Mengapa Mahasiswa Pertanian Kini Wajib Belajar Cara Mengoperasikan Drone untuk Pemetaan Lahan?

Dahulu, untuk mengetahui kesehatan tanaman di lahan seluas puluhan hektar, seorang agronom harus berjalan kaki berjam-jam melakukan observasi visual secara manual. Metode ini tidak hanya melelahkan, tetapi juga memiliki risiko kesalahan tinggi karena keterbatasan sudut pandang manusia. Kini, paradigma tersebut telah berubah total. Pemandangan mahasiswa pertanian yang memegang kendali remote control dan menerbangkan drone bukan lagi sekadar hobi, melainkan bagian dari kurikulum wajib di era Pertanian 4.0.

Di Universitas Ma’soem, pengenalan teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau drone menjadi fokus penting dalam mencetak lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri. Penguasaan drone bukan tentang estetika pengambilan gambar, melainkan tentang pengumpulan data presisi yang menjadi kunci efisiensi pertanian modern.

1. Efisiensi Waktu dan Cakupan Lahan yang Luas

Salah satu keunggulan utama drone adalah kemampuannya memetakan lahan dalam waktu singkat. Area yang membutuhkan waktu berhari-hari untuk diperiksa secara manual dapat diselesaikan hanya dalam hitungan menit dari udara.

Mahasiswa belajar melakukan pemetaan ortofoto, yaitu penggabungan ribuan foto udara menjadi satu peta besar dengan koordinat yang akurat. Dengan peta ini, mahasiswa dapat menghitung jumlah populasi tanaman secara otomatis, memetakan batas lahan, hingga merencanakan jalur irigasi tanpa harus terjun langsung ke medan yang sulit dijangkau.

2. Deteksi Dini Kesehatan Tanaman melalui Sensor Multispektral

Inilah “sains” sebenarnya di balik drone pertanian. Mahasiswa tidak hanya belajar menerbangkan alat, tetapi juga mengolah data dari kamera khusus yang disebut sensor multispektral. Sensor ini mampu menangkap spektrum cahaya yang tidak terlihat oleh mata manusia, seperti inframerah dekat (Near-Infrared).

Melalui analisis indeks vegetasi seperti NDVI (Normalized Difference Vegetation Index), mahasiswa dapat mengetahui tingkat klorofil tanaman. Jika sebuah area terlihat memudar pada peta NDVI, itu adalah peringatan dini bahwa tanaman tersebut sedang stres akibat kurang air, kekurangan nutrisi, atau serangan hama sebelum gejala fisiknya terlihat secara kasat mata. Kemampuan deteksi dini ini menyelamatkan petani dari risiko gagal panen massal.


3. Implementasi Pertanian Presisi (Precision Agriculture)

Data yang dihasilkan dari drone digunakan untuk pengambilan keputusan yang presisi. Mahasiswa belajar bahwa memberikan pupuk atau pestisida secara merata di seluruh lahan adalah pemborosan.

Dengan pemetaan lahan yang akurat, mahasiswa dapat merancang sistem pemberian input variabel. Artinya, pupuk hanya diberikan dalam jumlah banyak pada area yang membutuhkan, dan dikurangi pada area yang sudah subur. Penguasaan teknologi ini tidak hanya menekan biaya operasional secara drastis, tetapi juga mengurangi dampak negatif penggunaan bahan kimia berlebihan terhadap lingkungan.

4. Peluang Karier sebagai Pilot Drone Agraria Profesional

Kebutuhan akan pilot drone yang memahami konteks pertanian sangat tinggi di perusahaan perkebunan besar (sawit, tebu, dan hutan tanaman industri). Perusahaan tidak mencari sekadar “penerbang”, tetapi ahli pertanian yang mampu menerjemahkan data udara menjadi rekomendasi teknis di lapangan. Mahasiswa yang memiliki sertifikasi pilot drone dan latar belakang ilmu pertanian akan memiliki daya tawar yang sangat tinggi di pasar kerja internasional.


Karakter Profesional yang “Pinter dan Bageur”

Mengoperasikan teknologi mahal dan canggih menuntut integritas yang tinggi. Universitas Ma’soem melalui prinsip “Pinter dan Bageur” menanamkan nilai-nilai tersebut kepada mahasiswanya:

  • Pinter (Cerdas): Mahasiswa harus cerdas dalam mengolah data spasial yang rumit dan selalu mengikuti pembaruan teknologi software pemetaan terbaru.
  • Bageur (Berperilaku Baik): Memiliki tanggung jawab dalam penggunaan teknologi. Penggunaan drone harus mengikuti regulasi penerbangan yang berlaku dan ditujukan sepenuhnya untuk kemaslahatan petani serta kelestarian alam.

Belajar mengoperasikan drone bagi mahasiswa pertanian saat ini sama pentingnya dengan belajar menggunakan traktor di masa lalu. Ini adalah alat yang memberikan “mata baru” bagi para calon ahli pertanian untuk melihat potensi dan masalah lahan secara lebih luas dan mendalam.

Di Universitas Ma’soem, Anda tidak hanya belajar bertani secara tradisional, tetapi Anda dilatih untuk menjadi teknolog agraria yang mampu mengendalikan masa depan pertanian dari udara. Penguasaan drone adalah bukti bahwa Fakultas Pertanian adalah tempat bagi para inovator yang siap menghadapi tantangan pangan dunia dengan cara yang lebih cerdas, cepat, dan akurat.