Dalam dunia agribisnis, keberhasilan sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh kualitas budidaya di lahan atau kesegaran bahan baku. Saat produk tersebut masuk ke pasar hilir, terjadi persaingan persepsi yang sangat ketat. Di sinilah mahasiswa Agribisnis mempelajari salah satu aspek paling krusial dalam pemasaran pangan: Psikologi Warna.
Mengapa produk keripik sering menggunakan kemasan merah? Mengapa produk organik identik dengan warna hijau? Di Universitas Ma’soem, mahasiswa diajarkan bahwa warna kemasan bukan sekadar hiasan, melainkan instruksi bawah sadar yang dikirimkan kepada otak konsumen untuk merangsang selera makan dan keinginan membeli.
1. Merah dan Kuning: Kecepatan dan Nafsu Makan
Dua warna ini adalah “pemacu” selera makan yang paling efektif.
- Merah: Secara fisiologis dapat meningkatkan denyut nadi dan tekanan darah, yang memicu rasa lapar dan keinginan untuk segera bertindak (membeli).
- Kuning: Sering dikaitkan dengan rasa bahagia, keramahan, dan optimisme. Dalam ilmu Agribisnis, kombinasi kedua warna ini dipelajari sebagai strategi untuk produk makanan ringan (snack) atau makanan cepat saji karena mampu menciptakan rasa urgensi di benak pembeli.
2. Hijau: Simbol Kesegaran dan Keamanan
Bagi mahasiswa yang fokus pada produk pertanian segar atau pangan organik, warna hijau adalah identitas utama.
- Hijau memberikan sinyal bahwa produk tersebut “alami”, “sehat”, dan “bebas kimia”.
- Secara psikologis, warna hijau bersifat menenangkan dan membangun kepercayaan. Mahasiswa Agribisnis menggunakan warna ini pada kemasan sayuran hidroponik atau buah-buahan premium untuk membenarkan harga yang lebih tinggi melalui persepsi kualitas dan keberlanjutan.
3. Oranye: Rasa Lezat dan Terjangkau
Oranye adalah warna yang membangkitkan energi namun tidak seagresif warna merah. Dalam pemasaran pangan, oranye sering digunakan untuk menunjukkan bahwa produk tersebut memiliki rasa yang kuat (seperti pedas atau gurih) namun tetap dengan harga yang terjangkau. Warna ini sangat efektif untuk target pasar remaja dan dewasa muda yang menyukai eksplorasi rasa.
4. Biru dan Ungu: Hati-hati dengan Selera Makan
Mahasiswa Agribisnis juga mempelajari warna-warna yang harus dihindari untuk kategori pangan tertentu.
- Biru: Secara alami, sangat jarang ditemukan makanan berwarna biru di alam. Oleh karena itu, otak cenderung menganggap warna biru sebagai penekan nafsu makan (appetite suppressant). Biru lebih tepat digunakan untuk produk air mineral atau makanan fungsional yang berfokus pada ketenangan dan kemurnian, bukan rasa yang menggoda.
Implementasi Strategis bagi Lulusan Universitas Ma’soem
Memahami hubungan warna dan selera makan memberikan keunggulan strategis bagi mahasiswa Universitas Ma’soem dalam menyusun rencana bisnis (business plan). Mereka tidak hanya menciptakan produk, tetapi juga mampu:
- Menentukan Segmentasi Pasar: Menggunakan warna gelap (hitam/emas) untuk pasar premium atau warna pastel untuk pasar anak-anak.
- Meningkatkan Efisiensi Iklan: Memilih warna latar belakang iklan yang selaras dengan pesan nutrisi produk.
- Branding UMKM: Membantu petani mitra atau UMKM lokal dalam mendesain kemasan yang mampu bersaing di rak supermarket modern.
Warna adalah bahasa pertama yang dibaca oleh mata sebelum lidah mengecap rasa. Bagi mahasiswa Agribisnis, menguasai psikologi warna berarti menguasai cara memengaruhi keputusan konsumen dalam hitungan detik. Di Universitas Ma’soem, penggabungan antara manajemen produksi pertanian dan analisis perilaku konsumen melalui warna memastikan lulusannya mampu membawa produk lokal menuju kesuksesan pasar yang lebih luas dan profesional.





