Oleh: Yasir M Fauzi, S.HI., M.E.Sy., C.IFA
Di era media sosial sekarang ini, sukses sering kali diukur dari seberapa banyak jumlah followers, cuan, atau konten media sosial yang masuk FYP. Tidak sedikit anak muda baik gen Z maupun Gen Alpha yang merasa tertinggal dikarenakan melihat teman sebaya mereka sudah memiliki proyekan suatu bisnis, menikah di usia muda, atau bahkan hidup dengan gaya yang tampak sempurna (walaupun ada yang benar-benar high class dan ada yang nyerempet-nyerempet ingin kelihatan high class demi mengikuti lifestyle). Padahal, hidup bukan tentang perlombaan siapa yang paling cepat menuju semuanya, akan tetapi sebuah perjalanan untuk menemukan makna. Bagi generasi muda, khususnya mahasiswa atau calon mahasiswa, ada proses perjalanan sederhana yang sebenarnya bisa jadi sebuah kompas kehidupan: Kuliah, Kerja, dan Nikah. Dari ketiga kata ini, bukan hanya sekadar urutan aktivitas saja, akan tetapi serangkaian fondasi yang akan membentuk karakter (Character building) untuk membangun masa depan menuju arah yang produktif sekaligus bernilai ibadah (Religius).
Pertama: Kuliah bukan hanya tentang mengejar IPK yang tinggi (curhat colongannya: penulis yang enggak tinggi-tinggi amat IPK-nya), atau sekadar lulus tepat waktu supaya tidak bergelar MA alias Mahasiswa Abadi. Lebih dari itu, sejatinya kampus merupakan sebuah tempat yang disediakan oleh civitas akademikanya untuk mengasah cara berpikir yang kritis terhadap perkembangan zaman, membangun karakter sumber daya manusia yang mempunyai ciri khas Cageur-Bageur-Pinter, dan memperluas akses jaringan dengan softskill yang mumpuni. Di ruang kelas, mahasiswa diajarkan berbagai teori sebagai fondasi pemikiran agar tidak asbun alias asal bunyi. Namun tidak ketinggalan juga di ruang organisasi baik ekstra maupun intra kampus, komunitas-komunitas tertentu, keterbaruan penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat sebagai ruang aplikasi dari teori-teori yang sudah dipelajari di kelas, nilai tambah mereka diajarkan tentang ilmu kepemimpinan, komunikasi, dan tanggung jawab sebagai zoon politican. Itulah sebabnya pendidikan yang didalamnya perkuliahan menurut pandangan agama Islam memiliki posisi yang sangat mulia. Allah SWT. berfirman bahwa Dia (Allah) akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu (QS. Al-Mujadilah: 11). Artinya, kuliah bukan sekadar investasi karier semata, akan tetapi juga sebagai investasi menuju peradaban masa depan. Kalaulah semakin luas ilmu seseorang, maka semakin besar pula peluangnya untuk memberikan manfaat kepada masyarakat luas.
Namun, dunia saat ini bergerak begitu cepat sehingga ijazah saja tidak lagi cukup. Mahasiswa dituntut memiliki kreativitas, kemampuan beradaptasi, keberanian menciptakan peluang, dan jejaring organisasi yang membuka jendela interaksi dengan sesama (bukan dengan AI = dibaca e ai). Di sinilah konsep Kedua yakni Kerja melalui entrepreneurship menjadi sangat relevan. Stigma kerja bukan hanya sebatas ikut kerja kepada orang lain, tapi bagaimana mahasiswa mempunyai mindset membuka pekerjaan buat orang lain melalui berwirausaha. Berwirausaha bukan lagi pilihan terakhir ketika sulit mencari pekerjaan, melainkan pilihan strategis untuk menciptakan lapangan kerja. Generasi Z dikenal kreatif, melek teknologi, dan akrab dengan dunia digital. Potensi tersebut dapat diarahkan untuk membangun bisnis yang halal melalui lembaga Halal Center Ma’soem University, seperti usaha kuliner (food and beverge), fesyen muslim, digital marketing, konten edukasi, atau produk kreatif berbasis teknologi. Nabi Muhammad SAW. sendiri merupakan seorang pedagang yang dikenal jujur, amanah, dan profesional. Begitupun sang Founding Father Al-Ma’soem (Alm. Bapak H. Ma’soem Al-Maghfur Lahu) meneladani akhlak dan tauladan Muhammad sang pedagang/Entrepreneur. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak memisahkan antara aktivitas ekonomi dan nilai-nilai moral.
Menariknya, entrepreneurship bukan hanya soal menghasilkan keuntungan, tetapi juga membangun kebermanfaatan. Seorang entrepreneur sejati tidak sekadar bertanya, “Bagaimana saya mendapatkan uang?”, melainkan juga, “Bagaimana saya memberi uang?” Pola pikir seperti ini melahirkan bisnis yang berkelanjutan sekaligus memberikan dampak sosial yang multi efek. Dalam perspektif ekonomi syariah, kerja/entrepreneur merupakan bagian dari mencari nafkah yang bernilai ibadah selama dilakukan dengan cara yang halal, jujur, dan tidak merugikan orang lain (Antonio, 2001). Dengan demikian, bisnis bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga jalan untuk menebarkan kebaikan sebagaimana jargon; Khairunnas Anfa’uhum Linnas”.
Setelah ilmu dan ikhtiar mencari nafkah, banyak anak muda mulai memikirkan yang Ketiga yakni nikah. Sayangnya, media sosial sering menggambarkan pernikahan hanya sebagai pesta mewah, foto estetik, atau tren “married life goals”. Padahal, esensi pernikahan jauh lebih dalam daripada sekadar seremonial semata. Dalam pandangan Islam, pernikahan merupakan langkah preventif dari pergaulan dan prilaku sex bebas yang melanggar norma-norma religius, nikah juga merupakan suatu perbuatan ibadah yang bertujuan membangun keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah. Pernikahan bukan sekedar menyalurkan nafsu syahwat pelarian dari kesepian, pernikahan merupakan komitmen untuk bertumbuh bersama, saling mendukung dalam kebaikan, dan membangun generasi yang berkualitas untuk generasi yang akan datang. Rasulullah SAW. bahkan menyebutkan bahwa menikah merupakan bagian dari penyempurnaan agama bagi seseorang yang mampu menjalankannya.
Tentu saja, menikah bukan berarti harus menunggu kaya raya atau memiliki segalanya. Yang jauh lebih penting yakni kesiapan mental, spiritual, emosional, dan finansial. Kuliah memberikan bekal ilmu, entrepreneurship melatih kemandirian ekonomi, sedangkan nilai-nilai agama membimbing seseorang agar mampu membangun rumah tangga yang harmonis. Ketika ketiga aspek tersebut bertemu, pernikahan tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai langkah menuju kehidupan yang lebih bermakna.
Generasi Z memiliki peluang besar menjadi generasi penerus pemimpin Indonesia Indonesia dimasa yang akan datang, apalagi kalau diperkuat dengan bonus demografi menuju Indonesia emas 2045 yang mana mereka hidup di era digital dengan akses ilmu yang hampir tanpa batas (unlimited). Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan berupa distraksi, budaya instan, dan kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Karena itu, penting untuk memiliki arah hidup yang jelas. Jangan sampai sibuk mengejar validasi digital tetapi kehilangan tujuan hidup yang sesungguhnya.
Akhirnya, kuliah, kerja, dan nikah, bukanlah kata yang berdiri sendiri. Kuliah membentuk kapasitas diri, kerja melatih kemandirian, nikah menyempurnakan tanggung jawab sosial dan spiritual. Hidup bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai garis akhir, tetapi siapa yang mampu menjalani setiap proses dengan ilmu, kerja keras, kejujuran, dan keimanan. Jika semua itu dijalani secara seimbang, maka kesuksesan yang diraih tidak hanya terasa di dunia, tetapi juga menjadi bekal menuju kehidupan akhirat kelak.
Referensi:
Antonio, M. S. (2001). Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik. Jakarta: Gema Insani.
Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Mujadilah [58]: 11.
Al-Qur’an al-Karim, QS. Ar-Rum [30]: 21.
Azra, A. (2012). Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: Kencana.
Drucker, P. F. (2007). Innovation and Entrepreneurship. New York: HarperBusiness.
Suryana. (2014). Kewirausahaan: Kiat dan Proses Menuju Sukses. Jakarta: Salemba Empat.
Yunus, M. (2007). Creating a World Without Poverty: Social Business and the Future of Capitalism. New York: PublicAffairs.




