Kenapa Anak Muda Sekarang Sering Merasa “Tidak Punya Waktu”, Padahal Seharian di Rumah?

Pernah merasa seharian berada di rumah, tetapi ketika malam tiba justru merasa tidak sempat melakukan banyak hal? Tugas belum selesai, kamar belum dirapikan, buku belum dibaca, bahkan waktu untuk beristirahat pun terasa kurang. Kondisi seperti ini cukup sering dialami anak muda yang menjalani aktivitas belajar, kuliah, bekerja, atau menghabiskan banyak waktu di rumah.

Persoalannya bukan selalu karena terlalu banyak kegiatan. Cara seseorang menggunakan perhatian, mengatur prioritas, serta berinteraksi dengan teknologi juga dapat memengaruhi persepsi terhadap waktu. Hari yang sebenarnya memiliki banyak jam kosong bisa terasa cepat berlalu karena sebagian besar waktu terpecah ke berbagai aktivitas kecil.

Banyak Waktu Bukan Berarti Banyak Waktu Produktif

Berada di rumah sepanjang hari sering dianggap sebagai kondisi yang memberikan banyak waktu luang. Padahal, waktu yang tersedia belum tentu benar-benar dapat digunakan untuk kegiatan yang ingin diselesaikan.

Misalnya, seseorang berencana mengerjakan tugas kuliah sejak pagi. Sebelum mulai, ia membuka media sosial selama beberapa menit. Setelah itu, membalas pesan, menonton satu video, kemudian kembali membuka media sosial. Tanpa terasa, satu atau dua jam sudah berlalu.

Waktu tersebut tetap digunakan, tetapi tidak sepenuhnya digunakan untuk menyelesaikan tujuan utama. Akibatnya, ketika sore atau malam tiba, muncul perasaan bahwa hari terasa terlalu singkat.

Kebiasaan “Sebentar Saja” yang Menghabiskan Waktu

Salah satu penyebab anak muda merasa tidak punya waktu adalah kebiasaan melakukan aktivitas singkat secara berulang. Aktivitas lima atau sepuluh menit mungkin terlihat tidak signifikan. Namun, jika dilakukan berkali-kali sepanjang hari, akumulasinya bisa cukup besar.

Beberapa contohnya adalah:

  • mengecek notifikasi setiap beberapa menit;
  • membuka media sosial ketika sedang bosan;
  • menonton video pendek secara berulang;
  • berpindah-pindah aplikasi ketika mengerjakan tugas;
  • membalas pesan di tengah kegiatan penting;
  • mencari satu informasi di internet lalu terdistraksi oleh konten lain.

Masalahnya bukan sekadar durasi penggunaan perangkat. Perpindahan perhatian juga membuat seseorang membutuhkan waktu untuk kembali fokus pada pekerjaan sebelumnya.

Multitasking Membuat Aktivitas Terasa Lebih Berat

Mengerjakan beberapa hal sekaligus sering dianggap sebagai cara untuk menghemat waktu. Misalnya, belajar sambil menonton video, mengerjakan tugas sambil membuka media sosial, atau mengikuti kelas daring sambil membalas percakapan.

Padahal, perhatian manusia memiliki keterbatasan. Ketika berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain, fokus juga ikut berpindah. Tugas yang sebenarnya dapat selesai dalam satu jam bisa terasa lebih lama karena terus terganggu.

Akibatnya, seseorang bukan hanya kehilangan waktu, tetapi juga merasa lebih lelah. Pada akhir hari, muncul kesan bahwa sudah melakukan banyak hal, tetapi hasil yang diperoleh tidak terlalu banyak.

Waktu Istirahat yang Tidak Benar-Benar Istirahat

Istirahat juga perlu diperhitungkan ketika membicarakan produktivitas anak muda. Masalahnya, tidak semua aktivitas yang terlihat santai benar-benar membuat tubuh dan pikiran beristirahat.

Berbaring sambil terus melihat layar, misalnya, memang membuat seseorang tidak melakukan pekerjaan berat. Namun, perhatian tetap aktif menerima berbagai informasi. Notifikasi, video, komentar, berita, dan percakapan yang muncul terus-menerus dapat membuat pikiran tetap sibuk.

Tidak berarti penggunaan media sosial harus selalu dihindari. Yang lebih penting adalah membedakan waktu untuk hiburan, waktu untuk menyelesaikan tanggung jawab, dan waktu untuk beristirahat.

Rutinitas yang Tidak Teratur Bisa Mengacaukan Persepsi Waktu

Anak muda yang belajar atau bekerja dari rumah sering memiliki jadwal yang lebih fleksibel. Fleksibilitas ini memberikan keuntungan, tetapi juga dapat membuat batas antara waktu produktif dan waktu santai menjadi kurang jelas.

Bangun tanpa jadwal yang pasti, menunda pekerjaan hingga siang, kemudian mulai mengerjakan tugas pada malam hari dapat membuat satu hari terasa tidak terstruktur. Pekerjaan yang seharusnya dilakukan secara bertahap akhirnya menumpuk.

Rutinitas sederhana dapat membantu memberikan batas yang lebih jelas, misalnya menentukan jam mulai belajar, waktu istirahat, waktu mengerjakan tugas, serta waktu berhenti menggunakan perangkat untuk keperluan akademik.

Cara Mengelola Waktu Saat Banyak Aktivitas Dilakukan di Rumah

Mengatur waktu tidak harus selalu menggunakan sistem yang rumit. Anak muda dapat memulainya dari beberapa kebiasaan sederhana.

1. Tentukan tiga prioritas utama

Tidak semua pekerjaan harus diselesaikan dalam waktu yang sama. Pilih tiga hal yang paling penting untuk dilakukan pada hari tersebut. Setelah selesai, barulah lanjutkan ke pekerjaan lainnya.

2. Pisahkan waktu fokus dan waktu hiburan

Ketika sedang mengerjakan tugas, letakkan aktivitas hiburan pada waktu yang sudah ditentukan. Cara ini membantu mengurangi kebiasaan membuka media sosial setiap kali merasa bosan.

3. Gunakan target yang spesifik

Target seperti “mau belajar hari ini” masih terlalu umum. Target “membaca materi selama 45 menit dan membuat rangkuman satu halaman” lebih mudah dilakukan dan dievaluasi.

4. Berikan jeda

Bekerja terus-menerus tanpa istirahat bukan berarti menggunakan waktu secara efektif. Jeda singkat dapat membantu menjaga konsentrasi sebelum kembali mengerjakan tugas.

5. Perhatikan waktu yang paling sering terbuang

Coba amati aktivitas yang paling sering membuat rencana harian tertunda. Bisa jadi masalahnya bukan kekurangan waktu, melainkan terlalu banyak waktu yang terpecah oleh aktivitas kecil.

Lingkungan Pendidikan Juga Membentuk Kebiasaan Mengatur Waktu

Kemampuan mengatur waktu tidak hanya berkaitan dengan kehidupan pribadi. Bagi mahasiswa, keterampilan ini berhubungan erat dengan aktivitas akademik seperti mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, melakukan presentasi, membaca referensi, dan mempersiapkan kegiatan kampus.

Ma’soem University sebagai salah satu kampus swasta di Bandung menjadi salah satu lingkungan pendidikan yang relevan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kebiasaan belajar dan mengelola tanggung jawab akademik. Mahasiswa tetap perlu mengatur waktu secara mandiri karena jadwal perkuliahan tidak selalu menentukan seluruh kegiatan yang harus diselesaikan.

Bagi mahasiswa yang tertarik pada bidang pendidikan, FKIP Ma’soem University memiliki dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Keduanya memiliki aktivitas akademik yang menuntut mahasiswa untuk mengatur waktu antara perkuliahan, tugas, praktik, dan persiapan kegiatan lainnya.

“Tidak Punya Waktu” Bisa Berarti Tidak Punya Batas yang Jelas

Perasaan tidak memiliki waktu tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang benar-benar kekurangan waktu. Ada kalanya masalah tersebut muncul karena waktu yang tersedia tersebar ke banyak aktivitas, perhatian sering berpindah, dan jadwal harian tidak memiliki batas yang jelas.

Anak muda yang lebih banyak berada di rumah tetap membutuhkan struktur. Menentukan kapan harus belajar, kapan boleh bermain, kapan mengakses media sosial, dan kapan berhenti melakukan aktivitas akademik dapat membantu membuat penggunaan waktu lebih terarah.

Pada akhirnya, mengelola waktu bukan hanya tentang membuat lebih banyak kegiatan masuk ke dalam satu hari. Yang lebih penting adalah mengetahui aktivitas mana yang memang perlu mendapatkan perhatian dan memberikan ruang yang cukup untuk menyelesaikannya.

Informasi Ma’soem University

No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com