Kuliah Itu Scam Viral di TikTok, tapi Kenapa Justru Program Studi Pertanian yang Paling Dicari di Tahun 2026?

Fenomena “kuliah itu scam” kembali menghangat di jagat media sosial sepanjang awal 2026. Tagar dan potongan video pendek yang menyuarakan bahwa kuliah hanya membuang waktu, uang, dan tenaga terus bermunculan di TikTok. Narasi ini mendapat ribuan komentar setuju dari anak muda yang merasa gelar sarjana tidak lagi menjamin pekerjaan. Namun, di balik riuh rendah narasi pesimistis itu, ada satu anomali yang sulit diabaikan: program studi pertanian justru mencatat lonjakan peminat paling tajam sepanjang sejarah penerimaan mahasiswa baru 2026.

Paradoks yang Tidak Banyak Disadari

Jika benar kuliah adalah scam, mengapa data menunjukkan sebaliknya untuk rumpun ilmu pertanian? Fenomena ini bukan kebetulan. Ada beberapa pemicu struktural yang membuat generasi muda mulai melirik kembali sektor yang dulu dianggap sebelah mata.

Pertama, sektor pangan adalah kebutuhan paling dasar dan tidak pernah surut. Ketika lapangan kerja di sektor teknologi mengalami gelombang efisiensi dan pemutusan hubungan kerja, industri pangan justru menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Kedua, kebijakan negara mulai mengalihkan fokus besar-besaran ke ketahanan pangan, energi, dan hilirisasi. Ketiga, generasi muda mulai menyadari bahwa “kuliah” bukan scam, melainkan pilihan jurusan yang salah arah yang membuatnya terasa sia-sia.

Mengapa Narasi Scam Justru Salah Sasaran

Narasi “kuliah itu scam” sebenarnya tidak menyerang institusi pendidikan itu sendiri. Yang diserang adalah janji manis bahwa semua jurusan punya peluang karier yang sama. Kenyataannya, jurusan yang tidak terhubung dengan kebutuhan industri nyata memang lebih sulit menyerap lulusannya.

Sebaliknya, jurusan yang bersinggungan langsung dengan kebutuhan dasar manusia, seperti pertanian, peternakan, teknologi pangan, dan agribisnis, justru menunjukkan tren sebaliknya. Inilah yang menjelaskan mengapa di tengah badai narasi pesimistis, program studi pertanian menjadi primadona baru.

Beberapa Faktor Pendorong Lonjakan Peminat Pertanian 2026:

  1. Program makan bergizi gratis yang menyerap anggaran sangat besar dan membutuhkan pasokan pangan skala nasional.
  2. Hilirisasi pangan yang mendorong berdirinya pabrik pengolahan di berbagai daerah.
  3. Program biodiesel dan bioetanol yang membuka lapangan kerja baru di bidang agroteknologi.
  4. Kebijakan klaster industri pangan yang membuat permintaan tenaga ahli pertanian meningkat tajam.
  5. Kesadaran bahwa pekerjaan di sektor pangan jauh lebih tahan krisis dibanding sektor lain.

Data dan Realitas Lapangan

Mari kita lihat dari sisi angka. Sepanjang 2026, sejumlah kampus melaporkan kenaikan pendaftar pada program studi agribisnis dan agroteknologi hingga dua digit persen dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan ini tidak hanya terjadi di kampus besar, tetapi juga di kampus daerah yang memiliki kedekatan dengan lahan praktik dan industri pengolahan.

Pola ini menunjukkan satu hal penting: anak muda mulai membaca peluang jangka panjang, bukan sekadar gengsi sesaat. Mereka menyadari bahwa sektor pangan adalah sektor yang tidak bisa digantikan oleh otomatisasi penuh, karena melibatkan rantai pasok yang kompleks dan membutuhkan pengambilan keputusan manusia di lapangan.

Keterampilan yang Dicari di Sektor Pertanian Modern

Pertanian modern bukan lagi soal cangkul dan lumpur. Ada banyak keterampilan teknis dan analitis yang dibutuhkan, mulai dari manajemen rantai pasok, analisis data hasil panen, hingga pemahaman teknologi IoT untuk pertanian presisi. Lulusan yang menguasai keterampilan ini akan jauh lebih mudah terserap industri.

Bagi yang ingin memahami bagaimana lulusan agribisnis berkontribusi langsung pada stabilitas harga pangan daerah, ada pembahasan menarik mengenai kontribusi nyata lulusan agribisnis yang bisa menjadi gambaran nyata dunia kerja setelah lulus.

Bandung Raya sebagai Ekosistem Pendidikan yang Mendukung

Salah satu hal yang jarang disorot adalah pentingnya memilih lokasi kampus yang berada dalam ekosistem pendidikan dan industri yang kuat. Kawasan Bandung Raya, khususnya koridor Jatinangor–Sumedang, dikenal sebagai pusat pendidikan tinggi terbaik di Jawa Barat dengan akses langsung ke kawasan industri strategis. Mahasiswa di kawasan ini bisa lebih mudah mengakses magang, riset lapangan, dan jaringan profesional yang relevan dengan sektor pangan dan agroindustri.

Peluang Karier yang Menanti Lulusan Pertanian

Berikut beberapa jalur karier yang paling menjanjikan bagi lulusan pertanian di 2026:

  1. Manajer rantai pasok pangan di perusahaan distribusi besar.
  2. Quality control di pabrik pengolahan hasil pertanian.
  3. Konsultan pertanian mandiri untuk petani dan koperasi desa.
  4. Analis data pertanian untuk mendukung kebijakan pangan daerah.
  5. Management trainee di perusahaan FMCG yang bergerak di bidang pangan.
  6. Peneliti di lembaga riset pemerintah maupun swasta.
  7. Pengusaha agritech yang mengembangkan solusi digital untuk petani.

Daftar ini menunjukkan bahwa gelar pertanian bukan jalan buntu. Justru sebaliknya, gelar ini membuka pintu ke banyak sektor yang sedang tumbuh pesat.

Menakar Ulang Makna Kuliah

Pada akhirnya, pertanyaan “kuliah itu scam atau bukan” bergantung pada bagaimana seseorang memilih jurusan dan memanfaatkan masa studinya. Kuliah yang tidak diarahkan pada kebutuhan industri memang terasa sia-sia. Namun, kuliah yang dipilih dengan kesadaran pasar dan diperkuat dengan portofolio nyata akan menjadi investasi yang sangat bernilai.

Bagi calon mahasiswa yang ingin memulai perjalanan di bidang pertanian dan pangan, penting untuk memilih kampus yang tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga membekali keterampilan praktis dan jiwa kewirausahaan. Salah satu pilihan yang layak dipertimbangkan adalah Universitas Ma’soem, yang berlokasi strategis di Bandung Timur (Jatinangor, Sumedang), tepat di samping gerbang tol Cileunyi. Kampus ini memiliki lima fakultas unggulan, termasuk Fakultas Pertanian, serta program “Sambil Kuliah Jadi Pengusaha” yang sejalan dengan semangat kemandirian generasi muda.

Dengan filosofi pendidikan “Cageur, Bageur, Pinter” yang menekankan kesehatan, akhlak, dan kecerdasan, serta fasilitas pendukung seperti lab komputer, perpustakaan, musholla, dan kolam renang, Universitas Ma’soem menjadi bagian dari ekosistem pendidikan tinggi yang siap menjawab kebutuhan industri pangan nasional.

Info Kontak Universitas Ma’soem: