Dalam dunia Teknologi Pangan, fokus utama biasanya tertuju pada formulasi kimia, keamanan pangan, dan teknik pengolahan. Namun, di era industri modern yang sangat visual, kemampuan teknis di laboratorium saja tidak lagi cukup. Mahasiswa pangan kini dituntut untuk memahami Food Styling atau estetika penyajian makanan.
Mengapa seorang calon ilmuwan pangan perlu belajar cara menata makanan? Hal ini bukan sekadar urusan memanjakan mata, melainkan strategi krusial dalam pengembangan produk dan pemasaran industri. Di Universitas Ma’soem, pemahaman ini menjadi nilai tambah agar lulusan mampu menjembatani celah antara kualitas laboratorium dan daya tarik pasar.
1. Menjaga Konsistensi Visual pada Produk Olahan
Seorang teknolog pangan bertanggung jawab menciptakan produk yang tidak hanya awet, tetapi juga terlihat menggugah selera setiap saat.
- Aplikasi Ilmu Pangan: Mahasiswa belajar bagaimana penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) yang aman dapat mempertahankan warna asli sayuran atau tekstur saus agar tetap terlihat segar saat disajikan.
- Analisis Perubahan Fisik: Memahami food styling membantu mahasiswa mendeteksi apakah proses pemanasan atau pembekuan merusak estetika visual produk, sehingga mereka dapat melakukan reformulasi agar produk tetap “layak tampil” di depan konsumen.
2. Kunci Sukses dalam Riset dan Pengembangan (R&D)
Saat bekerja di divisi Research and Development, seorang lulusan pangan harus mempresentasikan purwarupa (prototype) produk kepada pemangku kepentingan atau investor.
- Produk yang memiliki profil nutrisi luar biasa namun tampil dengan warna kusam atau penataan yang berantakan akan sulit mendapatkan persetujuan untuk diproduksi massal.
- Kemampuan menata produk hasil riset secara estetis menunjukkan profesionalisme dan membantu meyakinkan pengambil keputusan mengenai potensi sukses produk tersebut di pasar.
3. Keperluan Dokumentasi dan Label Kemasan
Setiap produk pangan kemasan memerlukan foto produk untuk label dan materi promosi. Di sinilah ilmu pangan dan estetika bertemu.
- Mahasiswa pangan yang memahami food styling tahu persis karakter bahan; misalnya, kapan waktu terbaik memotret produk berbasis susu sebelum tampilannya berubah, atau bagaimana cara menjaga kilap permukaan cokelat.
- Dengan pemahaman ini, mereka bisa bekerja sama lebih efektif dengan fotografer profesional untuk memastikan gambar pada kemasan mewakili kualitas asli produk tanpa melanggar regulasi kejujuran label.
4. Meningkatkan Nilai Jual Produk UMKM
Bagi mahasiswa Universitas Ma’soem yang berencana berwirausaha, food styling adalah alat pemasaran yang paling murah namun efektif. Di media sosial, “mata makan terlebih dahulu sebelum lidah”. Penataan makanan yang estetik mampu meningkatkan harga jual produk secara signifikan, meskipun bahan bakunya sederhana. Ini adalah cara cerdas untuk bersaing di pasar kuliner yang padat.
Belajar food styling tidak lantas mengubah mahasiswa teknologi pangan menjadi seorang seniman, melainkan menjadi teknolog yang lebih peka terhadap psikologi konsumen. Estetika penyajian adalah bentuk komunikasi antara produsen dan pelanggan.
Di Universitas Ma’soem, penggabungan antara sains pangan yang presisi dan estetika penyajian yang menarik akan mencetak lulusan yang mampu menciptakan produk pangan yang tidak hanya sehat dan aman, tetapi juga memiliki daya saing visual yang tinggi di industri global.





