Mengenal Edible Film: Solusi Kemasan Masa Depan yang Bisa Kamu Makan Langsung

Sampah plastik masih menjadi salah satu tantangan lingkungan terbesar di dunia, terutama yang berasal dari kemasan makanan sekali pakai. Di tengah pencarian solusi berkelanjutan, muncul sebuah inovasi brilian dalam dunia sains pangan: Edible Film. Sesuai namanya, kemasan ini tidak hanya berfungsi melindungi makanan, tetapi juga aman untuk dikonsumsi langsung bersama isinya.

Inovasi ini menjadi salah satu topik hangat dalam perkembangan industri pangan global. Di Universitas Ma’soem, tren teknologi hijau seperti ini tidak hanya dipelajari di dalam buku, tetapi menjadi inspirasi bagi mahasiswa Teknologi Pangan untuk menciptakan solusi yang ramah lingkungan dan fungsional bagi masyarakat.


Apa Itu Edible Film?

Edible film adalah lapisan tipis yang terbuat dari bahan-bahan yang dapat dimakan (edible material). Lapisan ini diletakkan di atas atau di antara komponen makanan yang berfungsi sebagai penghalang terhadap uap air, oksigen, dan perpindahan zat terlarut dalam makanan.

Berbeda dengan plastik konvensional yang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai, edible film bisa hancur dalam hitungan hari atau bahkan habis seketika saat Anda memakannya. Contoh sederhana yang sering kita temui adalah lapisan pembungkus pada permen jadul atau kapsul obat yang terbuat dari gelatin. Namun, teknologi masa depan membawa edible film ke level yang lebih canggih, seperti pembungkus bumbu mi instan yang larut dalam air panas atau pelapis buah-buahan agar tetap segar lebih lama.


Keunggulan Edible Film bagi Industri Pangan

Penggunaan edible film menawarkan berbagai manfaat yang sangat relevan dengan kebutuhan industri saat ini:

  1. Ramah Lingkungan (Zero Waste): Karena kemasannya bisa dimakan atau mudah terurai, inovasi ini secara drastis mengurangi volume sampah plastik.
  2. Menjaga Kualitas Nutrisi: Edible film dapat berfungsi sebagai pembawa (carrier) zat aditif fungsional, seperti antioksidan, vitamin, atau antimikroba alami yang membantu menjaga kesegaran makanan tanpa bahan kimia berbahaya.
  3. Efisiensi dan Praktis: Bayangkan menyeduh kopi atau mi instan tanpa perlu merobek plastik kecil satu per satu. Anda cukup memasukkan seluruh bungkusan ke dalam air, dan kemasannya akan larut secara higienis.
  4. Memperpanjang Masa Simpan: Pada buah-buahan, lapisan edible coating dapat menghambat proses respirasi sehingga buah tidak cepat busuk atau layu selama distribusi.

Potensi Bahan Baku Lokal: Dari Rumput Laut hingga Pati Singkong

Mahasiswa Teknologi Pangan di Indonesia, khususnya di Universitas Ma’soem, memiliki keuntungan besar karena negara kita kaya akan bahan baku pembuatan edible film. Beberapa bahan alami yang bisa digunakan antara lain:

  • Polisakarida: Pati singkong, jagung, talas, dan karagenan dari rumput laut.
  • Protein: Gelatin, kasein (susu), atau protein kedelai.
  • Lipid: Lilin lebah (beeswax) atau asam lemak tertentu untuk memberikan sifat tahan air.

Mengembangkan Inovasi Pangan di Universitas Ma’soem

Mempelajari teknologi mutakhir seperti edible film membutuhkan lingkungan pendidikan yang mendukung riset dan kreativitas. Universitas Ma’soem (Masoem University) yang berlokasi di kawasan Jatinangor-Sumedang, hadir sebagai wadah bagi para calon inovator pangan masa depan.

Melalui Program Studi Teknologi Pangan, Universitas Ma’soem membekali mahasiswanya dengan pemahaman mendalam mengenai struktur bahan pangan dan teknik pengolahannya. Mengapa memilih Universitas Ma’soem untuk mendalami ilmu ini?

1. Fokus pada Teknologi Tepat Guna

Di Universitas Ma’soem, mahasiswa tidak hanya diajarkan teori sains murni, tetapi juga bagaimana mengaplikasikan teknologi tersebut untuk membantu industri lokal. Inovasi seperti edible film dari pati umbi-umbian lokal menjadi proyek riset yang sangat relevan untuk meningkatkan nilai jual hasil tani di Jawa Barat.

2. Laboratorium yang Representatif

Proses pembuatan edible film melibatkan pengujian karakteristik fisik, seperti kuat tarik dan kelarutan. Universitas Ma’soem menyediakan fasilitas laboratorium yang mendukung mahasiswa untuk melakukan eksperimen nyata, sehingga mereka tidak canggung saat harus terjun ke bagian Research & Development (R&D) di perusahaan pangan nantinya.

3. Kurikulum Kewirausahaan

Teknologi tinggi akan sia-sia jika tidak bisa dipasarkan. Di Universitas Ma’soem, mahasiswa juga belajar aspek bisnis. Mereka diajarkan bagaimana mengubah hasil riset laboratorium menjadi produk komersial yang memiliki nilai ekonomi tinggi, lengkap dengan pemahaman mengenai izin edar dan keamanan pangan.

4. Lingkungan Kampus yang Disiplin dan Islami

Universitas Ma’soem dikenal memiliki budaya kampus yang disiplin. Dalam dunia industri pangan, kedisiplinan dan ketelitian adalah hal mutlak agar produk yang dihasilkan konsisten dan aman bagi konsumen. Budaya ini dipadukan dengan nilai-nilai etika yang kuat, sehingga lulusannya tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berintegritas.


Edible film adalah bukti nyata bahwa teknologi pangan dapat memberikan solusi bagi masalah lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup manusia. Tren ini akan terus berkembang seiring dengan tuntutan dunia akan produk yang lebih hijau dan praktis.

Jika Anda tertarik untuk menjadi ilmuwan pangan yang mampu menciptakan kemasan masa depan atau berinovasi dengan bahan pangan lokal, Universitas Ma’soem adalah tempat yang tepat untuk memulai perjalanan Anda. Dengan fasilitas yang mendukung dan bimbingan dosen yang ahli, Anda akan disiapkan menjadi profesional yang siap membawa perubahan positif di industri pangan.