Mengapa Desain Produk Berbasis Psikologi Manusia Kini Dipelajari di Teknik Industri?

Dulu, Teknik Industri identik dengan mesin-mesin besar, lantai pabrik yang bising, dan hitungan waktu produksi yang ketat. Namun, memasuki tahun 2026, fokus industri telah bergeser. Di Universitas Ma’soem, mahasiswa Teknik Industri kini tidak hanya belajar cara membuat barang secara massal, tetapi juga belajar bagaimana barang tersebut berinteraksi dengan mental dan emosi penggunanya. Inilah yang disebut dengan Desain Produk Berbasis Psikologi atau User-Centered Design (UCD). Memahami isi kepala manusia ternyata sama pentingnya dengan memahami kekuatan material.

1. Ergonomi Kognitif: Bukan Sekadar Nyaman di Tangan

Jika ergonomi fisik berfokus pada bagaimana kursi tidak membuat punggung sakit, maka ergonomi kognitif berfokus pada bagaimana sebuah alat tidak membuat otak “sakit” atau stres. Mahasiswa Universitas Ma’soem mempelajari bagaimana manusia menerima informasi, memprosesnya, dan mengambil keputusan.

Contoh sederhananya adalah desain dasbor mobil listrik atau antarmuka mesin pabrik otomatis. Jika terlalu banyak tombol dan peringatan yang muncul bersamaan, operator akan mengalami cognitive overload (beban kognitif berlebih) yang berujung pada kecelakaan kerja. Teknik Industri di Universitas Ma’soem mengajarkan cara merancang sistem yang selaras dengan cara kerja otak, sehingga produktivitas meningkat tanpa mengorbankan kesehatan mental pekerja.

2. Psikologi Warna dan Bentuk dalam Efisiensi Kerja

Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa tombol darurat di mesin pabrik selalu berwarna merah dan berbentuk bulat besar? Itu adalah aplikasi psikologi dasar. Di Universitas Ma’soem, kamu akan belajar bahwa warna dan bentuk bukan sekadar estetika, melainkan instruksi tanpa kata.

Dalam dunia Teknik Industri, penggunaan warna yang tepat pada area kerja atau alat pelindung diri (APD) dapat mempercepat respon karyawan hingga sekian milidetik. Dalam skala produksi ribuan barang, penghematan waktu sepersekian detik akibat desain yang intuitif secara psikologis bisa berarti penghematan biaya miliaran rupiah. Mahasiswa diajarkan untuk merancang lingkungan industri yang secara bawah sadar memicu fokus dan mengurangi tingkat kelelahan (fatigue) karyawan.

3. Memahami Perilaku Konsumen (Consumer Behavior)

Seorang insinyur industri masa depan juga harus menjadi “detektif” keinginan pasar. Universitas Ma’soem menekankan bahwa sebuah produk yang secara teknis sempurna tetap bisa gagal di pasar jika tidak memiliki ikatan emosional dengan penggunanya.

Melalui riset perilaku, mahasiswa belajar membedah apa yang membuat seseorang merasa “puas” saat menggunakan sebuah produk. Apakah suara klik pada ponsel memberikan rasa aman? Apakah tekstur pada kemasan produk UMKM Bandung memberikan kesan mewah? Dengan menggabungkan statistik industri dan teori psikologi, lulusan Universitas Ma’soem mampu menciptakan produk yang tidak hanya efisien secara fungsi, tapi juga dicintai secara emosi oleh konsumen.

Menjadi Insinyur yang Lebih “Manusiawi”

Mempelajari psikologi di fakultas teknik Universitas Ma’soem adalah langkah proaktif untuk menghadapi Industri 5.0. Di era ini, kolaborasi antara manusia dan teknologi menjadi sangat erat. Insinyur yang hanya paham mesin akan tertinggal oleh mereka yang paham bagaimana manusia berinteraksi dengan mesin tersebut.

“Teknik Industri bukan lagi soal memaksa manusia bekerja seperti mesin, tapi soal merancang mesin agar bisa melayani manusia dengan cara yang paling alami.”

Keahlian lintas disiplin ini membuat lulusan Teknik Industri dari Universitas Ma’soem memiliki nilai tawar yang unik. Kamu bisa bekerja sebagai User Experience (UX) Researcher, konsultan ergonomi, hingga manajer pengembangan produk di perusahaan manufaktur global.

Dunia teknik masa depan adalah dunia yang memahami manusia. Dengan bekal ilmu psikologi industri, kamu siap menciptakan inovasi yang tidak hanya canggih, tapi juga bermakna bagi setiap penggunanya.