Maqashid Syariah dalam Manajemen SDM: Menjaga Akal dan Mental Pekerja

Halo, rekan-rekan mahasiswa! Pernah nggak sih kalian merasa burnout pas ngerjain tugas organisasi?, atau denger cerita kakak tingkat yang sampe “tipes” gara-gara kerja rodi di tempat magang? Di dunia profesional, isu kesehatan mental lagi jadi primadona. Tapi, tahukah kalian kalau Islam sebenarnya sudah punya “SOP” keren buat menangani hal ini sejak berabad-abad lalu? Konsep itu namanya Maqashid Syariah. Nah, seperti apa sih manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) berbasis syariah yang bukan cuma ngebahasa soal potong gaji atau hijab, tapi soal gimana caranya memanusiakan manusia, terutama dalam menjaga kewarasan akal dan mental mereka.

Bayangkan sebuah perusahaan itu sebagai mesin besar. Yang kalau bautnya aus tapi dipaksa muter terus, pasti mesinnya bakal meledak, kan? Nah, manusia bukan mesin. Manusia itu punya hati, perasaan, dan kapasitas mental yang terbatas. Dulu, manajemen SDM konvensional seringkali cuma fokus pada output dan profit. Karyawan dianggap aset yang harus diperas tenaganya demi KPI (Key Performance Indicator). Tapi, tren dunia berubah. Sekarang kita kenal istilah Work-Life Balance. Dalam Islam, konsep ini lebih dalam lagi. Islam memandang bekerja sebagai ibadah, dan pelakunya (pekerja) adalah hamba Allah yang hak-hak dasarnya wajib dilindungi.Dan disinilah Maqashid Syariah (tujuan-tujuan syariat) masuk. Ada lima hal yang harus dijaga yaitu: agama (hifz ad-din), jiwa (hifz an-nafs), akal (hifz al-’aql), keturunan (hifz an-nasl), dan harta (hifz al-mal). Untuk urusan kesehatan mental, dua poin utama yang jadi sorotan adalah menjaga jiwa dan menjaga akal.

Nah, secara jelasnya manajemen sumber daya manusia yangberbasis Maqasid Syariah ini meliputi: Pertama, Hifz Al-’Aql: Akal Bukan Robot. Dalam manajemen SDM syariah, menjaga akal (hifz al-’aql) berarti menciptakan lingkungan kerja yang mendukung fungsi kognitif dan psikologis. Karyawan tidak boleh diberikan beban kerja yang melampaui batas kewarasan. Berdasarkan data dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (INAMHS) tahun 2022 menunjukkan bahwa 1 dari 3 remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental. Bayangkan jika generasi ini masuk ke dunia kerja yang toksik tanpa perlindungan terhadap akal mereka. Maka dari itu, manajemen syariah hadir dengan memberikan hak istirahat yang cukup, pelatihan yang memadai, dan ruang untuk berinovasi tanpa rasa takut akan penghakiman yang berlebihan.

Kedua, manajemen syariah menekankan pada akad yang jelas. Gaji harus sebanding dengan beban kerja. Stress seringkali muncul karena “beban kerja manajer, tapi gaji intern.” Dalam perspektif syariah, ini adalah kezaliman. Ketidakpastian ekonomi dan ketidakadilan gaji terbukti menjadi pemicu utama kecemasan (anxiety) di tempat kerja. Dengan transparansi dan keadilan, beban mental karyawan akan jauh lebih ringan karena mereka merasa dihargai secara manusiawi.

Ketiga, berikan dukungan sosial melalui ukhuwah. kalau di kantor konvensional mungkin ada politik kantor yang tajam, manajemen syariah mendorong ukhuwah (persaudaraan). Lingkungan kerja yang suportif adalah obat terbaik untuk kesehatan mental. Menurut laporan Gallup’s State of the Global Workplace 2023, stres pekerja secara global tetap berada pada tingkat rekor tertinggi. Salah satu faktor mitigasinya adalah “manajemen yang peduli.” Syariah memerintahkan pemimpin untuk menjadi pelayan bagi pengikutnya, bukan diktator yang memicu depresi.

Jika kita melihat data dari tahun 2024, isu kesehatan mental di tempat kerja makin krusial. Survei kesehatan mental nasional tahun 2024 menunjukkan peningkatan signifikan pada kasus gangguan kecemasan di kalangan pekerja muda (Gen Z dan Milenial) akibat tuntutan hustle culture. Banyak perusahaan mulai menyadari bahwa memberikan akses ke psikolog saja nggak cukup. Perlu ada perubahan sistem. Di sinilah relevansi manajemen SDM berbasis Maqashid Syariah. Perusahaan yang menerapkan prinsip Maslahah (kemaslahatan umum) terbukti memiliki tingkat retention rate yang lebih tinggi. Karyawan merasa aman secara emosional karena mereka tahu perusahaan tidak akan mengorbankan kesehatan mental mereka demi grafik profit semata.

Jadi, Maqashid Syariah bukan sekadar teori ushul fiqh yang berat untuk dihafal saat ujian, tapi ini adalah solusi praktis untuk dunia kerja masa depan. Menjaga akal dan mental pekerja bukan berarti memanjakan karyawan. Justru, karyawan yang sehat mentalnya akan jauh lebih produktif, kreatif, dan loyal. Manajemen SDM syariah menawarkan pendekatan holistik seperti:

  1. Proteksi: Melindungi dari stres berlebih (Zalim).
  2. Edukasi: Memberi ruang bagi akal untuk berkembang.
  3. Spiritualitas: Memberikan makna pada pekerjaan sebagai bentuk pengabdian.

untuk kalian calon-calon pemimpin masa depan, manajer, atau pengusaha, mulailah melihat SDM bukan sebagai angka di laporan keuangan, tapi sebagai amanah. Jika kalian menjaga akal dan mental mereka melalui prinsip Maqashid Syariah, maka keberkahan bisnis akan mengikuti dengan sendirinya.

“Ingat, bisnis yang hebat bukan cuma yang untungnya triliunan, tapi yang karyawannya bisa pulang ke rumah dengan senyum dan pikiran yang tenang. Keep sane, stay syariah!”