Kenapa Ada Anak yang Tidak Suka Sekolah Padahal Nilainya Bagus?

Tidak semua anak yang mendapatkan nilai bagus di sekolah berarti merasa nyaman menjalani kegiatan belajar. Ada anak yang mampu mengerjakan tugas, memahami pelajaran, bahkan memperoleh nilai tinggi dalam ujian, tetapi tetap merasa tidak suka sekolah. Kondisi ini cukup membingungkan bagi orang tua karena prestasi akademik sering dianggap sebagai tanda bahwa anak menikmati proses pendidikannya.

Padahal, kemampuan akademik dan kenyamanan berada di lingkungan sekolah merupakan dua hal yang berbeda. Anak bisa saja memiliki kemampuan belajar yang baik, tetapi menghadapi persoalan lain yang membuat sekolah terasa melelahkan, membosankan, atau bahkan menjadi sumber tekanan.

Anak Bisa Berprestasi tetapi Tidak Menikmati Sekolah

Nilai yang bagus menunjukkan bahwa anak memiliki kemampuan tertentu dalam mengikuti tuntutan akademik. Namun, nilai tidak selalu menggambarkan kondisi emosional, hubungan sosial, maupun pengalaman anak selama berada di sekolah.

Ada anak yang belajar keras karena ingin memenuhi harapan orang tua. Ada pula yang terbiasa mendapatkan nilai tinggi sehingga merasa harus selalu mempertahankan prestasinya. Dalam situasi tertentu, keberhasilan akademik justru dapat menjadi sumber tekanan.

Anak mungkin berpikir bahwa sekali mendapatkan nilai rendah, dirinya akan mengecewakan orang tua atau guru. Akibatnya, kegiatan belajar yang seharusnya menjadi proses berkembang berubah menjadi kewajiban yang harus dijalani agar tetap dianggap berprestasi.

Penyebab Anak Tidak Suka Sekolah Meski Nilainya Bagus

Ada berbagai alasan yang dapat membuat anak tidak menyukai sekolah. Penyebabnya juga tidak selalu berkaitan langsung dengan pelajaran.

1. Merasa Bosan dengan Rutinitas

Sekolah memiliki jadwal, aturan, tugas, ujian, dan aktivitas yang berlangsung berulang. Bagi sebagian anak, rutinitas tersebut terasa monoton.

Anak yang cepat memahami materi mungkin merasa kurang tertantang ketika harus mengikuti pembelajaran yang sama dalam waktu cukup lama. Kebosanan bukan berarti anak malas atau tidak memiliki kemampuan. Bisa jadi, ia membutuhkan variasi metode belajar yang lebih sesuai dengan karakter dan kebutuhannya.

2. Mengalami Tekanan Akademik

Anak dengan nilai bagus sering mendapatkan ekspektasi lebih tinggi. Ketika prestasi terus menjadi ukuran utama keberhasilan, anak dapat merasa bahwa dirinya harus selalu sempurna.

Tekanan tersebut bisa muncul melalui tuntutan untuk mendapatkan nilai tertentu, masuk peringkat atas, memenangkan kompetisi, atau selalu menjadi siswa yang berprestasi. Jika berlangsung terus-menerus, sekolah dapat diasosiasikan dengan tuntutan, bukan pengalaman belajar yang menyenangkan.

3. Memiliki Masalah Pertemanan

Kehidupan sekolah tidak hanya berkaitan dengan kegiatan akademik. Hubungan dengan teman memiliki pengaruh besar terhadap kenyamanan anak.

Anak yang mengalami konflik pertemanan, merasa dikucilkan, kesulitan beradaptasi, atau menjadi sasaran perundungan mungkin tetap memperoleh nilai bagus karena kemampuan akademiknya tidak terganggu secara langsung. Namun, secara emosional, ia bisa merasa tidak nyaman berada di sekolah.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya bertanya, “Berapa nilaimu?” tetapi juga mencari tahu bagaimana hubungan anak dengan teman dan gurunya.

4. Tidak Cocok dengan Cara Belajar di Kelas

Setiap anak memiliki cara memahami informasi yang berbeda. Ada yang lebih mudah belajar melalui praktik, diskusi, visual, eksperimen, atau kegiatan yang melibatkan interaksi.

Ketika pembelajaran terlalu berfokus pada metode tertentu, anak yang sebenarnya mampu memahami materi bisa merasa kurang nyaman. Nilainya tetap bagus karena ia dapat menyesuaikan diri, tetapi proses belajar terasa menguras energi.

5. Merasa Tidak Didengar

Anak juga membutuhkan ruang untuk menyampaikan pendapat dan perasaannya. Ketika keluhan tentang sekolah selalu dianggap sebagai bentuk kemalasan, anak bisa memilih untuk diam.

Padahal, kalimat seperti “Aku tidak suka sekolah” dapat memiliki banyak arti. Anak mungkin sedang mengatakan bahwa ia bosan, lelah, cemas, kesulitan bergaul, tidak cocok dengan lingkungan, atau merasa terlalu banyak tuntutan.

Memahami alasan di balik ucapan tersebut jauh lebih penting daripada langsung memaksa anak untuk menyukai sekolah.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Orang Tua?

Orang tua tidak perlu langsung menganggap anak bermasalah ketika ia tidak menyukai sekolah. Langkah pertama adalah mencoba memahami penyebabnya.

Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:

  • Ajak berbicara tanpa menghakimi. Berikan kesempatan kepada anak untuk menceritakan pengalaman di sekolah.
  • Perhatikan perubahan perilaku. Misalnya, anak menjadi lebih mudah marah, menarik diri, sulit tidur, atau terus-menerus mengeluh sebelum berangkat sekolah.
  • Jangan menjadikan nilai sebagai satu-satunya ukuran. Kemampuan sosial, kemandirian, kreativitas, dan kesehatan emosional juga penting.
  • Berkomunikasi dengan guru. Informasi dari wali kelas atau guru mata pelajaran dapat membantu orang tua melihat kondisi anak dari sudut pandang berbeda.
  • Cari bantuan profesional bila diperlukan. Konselor atau guru BK dapat membantu memahami persoalan yang berkaitan dengan perkembangan pribadi, sosial, maupun akademik anak.

Pendekatan tersebut membantu orang tua melihat bahwa anak yang tidak suka sekolah belum tentu tidak suka belajar. Bisa jadi, masalahnya terletak pada lingkungan, tekanan, metode pembelajaran, atau pengalaman sosial yang sedang dihadapinya.

Pentingnya Peran Guru dan Konselor di Sekolah

Guru memiliki peran penting dalam menciptakan suasana belajar yang membuat anak merasa aman untuk berkembang. Sementara itu, konselor atau guru Bimbingan dan Konseling (BK) dapat membantu ketika anak menghadapi persoalan pribadi, sosial, maupun akademik.

Pemahaman mengenai kondisi siswa menjadi semakin penting karena prestasi akademik tidak selalu menunjukkan keadaan psikologis seseorang. Anak yang terlihat tenang dan berprestasi pun tetap dapat membutuhkan dukungan.

Hal ini juga menunjukkan bahwa bidang pendidikan tidak hanya membutuhkan tenaga pengajar yang menguasai materi, tetapi juga tenaga profesional yang memahami perkembangan peserta didik.

Bagi calon mahasiswa yang tertarik pada dunia pendidikan dan pendampingan siswa, Ma’soem University dapat menjadi salah satu pilihan kampus swasta yang relevan untuk dipertimbangkan. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Ma’soem University saat ini memiliki dua program studi, yaitu S1 Bimbingan dan Konseling (BK) serta S1 Pendidikan Bahasa Inggris.

Program Studi Bimbingan dan Konseling berfokus pada kemampuan memahami dan mendampingi individu, termasuk dalam konteks pendidikan. Kompetensi tersebut relevan bagi mereka yang tertarik membantu peserta didik menghadapi persoalan akademik, sosial, perkembangan diri, maupun perencanaan karier.

Sementara itu, Pendidikan Bahasa Inggris berfokus pada penguasaan bahasa sekaligus kemampuan pedagogis untuk menjadi pendidik profesional. Kedua program studi tersebut memberikan pilihan yang berbeda bagi calon mahasiswa yang ingin berkarier di bidang pendidikan.

Kapan Anak Perlu Mendapatkan Pendampingan Lebih Lanjut?

Rasa tidak suka terhadap sekolah sesekali dapat terjadi, terutama ketika anak sedang lelah, menghadapi tugas yang sulit, atau mengalami konflik tertentu. Namun, perhatian lebih diperlukan jika penolakan terhadap sekolah berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.

Beberapa tanda yang patut diperhatikan antara lain:

  • Anak terus meminta izin tidak masuk sekolah tanpa alasan yang jelas.
  • Muncul perubahan suasana hati yang cukup drastis.
  • Anak menjadi sangat cemas ketika membicarakan sekolah.
  • Prestasi akademik mulai menurun secara tiba-tiba.
  • Anak menarik diri dari teman atau keluarga.
  • Keluhan fisik seperti sakit kepala atau sakit perut sering muncul menjelang sekolah.

Dalam kondisi seperti itu, orang tua dapat berdiskusi lebih lanjut dengan pihak sekolah, terutama guru BK, untuk mencari sumber masalah dan menentukan bentuk dukungan yang sesuai.

No. WhatsApp Ma’soem University: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com