Guru dan Orang Tua Tidak Sependapat soal Anak, Bagaimana Sebaiknya Berkomunikasi?

Perbedaan pandangan antara guru dan orang tua soal anak merupakan hal yang cukup wajar dalam proses pendidikan. Guru melihat anak dalam lingkungan sekolah, sedangkan orang tua lebih banyak memahami perilaku dan kebiasaan anak di rumah. Perbedaan situasi tersebut dapat membuat keduanya memiliki penilaian yang tidak selalu sama.

Masalah dapat muncul ketika perbedaan pendapat berubah menjadi saling menyalahkan. Orang tua mungkin merasa guru terlalu menilai anak dari sisi tertentu, sementara guru dapat merasa orang tua kurang memahami kondisi anak di sekolah. Jika komunikasi tidak berjalan baik, persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan justru menjadi semakin rumit.

Komunikasi yang terbuka, tenang, dan berorientasi pada kepentingan anak menjadi langkah penting untuk menjembatani perbedaan tersebut.

Mengapa Guru dan Orang Tua Bisa Berbeda Pendapat?

Guru dan orang tua memiliki sudut pandang yang berbeda karena melihat anak dalam lingkungan yang tidak sama. Di rumah, anak mungkin lebih terbuka, santai, atau menunjukkan perilaku yang berbeda. Di sekolah, anak harus berinteraksi dengan teman, mengikuti aturan, menyelesaikan tugas, dan menyesuaikan diri dengan kegiatan belajar.

Perbedaan pengamatan tersebut bukan berarti salah satu pihak pasti keliru. Justru, informasi dari kedua pihak dapat membantu memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai perkembangan anak.

Beberapa penyebab perbedaan pendapat antara guru dan orang tua antara lain:

  • Perbedaan cara melihat perilaku anak.
  • Informasi yang diterima masing-masing pihak belum lengkap.
  • Harapan orang tua terhadap prestasi atau perilaku anak cukup tinggi.
  • Guru menghadapi kondisi kelas dan siswa yang beragam.
  • Komunikasi sebelumnya belum berlangsung secara terbuka.
  • Ada kekhawatiran bahwa kritik terhadap anak berarti kritik terhadap pola asuh atau kemampuan mengajar.

Memahami sumber perbedaan ini dapat membantu kedua pihak menghindari respons emosional.

Utamakan Kepentingan dan Perkembangan Anak

Ketika terjadi ketidaksepakatan, fokus utama sebaiknya tetap pada kebutuhan anak. Guru dan orang tua tidak perlu berlomba membuktikan siapa yang paling benar.

Misalnya, guru menyampaikan bahwa seorang siswa sering kesulitan berkonsentrasi di kelas, sementara orang tua melihat anak mampu belajar cukup lama ketika berada di rumah. Kedua informasi tersebut dapat sama-sama benar. Bisa jadi anak memiliki tingkat konsentrasi berbeda berdasarkan situasi, metode belajar, suasana lingkungan, atau jenis aktivitas.

Daripada memperdebatkan penilaian tersebut, kedua pihak dapat mencari pertanyaan yang lebih konstruktif: apa yang menyebabkan perbedaan perilaku itu dan dukungan seperti apa yang paling dibutuhkan anak?

Dengarkan Penjelasan Sebelum Memberikan Tanggapan

Komunikasi antara guru dan orang tua akan lebih efektif jika masing-masing pihak memberikan kesempatan untuk menjelaskan kondisi yang mereka lihat.

Orang tua dapat meminta penjelasan mengenai situasi secara spesifik, misalnya kapan perilaku tertentu muncul, seberapa sering terjadi, dan bagaimana respons anak ketika menghadapi masalah. Guru juga dapat menanyakan kondisi anak di rumah untuk mengetahui apakah terdapat kebiasaan atau perubahan tertentu yang relevan.

Pertanyaan yang bersifat mencari informasi biasanya lebih mudah diterima daripada pernyataan yang langsung menyalahkan.

Contohnya, orang tua dapat mengatakan, “Boleh dijelaskan situasi yang biasanya membuat anak sulit berkonsentrasi di kelas?” daripada langsung mengatakan, “Di rumah anak tidak pernah seperti itu.”

Gunakan Data, Bukan Sekadar Penilaian

Perbedaan pendapat akan lebih mudah dibicarakan jika didukung oleh contoh konkret. Guru dapat menyampaikan catatan mengenai tugas, kehadiran, interaksi di kelas, atau perkembangan akademik anak. Orang tua dapat memberikan informasi mengenai kebiasaan belajar, kondisi anak di rumah, dan perubahan perilaku yang mereka amati.

Data tidak harus selalu berupa angka. Contoh kejadian yang spesifik juga dapat membantu.

Misalnya, daripada mengatakan “Anak Anda tidak disiplin,” guru dapat menjelaskan bahwa anak beberapa kali terlambat mengumpulkan tugas dalam periode tertentu. Informasi seperti ini memberikan dasar yang lebih jelas bagi orang tua untuk memahami masalah dan mencari solusi.

Hindari Label yang Menempel pada Anak

Istilah seperti “malas”, “nakal”, “tidak mampu”, atau “sulit diatur” dapat membuat pembicaraan menjadi defensif. Label juga berisiko membuat perilaku tertentu dianggap sebagai karakter permanen anak.

Lebih baik membicarakan perilaku yang dapat diamati. Misalnya, “Anak beberapa kali tidak menyelesaikan tugas sampai batas waktu” lebih informatif daripada “Anak memang pemalas.”

Pilihan bahasa tersebut juga membantu guru dan orang tua mencari strategi yang lebih konkret.

Tentukan Langkah yang Bisa Dilakukan Bersama

Komunikasi tidak seharusnya berhenti setelah kedua pihak menyampaikan pandangan. Jika terdapat masalah yang perlu ditangani, guru dan orang tua dapat menyepakati langkah sederhana yang realistis.

Beberapa bentuk kerja sama yang dapat dilakukan meliputi:

  1. Menentukan kebiasaan belajar yang perlu dibangun di rumah.
  2. Menyepakati cara memberikan pengingat kepada anak.
  3. Memantau perkembangan anak dalam periode tertentu.
  4. Menjaga komunikasi jika muncul perubahan perilaku.
  5. Mengevaluasi strategi apabila cara yang digunakan belum memberikan hasil.

Pembagian peran juga penting. Guru dapat berfokus pada dukungan selama kegiatan sekolah, sementara orang tua melanjutkan kebiasaan positif di rumah.

Kapan Perlu Melibatkan Guru BK?

Tidak semua persoalan harus diselesaikan melalui perdebatan antara guru dan orang tua. Jika masalah berkaitan dengan perilaku, hubungan sosial, motivasi belajar, penyesuaian diri, atau persoalan pribadi yang memengaruhi kegiatan pendidikan, guru Bimbingan dan Konseling (BK) dapat dilibatkan sesuai kebutuhan.

Konselor sekolah dapat membantu proses komunikasi agar pembicaraan lebih terarah pada kondisi dan kebutuhan siswa. Keterlibatan BK juga dapat menjadi pilihan ketika guru dan orang tua mengalami kesulitan menemukan pendekatan yang tepat secara mandiri.

Bidang Bimbingan dan Konseling sendiri menjadi bagian penting dalam pendidikan karena tidak hanya berkaitan dengan masalah akademik, tetapi juga perkembangan pribadi, sosial, dan perencanaan pendidikan siswa.

Pendidikan Calon Pendidik Juga Perlu Memahami Komunikasi

Kemampuan berkomunikasi dengan siswa dan orang tua merupakan salah satu keterampilan yang penting bagi calon pendidik. Pemahaman terhadap perkembangan peserta didik, konseling, serta komunikasi pendidikan dapat membantu calon tenaga pendidik menghadapi situasi yang beragam di lingkungan sekolah.

Salah satu perguruan tinggi swasta yang memiliki bidang pendidikan relevan ialah Ma’soem University. Pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Ma’soem University, program studi yang tersedia adalah Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris.

Program Bimbingan dan Konseling relevan bagi mahasiswa yang ingin mempelajari proses pendampingan peserta didik, termasuk aspek perkembangan dan permasalahan yang dapat muncul dalam lingkungan pendidikan. Sementara itu, Pendidikan Bahasa Inggris berkaitan dengan pengembangan kompetensi calon pendidik pada bidang pembelajaran bahasa Inggris.

Pengetahuan tersebut dapat menjadi salah satu bekal bagi calon pendidik untuk membangun hubungan komunikasi yang sehat, baik bersama siswa maupun pihak lain yang terlibat dalam pendidikan.

Jika Sudah Terjadi Konflik, Mulai dari Percakapan yang Tenang

Ketika komunikasi antara guru dan orang tua sudah terlanjur memanas, percakapan berikutnya sebaiknya tidak dilakukan saat salah satu pihak masih terbawa emosi. Pilih waktu yang memungkinkan kedua pihak berbicara secara tenang dan memiliki kesempatan untuk saling mendengarkan.

Pembicaraan dapat dimulai dari kesamaan tujuan, yaitu keinginan agar anak mendapatkan dukungan terbaik. Setelah itu, masing-masing pihak dapat menyampaikan fakta yang dimiliki, menjelaskan kekhawatiran, lalu menentukan langkah yang bisa dilakukan.

Tidak semua perbedaan pandangan harus menghasilkan kesepakatan penuh. Yang lebih penting adalah kedua pihak memahami alasan masing-masing, menghindari saling menyalahkan, dan tetap mampu bekerja sama untuk mendukung perkembangan anak.

Informasi Kontak Ma’soem University

No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com