Ketika Konsumen Beralih dari Search Ke Social, Bagaimana Strategi Pemasaran Bisnis Ikut Berubah?

Dulu, ketika ingin mencari produk, konsumen mungkin langsung mengetik kata kunci di mesin pencarian. Kini, kebiasaan tersebut mulai berdampingan dengan cara yang lebih visual dan interaktif. Produk bisa ditemukan ketika seseorang sedang melihat video, membaca komentar, mengikuti rekomendasi kreator, atau sekadar scrolling media sosial. Perubahan kebiasaan ini membuat bisnis e-commerce tidak cukup hanya memikirkan bagaimana produknya muncul di hasil pencarian. Mereka juga perlu memikirkan bagaimana produk tersebut bisa ditemukan dan menarik perhatian di tengah aktivitas sosial konsumen.

Dari Mencari Produk Menjadi Menemukan Produk

Perbedaan search dan social terlihat dari cara konsumen memulai perjalanan belanjanya. Search biasanya muncul ketika seseorang sudah memiliki kebutuhan tertentu. Misalnya, calon pembeli mengetik “sepatu olahraga wanita” karena memang sedang mencari sepatu.

Sementara itu, social dapat menciptakan kebutuhan yang sebelumnya belum terpikirkan. Seseorang bisa saja awalnya hanya menonton video, kemudian melihat rekomendasi tas, tertarik dengan produknya, membaca komentar, dan akhirnya mencari tahu lebih lanjut.

Perubahan ini membuat peluang pemasaran menjadi lebih luas. Konsumen tidak selalu datang dengan niat membeli sejak awal. Mereka dapat mengenal produk melalui:

  • Video pendek dan konten edukatif.
  • Rekomendasi dari kreator atau pengguna lain.
  • Komentar dan ulasan pelanggan.
  • Konten yang muncul berdasarkan minat mereka.

Karena itu, bisnis perlu hadir bukan hanya ketika konsumen sedang mencari, tetapi juga ketika mereka sedang menemukan sesuatu yang menarik.

Ketika Strategi Lama Tidak Lagi Cukup

Masalah mulai muncul ketika bisnis masih mengandalkan strategi pemasaran yang hanya berfokus pada pencarian. Website sudah dioptimalkan, kata kunci sudah disusun, tetapi konten media sosial terasa biasa saja. Akibatnya, bisnis mungkin mudah ditemukan oleh orang yang memang sedang mencari, tetapi kurang mampu menjangkau calon konsumen yang belum memiliki niat membeli.

Di sisi lain, terlalu fokus pada media sosial juga memiliki risiko. Konten bisa mendapatkan banyak tayangan, tetapi belum tentu menghasilkan kunjungan ke toko atau transaksi.

Solusinya bukan memilih search atau social, melainkan memahami fungsi keduanya. Search dapat membantu menangkap konsumen yang sudah memiliki kebutuhan, sedangkan social dapat membangun perhatian dan menciptakan ketertarikan sejak tahap awal.

Konten Harus Membuat Orang Berhenti Scroll

Di media sosial, tantangan pertama bukan langsung menjual produk, melainkan membuat konsumen berhenti sejenak dari aktivitas scrolling. Inilah alasan mengapa konten perlu memiliki pembuka yang menarik sekaligus memberikan alasan bagi audiens untuk terus menonton.

Misalnya, daripada hanya menampilkan foto produk dengan tulisan “Promo Hari Ini”, bisnis dapat membuat konten yang menunjukkan masalah yang sering dialami konsumen, kemudian memperlihatkan bagaimana produk tersebut menjadi salah satu solusi.

Format konten dapat disesuaikan dengan karakter platform, seperti:

  • Video demonstrasi penggunaan produk.
  • Konten perbandingan sebelum dan sesudah.
  • Tips singkat yang berkaitan dengan produk.
  • Cerita pelanggan setelah menggunakan produk.

Dengan pendekatan tersebut, promosi terasa lebih seperti pengalaman yang relevan daripada iklan yang muncul secara tiba-tiba.

Data Menjadi Petunjuk, Bukan Sekadar Angka

Ketika strategi pemasaran berpindah ke social, bisnis perlu memahami bahwa likes dan views bukan satu-satunya indikator yang perlu diperhatikan. Data interaksi dapat membantu menunjukkan bagian mana dari strategi yang berhasil menarik perhatian konsumen.

Bisnis dapat melihat beberapa indikator seperti durasi tontonan, komentar, klik menuju toko, produk yang paling sering disimpan, hingga tingkat konversi. Dari sana, strategi dapat diperbaiki berdasarkan perilaku nyata audiens.

Jika sebuah konten memiliki banyak views tetapi sedikit klik, mungkin masalahnya terletak pada ajakan bertindak atau informasi produk. Sebaliknya, jika konten mendapatkan interaksi tinggi tetapi transaksi rendah, bisnis perlu mengevaluasi harga, halaman produk, kepercayaan pelanggan, atau proses checkout.

Mau Memahami Strateginya Lebih Dalam? Mulai dari Bangku Kuliah

Memahami perubahan perilaku konsumen tidak cukup hanya dengan aktif menggunakan media sosial. Dibutuhkan pemahaman mengenai pemasaran, analisis data, perilaku konsumen, strategi bisnis, hingga pemanfaatan platform digital.

Ma’soem University menyediakan program studi S1 Bisnis Digital yang dapat menjadi pilihan bagi calon mahasiswa yang ingin mempelajari bagaimana bisnis dirancang dan dikembangkan melalui berbagai pendekatan digital, termasuk pemasaran dan pemanfaatan teknologi dalam aktivitas bisnis. Informasi mengenai program studi maupun pendaftaran dapat ditanyakan melalui Admin Univ Ma’soem di +62 851 8563 4253.

Search Tetap Penting, Social Membuka Pintu yang Berbeda

Perubahan perilaku konsumen bukan berarti search kehilangan perannya. Ketika seseorang sudah memiliki kebutuhan dan ingin mencari informasi yang lebih spesifik, mesin pencarian tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan pembelian.

Namun, social memberikan ruang yang berbeda. Di sana, konsumen dapat menemukan produk sebelum menyadari bahwa mereka membutuhkannya. Karena itu, strategi pemasaran yang kuat perlu menghubungkan keduanya.

Bisnis dapat membangun alur yang lebih menyatu: konten social menarik perhatian, informasi produk membangun ketertarikan, search membantu konsumen mencari detail, kemudian toko digital menyediakan proses transaksi yang mudah.

Tantangan Berikutnya: Menjaga Konsumen Tetap Tertarik

Ketika produk semakin mudah ditemukan melalui social, persaingan untuk mendapatkan perhatian juga semakin ramai. Bisnis tidak cukup hanya membuat satu konten menarik lalu berharap konsumen langsung membeli.

Diperlukan strategi yang konsisten, mulai dari memahami target audiens, menentukan jenis konten, membaca data, membangun kepercayaan, hingga mengevaluasi hasil kampanye. Di sinilah kemampuan bisnis digital menjadi semakin relevan.

Konsumen mungkin menemukan sebuah brand hanya dalam beberapa detik saat scrolling. Pertanyaannya, setelah mereka berhenti dan melihat, apa yang membuat mereka mau mengenal lebih jauh? Jawabannya bukan hanya pada produk, tetapi pada bagaimana bisnis merancang seluruh pengalaman dari konten pertama hingga keputusan pembelian.