangkau.
- Mengikuti informasi kebencanaan dari lembaga resmi.
- Melakukan latihan evakuasi secara berkala di sekolah, kampus, kantor, maupun lingkungan tempat tinggal.
Memahami perbedaan gempa dangkal dan gempa dalam membantu masyarakat mengenali karakteristik guncangan bumi secara lebih tepat. Namun, tingkat kedalaman bukan satu-satunya ukuran bahaya. Informasi mengenai magnitudo, lokasi, kondisi tanah, karakteristik bangunan, dan potensi bahaya lanjutan tetap perlu diperhatikan ketika menilai dampak sebuah gempa.
Informasi Ma’soem University:
No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com




