Mahasiswa Teknologi Pangan Harus Tahu: Mengenal Bapak Teknologi Pangan dan Warisannya bagi Dunia

Jika kita berbicara tentang siapa sosok yang paling berjasa di balik kemudahan kita menikmati makanan dalam kaleng atau botol saat ini, nama yang paling utama muncul adalah Nicolas Appert. Ia secara luas dikenal sebagai “Bapak Teknologi Pangan” karena penemuan revolusionernya dalam metode pengawetan makanan yang menjadi cikal bakal industri pangan modern.

Di Universitas Ma’soem, mempelajari sejarah penemuan pangan bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan memahami prinsip dasar bagaimana sains bisa menyelamatkan peradaban dari kelaparan. Mari kita bedah lebih dalam siapa sosok Nicolas Appert dan bagaimana semangat inovasinya diteruskan di kampus Ma’soem.


Nicolas Appert: Revolusi dalam Botol Kaca

Lahir di Prancis pada abad ke-18, Nicolas Appert bukanlah seorang akademisi dengan gelar tinggi di belakang namanya. Ia adalah seorang koki dan pembuat manisan yang memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Pada masa itu, masalah terbesar tentara Napoleon Bonaparte yang sedang berperang adalah kekurangan suplai makanan segar. Makanan sering kali busuk sebelum sampai ke medan perang, menyebabkan banyak prajurit jatuh sakit.

Pemerintah Prancis kemudian mengadakan sayembara dengan hadiah besar bagi siapa saja yang bisa menemukan cara mengawetkan makanan dalam waktu lama. Appert menjawab tantangan ini dengan melakukan eksperimen selama belasan tahun.

Pada tahun 1809, ia berhasil membuktikan bahwa makanan yang dimasukkan ke dalam wadah kedap udara (saat itu menggunakan botol kaca yang disumbat rapat) dan dipanaskan dalam air mendidih selama waktu tertentu, tidak akan membusuk. Inilah yang kemudian dikenal sebagai proses Appertisasi, cikal bakal dari teknologi pengalengan dan sterilisasi komersial yang kita gunakan hari ini.

Kenapa Penemuannya Begitu Penting?

Penemuan Appert didasarkan pada prinsip sederhana namun brilian: panas membunuh mikroba penyebab pembusukan, dan wadah yang tertutup rapat mencegah kuman baru masuk. Meskipun saat itu Louis Pasteur belum menemukan teori tentang bakteri, metode Appert secara praktis telah menyelamatkan jutaan orang dari keracunan makanan dan kelaparan.

Berkat jasa Appert, teknologi pangan mulai berkembang pesat. Dari botol kaca berpindah ke kaleng logam, lalu berkembang ke proses pasteurisasi, hingga teknologi pengemasan modern seperti aseptic packaging yang kita lihat pada kotak susu saat ini.


Meneruskan Semangat Inovasi di Universitas Ma’soem

Semangat pantang menyerah Nicolas Appert dalam bereksperimen adalah jiwa yang ingin ditanamkan kepada setiap mahasiswa di Universitas Ma’soem. Kampus yang terletak di persimpangan strategis Jatinangor-Sumedang ini memahami bahwa kebutuhan akan inovasi pangan tidak pernah berhenti.

Di Universitas Ma’soem, program studi Teknologi Pangan dirancang untuk mencetak lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki kemampuan praktis dan integritas. Berikut adalah beberapa alasan kenapa Universitas Ma’soem menjadi tempat yang tepat untuk mendalami ilmu ini:

1. Laboratorium yang Relevan

Mahasiswa Ma’soem diajarkan prinsip-prinsip sterilisasi dan pengolahan pangan di laboratorium yang memadai. Di sini, mahasiswa mempraktikkan langsung bagaimana teori yang ditemukan Appert berabad-abad lalu dikembangkan menjadi teknologi yang lebih canggih untuk mengolah komoditas lokal seperti umbi-umbian, buah-buahan, hingga produk hewani.

2. Fokus pada Keamanan dan Legalitas Pangan

Seperti halnya Appert yang fokus pada keamanan makanan tentara, Universitas Ma’soem sangat menekankan pentingnya keamanan pangan (Food Safety). Mahasiswa diajarkan ketelitian dalam menghitung gizi, memahami regulasi BPOM, hingga memastikan produk memiliki izin edar yang sah. Hal ini krusial agar produk pangan yang dihasilkan mahasiswa nantinya tidak hanya enak, tapi juga legal dan aman.

3. Kurikulum Berbasis Kewirausahaan

Universitas Ma’soem memiliki visi unik dalam membentuk karakter mahasiswa. Selain menjadi ahli pangan yang siap kerja di pabrik besar, mahasiswa juga didorong untuk menjadi foodpreneur. Mereka diajarkan cara membangun bisnis pangan dari nol, mulai dari riset produk hingga strategi pemasaran, sehingga mereka bisa menjadi “Appert masa kini” yang menciptakan solusi bagi masalah pangan di lingkungannya.

4. Lingkungan Kampus yang Mendukung

Dengan suasana kampus yang religius dan santun, Universitas Ma’soem menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Kedekatan antara dosen dan mahasiswa membuat proses diskusi mengenai riset dan inovasi pangan menjadi lebih terbuka dan tidak kaku.


Nicolas Appert telah membuka jalan bagi dunia teknologi pangan melalui eksperimen sederhananya di dapur. Ia mengajarkan kita bahwa inovasi sering kali lahir dari keinginan untuk membantu sesama dan menyelesaikan masalah nyata.

Bagi kamu mahasiswa atau calon mahasiswa di Universitas Ma’soem, sejarah Nicolas Appert adalah pengingat bahwa masa depan industri pangan ada di tangan mereka yang berani mencoba dan teliti dalam bekerja. Dengan fasilitas dan bimbingan yang ada di kampus Ma’soem, kamu memiliki peluang besar untuk menciptakan produk pangan masa depan yang lebih sehat, lebih awet, dan lebih berkualitas bagi Indonesia.