Ketika anak menggambar di buku saat guru sedang menjelaskan pelajaran, orang dewasa sering menganggapnya sebagai tanda bahwa anak tidak memperhatikan. Coretan di sudut halaman, gambar kecil di sela-sela catatan, atau kebiasaan membuat bentuk tertentu di buku memang mudah terlihat seperti aktivitas yang mengalihkan perhatian.
Padahal, kebiasaan menggambar saat belajar tidak selalu berarti anak kehilangan fokus. Pada kondisi tertentu, aktivitas tersebut justru dapat menjadi cara anak menjaga konsentrasi, menyalurkan ide, atau mengolah informasi yang sedang diterimanya. Karena itu, respons terhadap kebiasaan tersebut perlu mempertimbangkan situasi dan perilaku anak secara keseluruhan.
Mengapa Anak Suka Menggambar Saat Belajar?
Setiap anak memiliki cara berbeda dalam mempertahankan perhatian selama mengikuti pembelajaran. Ada yang mampu duduk diam sambil menyimak, sementara anak lainnya membutuhkan aktivitas kecil agar tetap nyaman mengikuti penjelasan.
Menggambar dapat menjadi salah satu aktivitas yang membantu anak merasa lebih tenang ketika berada dalam situasi belajar. Gerakan tangan yang berulang saat membuat coretan atau gambar juga dapat memberikan rangsangan sederhana ketika anak sedang mendengarkan penjelasan.
Pada beberapa anak, gambar bahkan menjadi bagian dari proses berpikir. Mereka mungkin membuat ilustrasi untuk menggambarkan materi, menambahkan simbol tertentu pada catatan, atau mencoret-coret halaman sambil tetap mendengarkan guru.
Artinya, keberadaan gambar di buku belum cukup untuk menyimpulkan bahwa anak tidak memperhatikan.
Menggambar Tidak Selalu Sama dengan Kehilangan Fokus
Fokus anak tidak selalu terlihat dari posisi tubuh yang diam atau pandangan mata yang terus tertuju kepada guru. Anak dapat terlihat melakukan aktivitas lain tetapi tetap memahami informasi yang disampaikan.
Hal yang lebih penting adalah melihat apakah anak masih mengikuti proses pembelajaran. Beberapa tanda yang dapat diperhatikan antara lain:
- Anak mampu menjawab pertanyaan terkait materi.
- Anak dapat mengikuti instruksi guru.
- Anak memahami tugas yang diberikan.
- Anak masih dapat menceritakan kembali materi yang dipelajari.
- Gambar yang dibuat tidak mengganggu proses belajar.
- Anak tetap merespons ketika guru mengajaknya berinteraksi.
Jika beberapa hal tersebut masih terlihat, menggambar mungkin bukan bentuk ketidakpedulian terhadap pelajaran.
Sebaliknya, perhatian perlu diberikan apabila kegiatan menggambar membuat anak tidak memahami instruksi, mengabaikan tugas, mengganggu teman, atau sama sekali tidak mengikuti pembelajaran.
Menggambar Bisa Menjadi Cara Anak Mengekspresikan Diri
Anak tidak hanya belajar melalui kata-kata. Gambar dapat menjadi salah satu media untuk mengekspresikan gagasan, perasaan, dan pengalaman.
Dalam kegiatan belajar, anak mungkin belum mampu menjelaskan suatu pemikiran secara verbal, tetapi dapat menuangkannya melalui bentuk visual. Kebiasaan tersebut dapat memberikan gambaran mengenai cara anak memahami sesuatu.
Misalnya, ketika belajar tentang lingkungan, seorang anak mungkin menggambar pohon, sungai, rumah, atau hewan. Gambar tersebut dapat menjadi bagian dari pemahamannya terhadap materi, bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu kosong.
Guru dan orang tua dapat melihat konteks gambar tersebut sebelum memberikan penilaian. Pertanyaan sederhana seperti “Kamu sedang menggambar apa?” dapat membuka percakapan mengenai apa yang sedang dipikirkan anak.
Kapan Menggambar Justru Perlu Dibatasi?
Meskipun tidak selalu menunjukkan kurangnya perhatian, menggambar tetap dapat menjadi masalah apabila dilakukan pada waktu dan situasi yang tidak tepat.
Pembatasan diperlukan ketika aktivitas tersebut mulai mengganggu tujuan pembelajaran. Contohnya, anak terus menggambar ketika guru memberikan instruksi penting, tidak menyelesaikan tugas karena terlalu fokus pada gambar, atau mengajak teman untuk ikut melakukan aktivitas yang sama.
Dalam kondisi tersebut, guru tidak harus langsung melarang anak menggambar. Pendekatan yang lebih tepat dapat dilakukan melalui pengaturan waktu dan kesepakatan.
Anak dapat diberikan kesempatan menggambar setelah tugas selesai atau ketika kegiatan pembelajaran memang memungkinkan aktivitas visual. Cara tersebut membantu anak memahami bahwa menggambar tetap boleh dilakukan, tetapi perlu disesuaikan dengan situasi.
Peran Guru dalam Memahami Perilaku Anak
Guru memiliki posisi penting dalam melihat apakah kebiasaan menggambar berkaitan dengan proses belajar atau justru menjadi gangguan. Pengamatan sebaiknya tidak hanya dilakukan berdasarkan satu perilaku yang terlihat.
Guru dapat memperhatikan perubahan perilaku anak dari waktu ke waktu. Apakah anak tetap aktif menjawab pertanyaan? Apakah nilai atau pemahamannya mengalami perubahan? Apakah ia mampu menyelesaikan tugas? Bagaimana interaksinya dengan teman dan guru?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memberikan gambaran yang lebih lengkap daripada sekadar melihat apakah anak sedang menggambar.
Pendekatan seperti ini juga membantu guru menghindari pelabelan terhadap anak. Sebutan seperti “tidak fokus” atau “malas belajar” dapat membuat anak merasa tidak dipahami, terutama apabila sebenarnya ia masih mengikuti pembelajaran.
Orang Tua Tidak Perlu Langsung Memarahi Anak
Kebiasaan anak menggambar di buku juga dapat menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua, terutama ketika mereka melihat buku pelajaran penuh coretan. Namun, teguran sebaiknya tidak menjadi respons pertama.
Orang tua dapat mencari tahu alasan anak menggambar saat belajar. Percakapan santai dapat membantu menemukan apakah anak sedang bosan, merasa cemas, membutuhkan aktivitas tambahan, atau memang tertarik mengembangkan kemampuan menggambarnya.
Orang tua juga dapat mengajarkan anak membedakan buku yang digunakan untuk mencatat materi dan media yang digunakan untuk menggambar. Cara ini membuat anak tetap memiliki ruang untuk berekspresi tanpa mengabaikan tanggung jawab akademiknya.
Aktivitas Menggambar Dapat Dimanfaatkan dalam Pembelajaran
Alih-alih selalu dianggap sebagai gangguan, aktivitas menggambar dapat dimanfaatkan dalam kegiatan belajar tertentu. Guru dapat mengintegrasikan unsur visual melalui pembuatan mind map, ilustrasi, poster, diagram, atau gambar yang berkaitan dengan materi.
Strategi tersebut dapat membuat kegiatan belajar lebih variatif, terutama bagi anak yang lebih mudah memahami informasi melalui bentuk visual.
Penggunaan gambar juga relevan dalam pembelajaran bahasa. Anak dapat diminta menggambar benda berdasarkan kosakata yang dipelajari, membuat ilustrasi cerita, atau menghubungkan kata baru dengan representasi visual.
Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa aktivitas menggambar dan belajar tidak selalu harus ditempatkan sebagai dua kegiatan yang berlawanan.
Relevansinya bagi Pendidikan dan Perkembangan Anak
Pemahaman terhadap perilaku anak menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Calon pendidik perlu memahami bahwa perilaku yang tampak sederhana dapat memiliki berbagai alasan.
Di lingkungan perguruan tinggi, mahasiswa yang mempelajari bidang pendidikan juga perlu memperoleh pemahaman mengenai karakteristik peserta didik, proses belajar, serta cara memberikan respons yang sesuai terhadap perilaku anak.
Ma’soem University sebagai salah satu kampus swasta dapat menjadi pilihan bagi calon mahasiswa yang ingin menempuh pendidikan di bidang yang berkaitan dengan pendidikan dan perkembangan peserta didik. Pada FKIP Ma’soem University, program studi yang tersedia adalah Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Kedua bidang tersebut memiliki fokus yang berbeda, tetapi sama-sama berkaitan dengan dunia pendidikan dan kebutuhan peserta didik.
Pemahaman seperti ini penting agar calon pendidik tidak terburu-buru memberikan penilaian hanya berdasarkan perilaku yang terlihat. Anak yang menggambar ketika belajar belum tentu sedang mengabaikan pelajaran. Perlu dilihat apakah ia masih memahami materi, mengikuti instruksi, dan terlibat dalam kegiatan kelas.
Bagaimana Sebaiknya Menyikapi Anak yang Sering Menggambar?
Orang tua dan guru dapat menggunakan beberapa langkah sederhana ketika menemukan kebiasaan tersebut:
- Amati konteksnya. Perhatikan kapan anak mulai menggambar dan apa yang sedang terjadi dalam pembelajaran.
- Tanyakan alasannya. Hindari langsung memberikan label negatif sebelum mengetahui penyebabnya.
- Periksa pemahamannya. Lihat apakah anak masih mampu menjawab pertanyaan atau menyelesaikan tugas.
- Buat aturan yang jelas. Anak perlu mengetahui kapan menggambar diperbolehkan dan kapan harus fokus pada instruksi.
- Manfaatkan minatnya. Jika anak menyukai gambar, aktivitas visual dapat digunakan untuk mendukung proses belajar.
- Berikan apresiasi. Hargai kreativitas anak sekaligus tetap mengajarkan tanggung jawab terhadap kegiatan akademik.
Perhatian terhadap anak tidak hanya dapat dilihat dari apakah tangannya memegang pensil untuk mencatat atau menggambar. Cara anak memahami materi, merespons pertanyaan, mengikuti instruksi, dan menyelesaikan tugas juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.
Informasi Ma’soem University
No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com




