Daun pandan (Pandanus amaryllifolius) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner Nusantara selama bergenerasi. Aromanya yang khas, sering disamakan dengan vanilla tropis, menghiasi berbagai hidangan dari kolak, es dawet, hingga kue tradisional . Namun, yang membuat daun pandan istimewa bukan hanya aromanya, tetapi juga posisinya sebagai komoditas dengan permintaan yang luar biasa stabil sepanjang tahun. Fenomena ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari beberapa faktor fundamental yang saling menguatkan.
Karakteristik Tanaman: Pasokan yang Tak Pernah Berhenti
Faktor pertama yang menjelaskan stabilitas permintaan daun pandan terletak pada karakteristik tanaman itu sendiri. Berbeda dengan sayuran atau buah-buahan musiman, daun pandan dapat dipanen sepanjang tahun . Petani tidak perlu menunggu musim tertentu untuk memanen daun pandan; selama tanaman tumbuh dengan baik, daun-daunnya siap dipetik setiap hari.
Seorang pengusaha kebun pandan di Malaysia, misalnya, melaporkan bahwa kebunnya mampu menghasilkan dan menjual lebih dari 100 kilogram daun pandan setiap hari . Ini bukan hasil panen musiman, melainkan pasokan harian yang konsisten. Sifat tanaman yang terus-menerus menghasilkan daun ini menciptakan rantai pasok yang stabil sepanjang tahun, yang pada gilirannya mendukung stabilitas permintaan dari pasar.
Pangsa Pasar yang Beragam dan Meluas
Permintaan daun pandan tidak bergantung pada satu sektor saja. Daun pandan memiliki pangsa pasar yang sangat beragam, yang secara kolektif menjaga permintaan tetap tinggi sepanjang tahun.
Sektor Kuliner: Di sektor ini, daun pandan adalah primadona. Daun pandan sangat diminati untuk berbagai jenis masakan dan produk minuman, mulai dari hidangan tradisional hingga inovasi kuliner modern . Daun pandan digunakan sebagai bahan utama anyaman ketupat, pewarna dan pengharum alami untuk kue, serta campuran es dawet, bubur kacang hijau, dan berbagai hidangan penutup .
Tren global juga turut mendorong permintaan. Pasar daun pandan ekstrak global diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 6,65% dari USD 496,5 juta pada 2024 menjadi USD 831 juta pada 2032 . Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya popularitas masakan Asia di seluruh dunia, permintaan akan bahan pangan alami (clean-label), dan integrasi daun pandan ke dalam produk roti dan kembang gula .
Di Chicago, misalnya, daun pandan mulai menjadi tren di kalangan koki dan pembuat kue, digunakan dalam es krim, kue, koktail, dan latte . Di India, daun pandan mulai masuk ke dapur pencuci mulut sebagai aroma eksotis yang terasa familiar . Popularitas global ini memberikan pijakan yang kuat bagi permintaan daun pandan secara keseluruhan.
Sektor Kerajinan dan Industri: Selain kuliner, daun pandan juga digunakan sebagai bahan baku kerajinan anyaman seperti topi, tas, dan tikar . Meskipun sektor ini menghadapi tantangan—seperti yang terjadi di Pandeglang, Banten, di mana 157 pengrajin anyaman daun pandan terancam kehilangan mata pencaharian setelah kerja sama ekspor dihentikan pada Februari 2026—pemerintah daerah terus mendorong pengembangan usaha anyaman karena memiliki prospek pasar .
Fluktuasi Harga: Momen di Balik Stabilitas
Meskipun permintaannya stabil sepanjang tahun, harga daun pandan tetap menunjukkan fluktuasi pada momen-momen tertentu. Fenomena ini justru memperkuat posisi daun pandan sebagai komoditas yang terus dicari.
Menjelang hari-hari besar keagamaan seperti Idul Fitri, permintaan daun pandan meningkat tajam karena digunakan sebagai bahan utama anyaman ketupat . Di Makassar, misalnya, perajin ketupat kebanjiran pesanan menjelang Lebaran, dengan harga ketupat berkisar Rp15.000-Rp20.000 per ikat (10 ketupat), naik dari tahun sebelumnya . Di pasar, harga daun pandan dan daun pisang melonjak drastis, mencerminkan tingginya permintaan konsumen .
Di Bali, permintaan rajangan daun pandan atau “keetan” untuk keperluan upacara keagamaan sangat tinggi, terutama pada hari-hari besar seperti Galungan dan Kuningan. Produktivitas pandan rajangan di Subak Wasan Kemenuh mencapai 4.870,5 kg/ha/tahun, menunjukkan permintaan yang konsisten dan signifikan.
Peluang Ekspor dan Permintaan Global
Indonesia tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga mulai memasok pasar internasional. Meskipun permintaan ekspor masih belum dapat dipenuhi sepenuhnya, peluangnya sangat besar . Singapura dan negara-negara lain telah menunjukkan minat yang tinggi terhadap daun pandan asal Indonesia .
Namun, ada tantangan dalam rantai pasok. Data perdagangan menunjukkan bahwa pada tahun 2023, Indonesia mengekspor daun pandan segar senilai USD 1,98 juta dan mengimpor senilai USD 827.625 . Angka ini menunjukkan bahwa meskipun Indonesia adalah produsen utama, masih ada kebutuhan impor yang harus dipenuhi, yang mengindikasikan peluang untuk meningkatkan produksi dan memenuhi permintaan domestik sekaligus pasar ekspor.
Faktor Keberlanjutan dan Nilai Budaya
Selain faktor ekonomi, nilai budaya daun pandan yang mengakar kuat di masyarakat Indonesia menjadi fondasi yang kokoh. Daun pandan bukan sekadar komoditas; ia adalah bagian dari tradisi kuliner, upacara, dan kerajinan yang diwariskan turun-temurun. Di banyak daerah, keterampilan menganyam pandan diwariskan secara turun-temurun, menunjukkan bahwa permintaan daun pandan tidak hanya ekonomi tetapi juga budaya .
Daun pandan juga tahan disimpan dan diolah. Dengan metode pengawetan yang tepat, daun pandan dapat bertahan hingga satu tahun . Kemampuan penyimpanan jangka panjang ini memungkinkan produsen untuk menjaga pasokan bahkan pada saat musim hujan atau saat permintaan melonjak, sehingga stabilitas pasokan dan permintaan tetap terjaga.
Kesimpulan
Permintaan daun pandan tetap stabil sepanjang tahun karena kombinasi dari karakteristik tanaman yang dapat dipanen setiap hari, pangsa pasar yang beragam (kuliner, kerajinan, dan industri), meningkatnya popularitas global, serta nilai budaya yang mengakar kuat di masyarakat. Meskipun harga dapat berfluktuasi pada momen-momen tertentu seperti hari besar keagamaan, secara keseluruhan daun pandan tetap menjadi komoditas yang terus dicari dan memiliki prospek yang cerah ke depan.
Memanfaatkan karakteristik tanaman yang terus berproduksi, menggali lebih dalam pangsa pasar yang beragam, serta menangkap peluang ekspor yang masih terbuka lebar akan menjadi kunci bagi para pelaku usaha untuk terus memanfaatkan stabilitas permintaan daun pandan di masa mendatang.




