Dunia saat ini sedang berada di persimpangan jalan menuju transisi energi. Ketergantungan pada bahan bakar fosil yang semakin menipis dan merusak lingkungan menuntut pencarian sumber energi alternatif yang berkelanjutan. Di sinilah sektor pertanian muncul sebagai pahlawan baru. Pertanian tidak lagi hanya dipandang sebagai penyedia pangan (food), tetapi juga sebagai penyedia energi (fuel).
Di Universitas Ma’soem, mahasiswa Fakultas Pertanian dididik untuk melihat limbah bukan sebagai masalah, melainkan sebagai aset. Melalui penguasaan teknologi bioproses, lulusan pertanian memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam pengembangan biofuel (bahan bakar nabati) yang bersumber dari sisa-sisa hasil panen yang selama ini terbuang.
1. Mengubah Biomassa Menjadi Energi Terpakai
Limbah pertanian seperti jerami padi, tongkol jagung, bagas tebu, hingga cangkang kelapa sawit mengandung selulosa dan hemiselulosa yang melimpah. Mahasiswa Teknologi Pangan dan Agribisnis belajar bahwa komponen-komponen ini dapat dikonversi menjadi energi melalui berbagai jalur teknologi.
- Bioetanol: Melalui proses fermentasi gula atau pati, serta hidrolisis limbah berlignoselulosa.
- Biodiesel: Memanfaatkan minyak jelantah atau minyak dari tanaman non-pangan seperti jarak pagar dan nyamplung.
- Biogas: Mengolah limbah basah dan kotoran ternak melalui proses anaerobic digestion.
Lulusan pertanian memahami karakteristik biologis bahan-bahan ini, sehingga mereka mampu menentukan metode ekstraksi yang paling efisien untuk menghasilkan kadar oktan atau cetane yang sesuai dengan standar mesin industri.
2. Optimalisasi Rantai Pasok Bahan Baku Energi
Masalah utama dalam industri biofuel sering kali bukan pada teknologinya, melainkan pada stabilitas pasokan bahan baku. Di sinilah peran strategis lulusan Agribisnis. Mereka mampu merancang skema pengumpulan limbah dari petani kecil secara terorganisir agar pabrik pengolahan energi mendapatkan pasokan yang konstan.
Dengan pemahaman manajemen logistik yang dipelajari di Universitas Ma’soem, mahasiswa mampu menghitung kelayakan ekonomi dari pengumpulan limbah tersebut. Mereka mengubah limbah yang tadinya hanya dibakar di lahan—yang justru menambah emisi karbon—menjadi komoditas ekonomi baru yang menambah pendapatan petani.
3. Riset Tanaman Energi Non-Pangan
Salah satu perdebatan besar dalam biofuel adalah konflik kepentingan antara lahan pangan dan lahan energi (food vs fuel competition). Mahasiswa pertanian belajar untuk memecahkan dilema ini dengan meneliti tanaman energi yang bisa tumbuh di lahan marginal atau lahan kritis yang tidak cocok untuk tanaman pangan.
Mereka mempelajari pemuliaan tanaman untuk menghasilkan varietas yang memiliki rendemen minyak atau gula tinggi namun tahan terhadap kekeringan. Kontribusi riset ini sangat vital untuk memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga tanpa mengganggu kedaulatan pangan rakyat.
4. Mengurangi Jejak Karbon Sektor Pertanian
Dengan mengolah limbah menjadi bahan bakar, lulusan pertanian secara langsung membantu industri mencapai target Net Zero Emission. Penggunaan biofuel bersifat karbon netral; karbon yang dilepaskan saat pembakaran akan diserap kembali oleh tanaman saat mereka tumbuh. Mahasiswa dibekali kemampuan untuk menghitung siklus hidup karbon (Life Cycle Assessment) dari sebuah produk, menjadikannya profesional yang sangat dicari oleh perusahaan yang fokus pada keberlanjutan (sustainability).
Profesional Energi yang “Pinter dan Bageur”
Menyelesaikan krisis energi membutuhkan kecerdasan teknis dan niat tulus untuk menjaga bumi. Universitas Ma’soem melalui prinsip “Pinter dan Bageur” menyiapkan mahasiswanya untuk peran ini:
- Pinter (Cerdas): Menguasai rekayasa bioproses dan inovasi teknologi hijau untuk mengubah limbah yang tidak bernilai menjadi energi tinggi.
- Bageur (Berperilaku Baik): Memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Lulusan Ma’soem bergerak di bidang biofuel bukan sekadar mencari profit, melainkan untuk memastikan generasi mendatang tetap bisa menghirup udara bersih dan memiliki akses energi yang cukup.
Lulusan Fakultas Pertanian kini memiliki panggung baru di sektor energi terbarukan. Ilmu yang mereka miliki menjadi kunci untuk mengubah wajah pertanian tradisional menjadi sektor strategis yang menopang kebutuhan industri dunia.
Di Universitas Ma’soem, Anda akan dipersiapkan untuk tantangan global ini. Dengan keahlian mengolah limbah menjadi biofuel, Anda bukan hanya seorang sarjana pertanian, melainkan seorang pejuang energi hijau yang memegang kunci keberlanjutan planet ini.





