Ketika membandingkan guru dan dosen, pertanyaan yang sering muncul adalah siapa yang lebih banyak mengajar. Guru mengajar siswa di sekolah, sedangkan dosen mengajar mahasiswa di perguruan tinggi. Sekilas, perbedaannya terlihat sederhana. Namun, jumlah waktu mengajar tidak dapat ditentukan hanya dari jenjang pendidikan tempat seseorang bekerja.
Guru dan dosen memiliki tanggung jawab yang berbeda. Keduanya sama-sama menjalankan kegiatan pembelajaran, tetapi pekerjaan mereka juga mencakup persiapan, evaluasi, administrasi, pengembangan kompetensi, hingga tugas lain sesuai institusi masing-masing.
Guru Lebih Banyak Berhadapan Langsung dengan Siswa
Guru umumnya memiliki jadwal pembelajaran yang terstruktur berdasarkan mata pelajaran, tingkat kelas, dan jumlah rombongan belajar. Dalam satu hari, seorang guru dapat masuk ke beberapa kelas. Aktivitasnya bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga mengelola kelas, memberikan tugas, melakukan penilaian, serta membantu siswa memahami materi.
Karakteristik pekerjaan guru juga membuat interaksi dengan peserta didik berlangsung secara rutin. Selain kegiatan pembelajaran di kelas, guru dapat memiliki tanggung jawab lain seperti:
- Menyusun perangkat dan materi pembelajaran.
- Menilai tugas dan hasil belajar siswa.
- Melakukan evaluasi pembelajaran.
- Membimbing perkembangan peserta didik.
- Berkoordinasi dengan orang tua atau pihak sekolah.
- Mengikuti kegiatan pengembangan kompetensi guru.
Karena itu, waktu guru berada di sekolah tidak selalu sama dengan jumlah waktu yang digunakan untuk mengajar secara langsung.
Dosen Tidak Hanya Mengajar di Ruang Kelas
Dosen juga memiliki kegiatan pembelajaran, tetapi tanggung jawabnya lebih luas. Di perguruan tinggi, dosen dapat menjalankan pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Bentuk tanggung jawab tersebut dapat berbeda sesuai posisi, bidang keilmuan, dan kebijakan perguruan tinggi.
Kegiatan mengajar dosen biasanya mencakup persiapan materi, penyampaian perkuliahan, diskusi, pemberian tugas, bimbingan akademik, serta evaluasi mahasiswa. Di luar pertemuan kelas, dosen juga dapat melakukan kegiatan seperti penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Hal tersebut membuat perbandingan antara guru dan dosen tidak cukup hanya berdasarkan jumlah jam berada di depan kelas. Seorang dosen mungkin memiliki lebih sedikit pertemuan tatap muka dibandingkan guru, tetapi memiliki pekerjaan akademik lain yang membutuhkan waktu cukup besar.
Jumlah Jam Mengajar Tidak Menentukan Siapa yang Lebih Sibuk
Istilah “lebih banyak mengajar” perlu dibedakan dari “lebih banyak bekerja”. Keduanya memiliki makna yang berbeda.
Guru dapat memiliki lebih banyak jam tatap muka karena harus menangani beberapa kelas secara rutin. Sementara itu, dosen mungkin memiliki jadwal tatap muka yang lebih terbatas, tetapi harus mempersiapkan materi kuliah, membimbing mahasiswa, mengerjakan penelitian, atau menjalankan tugas akademik lainnya.
Beban kerja juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti jumlah peserta didik, jumlah kelas yang ditangani, mata pelajaran atau bidang studi, tugas tambahan, serta kebijakan institusi.
Jadi, tidak tepat apabila jumlah jam mengajar digunakan sebagai satu-satunya ukuran untuk menentukan apakah pekerjaan guru atau dosen lebih berat.
Perbedaan Cara Mengajar Guru dan Dosen
Perbedaan jenjang pendidikan turut memengaruhi pendekatan pembelajaran. Guru biasanya memiliki peran yang sangat dekat dalam membentuk kebiasaan belajar dan perkembangan peserta didik. Metode pembelajaran perlu disesuaikan dengan usia, kemampuan, dan karakter siswa.
Dosen menghadapi mahasiswa yang secara umum dituntut lebih mandiri dalam proses belajar. Perkuliahan dapat lebih banyak melibatkan diskusi, presentasi, penelitian, proyek, kajian literatur, dan penyelesaian masalah.
Perbedaan tersebut bukan berarti salah satu profesi memiliki tanggung jawab yang lebih penting. Guru dan dosen menjalankan fungsi pendidikan pada tahap perkembangan peserta didik yang berbeda.
Mana yang Lebih Banyak Mengajar?
Jawabannya bergantung pada kondisi pekerjaan masing-masing. Guru pada sekolah tertentu dapat memiliki jadwal tatap muka yang padat karena mengajar beberapa kelas. Dosen di perguruan tinggi tertentu bisa memiliki jadwal perkuliahan yang berbeda, tetapi menghabiskan banyak waktu untuk aktivitas akademik di luar kelas.
Beberapa faktor yang dapat memengaruhi jumlah waktu mengajar antara lain:
- Jumlah kelas yang ditangani
Semakin banyak kelas yang menjadi tanggung jawab, semakin besar kemungkinan waktu mengajar bertambah. - Jumlah peserta didik atau mahasiswa
Jumlah peserta didik dapat memengaruhi waktu yang dibutuhkan untuk memberikan tugas, melakukan penilaian, dan memberikan bimbingan. - Mata pelajaran atau bidang studi
Kebutuhan persiapan pembelajaran berbeda-beda sesuai karakter materi. - Tugas tambahan
Guru maupun dosen dapat memiliki tanggung jawab lain di luar kegiatan pembelajaran. - Kebijakan institusi
Sekolah dan perguruan tinggi memiliki sistem pengelolaan pembelajaran dan pembagian tugas yang dapat berbeda.
Guru dan Dosen Sama-Sama Membutuhkan Kompetensi Mengajar
Kemampuan mengajar menjadi salah satu aspek penting pada kedua profesi. Guru perlu memahami karakter peserta didik dan mampu merancang pembelajaran yang sesuai. Dosen juga perlu menguasai materi sekaligus mampu menyampaikannya secara efektif kepada mahasiswa.
Bagi mahasiswa yang tertarik menjadi pendidik, pemahaman tentang proses pembelajaran dapat mulai dibangun sejak masa kuliah. Pendidikan calon guru tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi, tetapi juga kemampuan berkomunikasi, mengelola kelas, memahami peserta didik, serta merancang kegiatan pembelajaran.
Pendidikan untuk Calon Guru di Perguruan Tinggi
Perguruan tinggi menjadi salah satu tempat bagi calon pendidik untuk mempersiapkan kompetensi akademik dan profesional. Salah satunya adalah Ma’soem University sebagai kampus swasta yang menyediakan pilihan pendidikan yang berkaitan dengan bidang pendidikan.
Pada FKIP Ma’soem University, terdapat dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Keduanya memiliki bidang kajian yang berbeda, sehingga mahasiswa dapat memilih sesuai minat dan rencana karier yang ingin dikembangkan.
Pendidikan Bahasa Inggris dapat menjadi pilihan bagi mahasiswa yang ingin mendalami bahasa Inggris sekaligus bidang pendidikan. Sementara itu, Bimbingan dan Konseling berfokus pada bidang layanan bimbingan dan konseling dalam konteks pendidikan.
Guru atau Dosen, Pilih Berdasarkan Minat dan Kompetensi
Menentukan pilihan antara menjadi guru atau dosen tidak cukup berdasarkan pertanyaan siapa yang lebih banyak mengajar. Kedua profesi memiliki lingkungan kerja, karakter peserta didik, tanggung jawab, dan tuntutan kompetensi yang berbeda.
Guru lebih banyak berinteraksi dalam sistem pendidikan sekolah, sedangkan dosen bekerja dalam lingkungan pendidikan tinggi yang juga berkaitan erat dengan kegiatan akademik lainnya. Keduanya membutuhkan kemampuan mengajar, komunikasi, penguasaan bidang ilmu, serta kemauan untuk terus mengembangkan kompetensi.
Bagi calon mahasiswa yang ingin menekuni bidang pendidikan, memahami perbedaan tersebut dapat membantu menentukan program studi dan arah pengembangan diri sejak awal perkuliahan.
Informasi Ma’soem University
No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com




