Membacakan dongeng sebelum tidur sering dianggap sebagai kebiasaan sederhana yang dilakukan orang tua untuk menemani anak hingga terlelap. Padahal, kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari proses tumbuh kembang anak. Ketika orang tua membacakan cerita, anak tidak hanya mendengarkan rangkaian kata, tetapi juga belajar mengenali bahasa, memahami emosi, membangun imajinasi, dan berinteraksi secara lebih dekat dengan orang di sekitarnya.
Kebiasaan membaca bersama juga dapat membantu menciptakan suasana sebelum tidur yang lebih tenang. Anak memiliki kesempatan untuk beristirahat dari aktivitas sepanjang hari sambil menikmati cerita yang sesuai usianya. Karena itu, membacakan dongeng dapat menjadi salah satu aktivitas sederhana yang memiliki nilai edukatif sekaligus mempererat hubungan antara orang tua dan anak.
Membantu Perkembangan Bahasa Anak
Salah satu manfaat membacakan dongeng sebelum tidur adalah memberikan paparan bahasa kepada anak. Cerita biasanya menghadirkan berbagai kosakata, struktur kalimat, dan ungkapan yang mungkin belum digunakan anak dalam percakapan sehari-hari.
Anak yang sering mendengarkan cerita dapat mengenal lebih banyak kata melalui konteks. Misalnya, ketika orang tua membaca cerita tentang seekor kelinci yang sedang mencari makanan, anak dapat memahami makna kata tertentu berdasarkan peristiwa yang terjadi dalam cerita.
Kegiatan ini juga dapat menjadi kesempatan untuk mengajak anak berbicara. Orang tua dapat bertanya tentang tokoh, tempat kejadian, atau apa yang mungkin terjadi selanjutnya. Percakapan sederhana tersebut membantu anak belajar menyampaikan pendapat dan memahami pertanyaan.
Merangsang Imajinasi dan Kreativitas
Dongeng memberikan ruang bagi anak untuk membayangkan berbagai hal. Tokoh, tempat, konflik, dan penyelesaian cerita dapat membentuk gambaran di dalam pikiran anak meskipun tidak selalu disertai gambar.
Cerita tentang hutan, misalnya, dapat membuat anak membayangkan bagaimana suasana hutan, seperti apa suara binatang, atau apa yang mungkin dilakukan tokoh di dalamnya. Proses membangun gambaran tersebut berkaitan erat dengan kemampuan imajinatif.
Imajinasi juga dapat berkembang ketika anak diberikan kesempatan untuk membuat versi ceritanya sendiri. Orang tua tidak harus selalu memberikan jawaban. Pertanyaan seperti “Menurut kamu, apa yang akan dilakukan tokoh berikutnya?” dapat mendorong anak untuk berpikir dan menciptakan kemungkinan baru.
Mengenalkan Nilai dan Emosi melalui Cerita
Dongeng juga dapat menjadi media untuk mengenalkan berbagai nilai kehidupan kepada anak. Cerita dapat memperlihatkan tindakan tokoh yang jujur, bertanggung jawab, berani, peduli, atau mau meminta maaf.
Penyampaian nilai melalui cerita sering terasa lebih mudah diterima karena anak melihat contoh melalui karakter dan kejadian. Orang tua kemudian dapat menghubungkannya dengan situasi sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Selain nilai moral, cerita dapat membantu anak mengenali emosi. Tokoh dalam dongeng mungkin merasa sedih, takut, marah, kecewa, atau bahagia. Orang tua dapat mengajak anak mengenali perasaan tersebut dan menanyakan alasan tokoh merasakannya.
Beberapa pertanyaan sederhana yang dapat digunakan antara lain:
- “Menurut kamu, kenapa tokohnya sedih?”
- “Kalau kamu berada di posisi tokoh itu, apa yang akan kamu lakukan?”
- “Apa yang membuat tokoh tersebut merasa senang?”
- “Bagaimana cara membantu tokoh yang sedang kesulitan?”
Pertanyaan tersebut membuat kegiatan membaca tidak hanya berfokus pada isi cerita, tetapi juga membantu anak belajar memahami perasaan diri sendiri dan orang lain.
Mempererat Hubungan Orang Tua dan Anak
Rutinitas sebelum tidur dapat menjadi waktu khusus bagi orang tua dan anak untuk berinteraksi. Di tengah kesibukan sehari-hari, kesempatan untuk duduk bersama, membaca, dan berbicara dapat menjadi momen yang berarti.
Anak juga dapat merasa lebih diperhatikan ketika orang tua meluangkan waktu untuk membacakan cerita. Tidak harus selalu menggunakan buku cerita yang panjang. Cerita sederhana yang disesuaikan usia dan minat anak pun dapat menjadi pilihan.
Konsistensi lebih penting daripada durasi yang terlalu lama. Membaca selama beberapa menit setiap malam dapat menjadi kebiasaan positif apabila dilakukan secara rutin dan menyenangkan.
Membantu Membangun Kebiasaan Membaca
Ketertarikan terhadap buku dapat diperkenalkan sejak usia dini melalui pengalaman membaca yang menyenangkan. Ketika buku selalu dikaitkan dengan waktu yang nyaman bersama orang tua, anak dapat memiliki pengalaman positif terhadap aktivitas membaca.
Orang tua dapat memberikan pilihan cerita agar anak merasa memiliki kendali. Anak mungkin lebih tertarik pada cerita tentang binatang, petualangan, kendaraan, persahabatan, atau karakter tertentu. Pilihan tersebut dapat dimanfaatkan untuk mempertahankan minat membaca.
Tidak perlu memaksa anak menyelesaikan cerita yang tidak disukainya. Tujuan utama rutinitas membaca adalah membangun hubungan positif antara anak dan buku.
Membacakan Dongeng Tidak Harus Selalu Mengikuti Teks
Orang tua tidak harus menjadi pembaca profesional untuk mendapatkan manfaat dari kegiatan mendongeng. Ekspresi wajah, perubahan intonasi, dan suara berbeda untuk setiap karakter dapat membuat cerita terasa lebih hidup.
Pada usia tertentu, orang tua juga dapat berhenti sejenak untuk mengajak anak memprediksi kejadian berikutnya. Cara tersebut membuat anak menjadi pendengar aktif.
Jika anak belum mampu membaca sendiri, orang tua dapat menunjuk gambar dan menyebutkan nama benda atau tokoh yang terlihat. Ketika kemampuan membaca anak mulai berkembang, peran tersebut dapat perlahan berubah menjadi kegiatan membaca bersama.
Pilih Cerita yang Sesuai Usia Anak
Pemilihan dongeng perlu disesuaikan dengan usia, kemampuan memahami bahasa, serta ketertarikan anak. Cerita untuk anak usia dini umumnya lebih mudah dipahami apabila memiliki alur sederhana, tokoh yang tidak terlalu banyak, dan ilustrasi yang menarik.
Untuk anak yang lebih besar, cerita dapat memiliki konflik yang sedikit lebih kompleks dan mendorong mereka memberikan pendapat mengenai tindakan tokoh.
Beberapa hal yang dapat diperhatikan orang tua ketika memilih dongeng adalah:
- Kosakata sesuai kemampuan anak.
- Cerita tidak terlalu panjang.
- Tema sesuai usia dan perkembangan anak.
- Nilai yang disampaikan mudah dipahami.
- Isi cerita tidak menimbulkan ketakutan berlebihan.
- Anak menunjukkan ketertarikan terhadap topik cerita.
Kebiasaan Membaca dan Pendidikan Anak
Kebiasaan membaca di rumah juga berkaitan dengan lingkungan belajar anak secara lebih luas. Kemampuan berbahasa, memahami informasi, menyampaikan pendapat, dan membangun imajinasi menjadi bagian yang penting dalam proses pendidikan.
Peran keluarga dalam membangun kebiasaan tersebut dapat berjalan berdampingan dengan pendidikan formal. Lembaga pendidikan membutuhkan pendidik yang memahami perkembangan anak dan cara menciptakan kegiatan belajar yang sesuai kebutuhan peserta didik.
Di tingkat pendidikan tinggi, bidang yang berkaitan dengan pendidikan dan perkembangan peserta didik dapat menjadi pilihan bagi calon pendidik. Ma’soem University sebagai salah satu kampus swasta di Bandung memiliki Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang menyediakan dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Kedua bidang tersebut memiliki keterkaitan dengan dunia pendidikan, meskipun fokus keilmuannya berbeda.
Pendidikan Bahasa Inggris dapat berkaitan dengan proses pembelajaran bahasa, sementara Bimbingan dan Konseling berfokus pada aspek layanan bimbingan dan perkembangan peserta didik. Pengetahuan mengenai perkembangan anak, komunikasi, dan proses belajar menjadi bagian yang relevan bagi mahasiswa yang nantinya berkecimpung dalam lingkungan pendidikan.
Menjadikan Dongeng sebagai Rutinitas yang Menyenangkan
Rutinitas membaca sebelum tidur tidak harus dibuat terlalu formal. Orang tua dapat memilih tempat yang nyaman, menentukan waktu yang relatif konsisten, lalu memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih cerita.
Sesekali, anak juga dapat diajak menceritakan kembali dongeng yang sudah didengar. Cara ini membuat kegiatan membaca berkembang menjadi aktivitas berbicara, mengingat informasi, dan menyusun cerita menggunakan bahasa sendiri.
Hal terpenting adalah menjaga agar waktu membaca tetap menjadi pengalaman yang menyenangkan. Tidak perlu mengejar jumlah halaman atau banyaknya buku yang selesai dibaca. Interaksi, percakapan, dan kesempatan bagi anak untuk menikmati cerita justru menjadi bagian penting dari kebiasaan tersebut.
Informasi Ma’soem University
No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com




