Belajar membutuhkan konsentrasi, tetapi kemampuan untuk fokus tidak hanya dipengaruhi oleh kemauan. Kondisi lingkungan juga memiliki peran besar, terutama tingkat kebisingan di sekitar tempat belajar. Suara kendaraan, percakapan orang lain, televisi, musik, atau aktivitas di ruangan sebelah dapat membuat proses memahami materi terasa lebih berat.
Tidak sedikit pelajar dan mahasiswa yang merasa cepat lelah ketika belajar di tempat ramai. Padahal, waktu belajar yang digunakan mungkin sama seperti biasanya. Perbedaannya terletak pada jumlah gangguan yang harus dihadapi otak selama menerima dan mengolah informasi.
Otak Harus Bekerja Lebih Keras Saat Lingkungan Berisik
Ketika belajar, otak berusaha mempertahankan perhatian pada informasi yang sedang dipelajari. Suara yang muncul di sekitar dapat menarik perhatian secara tidak sengaja sehingga fokus harus dikembalikan berkali-kali.
Misalnya, seseorang sedang membaca materi tentang suatu teori. Di tengah proses membaca, terdengar percakapan orang lain. Walaupun tidak berniat mendengarkan, otak tetap dapat menangkap suara tersebut dan mencoba mengenali apa yang sedang dibicarakan. Setelah itu, perhatian perlu diarahkan kembali pada materi.
Gangguan kecil yang terjadi berulang kali dapat membuat proses belajar menjadi kurang efisien. Energi mental tidak hanya digunakan untuk memahami materi, tetapi juga untuk mengabaikan berbagai suara yang muncul.
Kebisingan Mengganggu Konsentrasi Belajar
Konsentrasi bukan berarti seseorang harus berada dalam kondisi yang benar-benar sunyi. Sebagian orang justru masih dapat belajar sambil mendengarkan musik atau berada di lingkungan yang memiliki suara latar.
Masalah biasanya muncul ketika suara di sekitar memiliki karakter yang sulit diabaikan. Percakapan manusia, suara notifikasi, suara kendaraan yang berubah-ubah, atau bunyi keras secara tiba-tiba cenderung lebih mudah menarik perhatian.
Jenis aktivitas belajar juga berpengaruh. Membaca teks, menghafal materi, mengerjakan soal, menulis tugas, dan memahami konsep baru membutuhkan tingkat konsentrasi yang berbeda. Tugas yang membutuhkan pemrosesan informasi secara mendalam biasanya lebih mudah terganggu oleh suara yang tidak relevan.
Kenapa Setelah Belajar di Tempat Berisik Tubuh Terasa Lebih Lelah?
Rasa lelah setelah belajar tidak selalu berarti tubuh melakukan aktivitas fisik berat. Aktivitas mental juga dapat menguras energi. Ketika lingkungan penuh gangguan, otak perlu terus melakukan penyaringan terhadap informasi yang masuk.
Bayangkan seseorang sedang mengerjakan tugas di sebuah ruangan yang ramai. Ada orang berbicara, pintu terbuka dan tertutup, suara kendaraan terdengar dari luar, serta notifikasi ponsel muncul beberapa kali. Setiap gangguan mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Namun, perhatian yang terpecah berulang kali dapat membuat proses menyelesaikan tugas terasa jauh lebih panjang.
Akibatnya, seseorang dapat mengalami:
- lebih cepat merasa lelah saat membaca;
- sulit mengingat informasi yang baru dipelajari;
- lebih sering mengulang materi;
- membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas;
- merasa sulit memulai kembali setelah konsentrasi terganggu;
- lebih mudah merasa jenuh atau frustrasi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kualitas lingkungan belajar dapat memengaruhi pengalaman belajar, bukan hanya jumlah waktu yang dihabiskan untuk belajar.
Tidak Semua Suara Memiliki Dampak yang Sama
Menariknya, respons terhadap kebisingan tidak selalu sama pada setiap orang. Ada orang yang dapat belajar di kafe atau ruang publik tanpa merasa terlalu terganggu. Ada pula yang membutuhkan ruangan tenang agar dapat memahami materi secara optimal.
Suara yang konstan juga dapat terasa berbeda dibandingkan suara yang berubah-ubah. Misalnya, suara kipas atau pendingin ruangan yang stabil mungkin lebih mudah diabaikan daripada percakapan yang terus berganti topik.
Kebiasaan dan jenis tugas juga menjadi faktor penting. Seseorang mungkin tetap mampu mengerjakan tugas sederhana di tempat ramai, tetapi membutuhkan suasana lebih tenang ketika membaca materi yang kompleks atau mempersiapkan presentasi.
Karena itu, tidak ada satu kondisi lingkungan yang selalu paling ideal untuk semua orang. Yang penting adalah mengenali situasi yang membantu seseorang mempertahankan fokus.
Cara Membuat Tempat Belajar Lebih Nyaman
Tidak semua orang memiliki ruang belajar pribadi yang benar-benar tenang. Mahasiswa yang tinggal di kos, menggunakan perpustakaan, atau belajar di rumah bersama keluarga mungkin harus beradaptasi dengan kondisi sekitar.
Beberapa langkah sederhana dapat dicoba untuk mengurangi gangguan:
Pilih Waktu yang Lebih Tenang
Jika memungkinkan, tentukan waktu belajar ketika aktivitas di sekitar sedang berkurang. Pagi atau malam hari bisa menjadi pilihan bagi sebagian orang, selama tetap sesuai dengan rutinitas dan kebutuhan istirahat.
Jauhkan Sumber Gangguan
Ponsel dapat menjadi sumber gangguan yang cukup besar. Mengaktifkan mode senyap atau menonaktifkan notifikasi selama sesi belajar dapat membantu menjaga perhatian tetap pada tugas.
Gunakan Suara Latar yang Sesuai
Sebagian orang merasa terbantu oleh musik instrumental atau suara latar yang stabil. Namun, pilihan ini sebaiknya disesuaikan dengan jenis tugas. Musik berlirik dapat menjadi gangguan ketika seseorang sedang membaca atau menulis.
Gunakan Perpustakaan atau Ruang Belajar
Ruang yang memang diperuntukkan bagi kegiatan akademik dapat menjadi alternatif ketika rumah terlalu ramai. Lingkungan seperti perpustakaan juga membantu membentuk suasana yang mendorong seseorang untuk lebih fokus.
Lingkungan Kampus Juga Berpengaruh pada Kebiasaan Belajar
Bagi mahasiswa, kegiatan belajar tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Membaca materi, mengerjakan tugas, berdiskusi, dan mempersiapkan presentasi juga membutuhkan tempat yang mendukung konsentrasi.
Ma’soem University sebagai salah satu kampus swasta di Bandung menjadi salah satu lingkungan pendidikan yang relevan bagi mahasiswa yang menjalani berbagai aktivitas akademik. Kebutuhan mahasiswa untuk mengikuti pembelajaran, mengerjakan tugas, dan mempersiapkan kegiatan akademik membuat pemilihan waktu serta tempat belajar tetap penting, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus.
Bagi mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), misalnya, kegiatan akademik dapat berkaitan dengan membaca materi, menyusun tugas, melakukan presentasi, maupun mempersiapkan praktik pembelajaran. FKIP Ma’soem University sendiri memiliki dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Kedua bidang tersebut sama-sama membutuhkan aktivitas yang menuntut perhatian dan pengolahan informasi secara aktif.
Belajar Efektif Tidak Selalu Berarti Belajar Lebih Lama
Ketika belajar di tempat berisik membuat seseorang cepat lelah, menambah durasi belajar belum tentu menjadi solusi terbaik. Sesi belajar yang lebih singkat tetapi fokus dapat lebih terasa efektif dibandingkan duduk berjam-jam sambil terus kehilangan konsentrasi.
Salah satu cara yang dapat dicoba adalah membagi waktu belajar menjadi beberapa sesi. Setelah fokus selama periode tertentu, seseorang dapat mengambil jeda singkat sebelum kembali mempelajari materi.
Kebiasaan ini juga membantu seseorang mengenali kapan konsentrasi mulai menurun. Jika setelah beberapa waktu membaca materi seseorang mulai sering mengulang kalimat yang sama atau berpindah perhatian ke suara di sekitar, kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa lingkungan atau waktu belajar perlu disesuaikan.
Pada akhirnya, tempat belajar yang nyaman bukan hanya persoalan ruangan yang terlihat rapi. Tingkat kebisingan, jenis suara, waktu belajar, jenis tugas, dan kemampuan seseorang dalam mempertahankan perhatian turut menentukan seberapa berat proses belajar terasa. Memilih lingkungan yang sesuai dapat membantu mengurangi gangguan sehingga energi mental lebih banyak digunakan untuk memahami materi daripada berusaha mengabaikan suara di sekitar.
Kontak Ma’soem University
No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com




