Pernah nggak kamu ngerasa bingung pas milih jurusan? “Nanti kalau lulus kerjanya jadi apa ya? Jangan-jangan cuma jadi admin atau marketing yang saingannya jutaan orang.” Kalau itu ketakutanmu, kamu harus lihat data yang nggak banyak orang tahu tentang Agribisnis.
Banyak yang ngira lulusan Agribisnis itu ujung-ujungnya cuma ke sawah. Padahal, menurut laporan dari World Economic Forum (WEF), sektor pangan dan rantai pasok adalah satu dari lima bidang yang bakal paling banyak menyerap tenaga kerja ahli sampai tahun 2030. Di Universitas Masoem, kita bakal buka mata kamu kalau prospek kerja Agribisnis itu seluas samudra.
1. Belajar dari Visi Bob Sadino
Kenapa kita harus bahas Bob Sadino? Karena beliau membuktikan kalau Agribisnis itu “bermain” di banyak kaki. Beliau nggak cuma punya peternakan, tapi beliau punya retail (Kem Chicks), punya pengolahan daging (Kem Food), dan ekspor-impor sayuran (Kem Farm).
Beliau menunjukkan kalau lulusan Agribisnis itu bisa jadi apa saja:
- Manager Retail: Mengelola supermarket yang butuh pasokan pangan segar.
- Analisis Kredit Bank: Perbankan butuh orang yang paham kelayakan bisnis pertanian buat kasih pinjaman miliaran.
- Supply Chain Manager: Mengatur gimana caranya ayam di kandang bisa sampai ke piring konsumen di kota besar dengan biaya termurah.
2. Sektor Perbankan dan Pemerintahan Butuh Kamu
Tahu nggak, hampir semua Bank besar di Indonesia (seperti BRI, Mandiri, atau BNI) punya divisi khusus pertanian? Mereka butuh orang yang paham Agribisnis buat jadi Account Officer. Kenapa? Karena orang ekonomi biasa nggak bakal tahu bedanya jagung kualitas ekspor sama jagung pakan ternak.
Data dari Kementerian Pertanian juga menunjukkan kalau kita kekurangan ribuan tenaga penyuluh dan analis kebijakan pangan di tingkat kabupaten sampai nasional. Di Masoem, kamu dididik buat punya kompetensi ini. Jadi, pilihan kerjamu nggak cuma terbatas di swasta, tapi juga terbuka lebar di birokrasi negara.
3. Logika “Anti-Lapar” dalam Karier
Saat pandemi atau resesi ekonomi, sektor apa yang tetap jalan? Teknologi bisa goyang, industri kreatif bisa sepi, tapi industri pangan nggak pernah berhenti.
Berdasarkan data LinkedIn, permintaan untuk posisi “Agri-Analyst” dan “Commodity Trader” naik signifikan dalam tiga tahun terakhir. Perusahaan-perusahaan besar seperti Indofood, Unilever, atau Nestlé selalu butuh orang yang paham cara dapetin bahan baku berkualitas dari petani. Di sinilah kamu masuk. Kamu bukan buruh, kamu adalah jembatan antara petani dan raksasa industri.
4. Menjadi “Social Entrepreneur” Seperti Panutan Kita
Kalau kamu punya jiwa bebas kayak Bob Sadino, kamu bisa bangun usahamu sendiri. Di Universitas Masoem, kita nggak cuma kasih teori, tapi kita kasih mental bisnis.
Kamu bisa jadi konsultan buat para petani di desa kamu, bantu mereka dapet modal dari investor, terus kamu yang kelola penjualannya ke supermarket. Kamu dapet untung (cuan), petani dapet kesejahteraan. Inilah yang namanya High-Value Career. Kamu dihargai mahal karena kamu bisa nyelesain masalah perut orang banyak.
5. Masa Depanmu Nggak Bakal “Jenuh”
Pilih jurusan itu ibarat milih kendaraan buat masa depan. Jangan pilih kendaraan yang jalannya sudah macet parah. Pilih Agribisnis di Universitas Masoem yang jalannya masih sangat luas dan saingannya belum sebanyak jurusan “sejuta umat”.
Dunia butuh orang yang tahu cara mengelola sumber daya alam kita. Jadilah bagian dari solusi, dan biarkan dunia yang mencari kamu karena keahlianmu yang langka. Ingat kata Bob Sadino: “Setinggi apa pun pangkat yang kamu miliki, kamu tetaplah karyawan. Sekecil apa pun bisnis yang kamu punya, kamu adalah bosnya.”





