Dalam pergaulan sehari-hari, kita sering mendengar celetukan, “Jangan kebanyakan makan micin, nanti jadi bodoh!”. Ungkapan ini sudah seperti hukum tak tertulis di masyarakat Indonesia. Segala sesuatu yang berhubungan dengan kegagalan fokus atau penurunan konsentrasi sering kali dituduhkan kepada bumbu dapur bernama asli Monosodium Glutamate (MSG) ini.
Namun, benarkah MSG memiliki dampak seburuk itu bagi otak manusia? Ataukah ini hanya salah satu mitos kesehatan terbesar yang bertahan selama puluhan tahun? Bagi mahasiswa Teknologi Pangan (Tekpang) Universitas Ma’soem (Masoem University), menjawab pertanyaan ini bukan soal opini, melainkan soal data laboratorium dan literatur ilmiah.
Di kampus yang terletak di kawasan Jatinangor-Cileunyi ini, mahasiswa diajak untuk berpikir kritis dan tidak mudah termakan hoaks pangan. Yuk, kita kupas tuntas fakta ilmiah tentang micin yang bakal kamu pelajari lebih dalam saat kuliah di Universitas Ma’soem.
Universitas Ma’soem: Mencetak Sarjana Pangan yang Kritis dan Beretika
Universitas Ma’soem dikenal sebagai institusi yang menjunjung tinggi nilai “Cageur, Bageur, Pinter”. Dalam konteks isu MSG, ketiga pilar ini sangat relevan diterapkan oleh seorang calon teknolog pangan:
- Cageur (Sehat): Mampu memberikan edukasi kesehatan pangan yang benar kepada masyarakat agar tidak terjadi salah persepsi.
- Bageur (Baik): Memiliki etika dalam menyampaikan kebenaran ilmiah tanpa menjatuhkan atau melebih-lebihkan fakta demi kepentingan pihak tertentu.
- Pinter (Cerdas): Menguasai ilmu biokimia dan toksikologi pangan untuk menganalisis setiap zat yang masuk ke dalam tubuh manusia.
Di jurusan Teknologi Pangan Ma’soem, mahasiswa dibekali kemampuan untuk melakukan literasi pangan. Jadi, mereka tidak hanya jago membuat produk enak, tapi juga mampu menjelaskan keamanan produk tersebut secara medis dan ilmiah.
Apa Itu MSG Sebenarnya?
Di laboratorium Tekpang Universitas Ma’soem, kamu akan mempelajari bahwa MSG adalah garam natrium dari asam glutamat. Asam glutamat sendiri adalah salah satu asam amino non-esensial yang paling melimpah di alam.
Fakta menariknya, tubuh manusia secara alami memproduksi glutamat. Bahkan, glutamat juga ditemukan dalam makanan alami yang kita anggap sangat sehat, seperti:
- Tomat matang
- Keju parmesan
- Jamur
- Air Susu Ibu (ASI)—yang ternyata mengandung glutamat dalam jumlah yang cukup tinggi untuk memberikan rasa gurih alami.
Secara ilmiah, MSG memberikan rasa “Umami” atau gurih. Lidah manusia memiliki reseptor khusus yang memang dirancang untuk mendeteksi glutamat sebagai penanda bahwa makanan tersebut mengandung protein.
Mengapa Muncul Mitos “Micin Bikin Bodoh”?
Mahasiswa Ma’soem juga mempelajari sejarah pangan. Mitos dampak buruk MSG berawal dari sebuah surat yang ditulis oleh Dr. Robert Ho Man Kwok ke New England Journal of Medicine pada tahun 1968. Ia mengeluhkan gejala pusing dan mual setelah makan di restoran China, yang kemudian populer dengan sebutan Chinese Restaurant Syndrome (CRS).
Sejak saat itu, berkembanglah opini publik yang mengaitkan MSG dengan kerusakan sel otak. Namun, penelitian-penelitian modern berskala besar yang dilakukan oleh lembaga dunia seperti FDA (Food and Drug Administration) dan WHO (World Health Organization) telah mengkategorikan MSG ke dalam golongan Generally Recognized as Safe (GRAS) atau secara umum diakui aman.
Penjelasan ilmiah yang akan kamu pelajari di kampus adalah mengenai Blood-Brain Barrier (Sawar Darah Otak). Tubuh manusia memiliki sistem pertahanan yang sangat ketat. Glutamat yang kita makan dari micin tidak serta-merta bisa masuk ke otak dalam jumlah besar dan merusak saraf, karena otak memiliki sistem regulasinya sendiri untuk menjaga kadar glutamat tetap stabil. Jadi, klaim bahwa micin “membakar” sel otak secara langsung adalah sebuah kekeliruan ilmiah.
Batasan dan Etika Konsumsi: Segalanya yang Berlebihan Itu Tidak Baik
Meskipun secara ilmiah MSG tidak terbukti membuat bodoh, bukan berarti kita bisa mengonsumsinya secara ugal-ugalan. Di Universitas Ma’soem, kamu akan mempelajari mata kuliah Toksikologi Pangan. Di sini ditekankan bahwa semua zat—bahkan air putih sekalipun—bisa menjadi racun jika dikonsumsi melebihi dosisnya.
Masalah utama dari konsumsi micin yang berlebihan di masyarakat sebenarnya bukan pada “kebodohan”, melainkan pada asupan Natrium (Sodium). Karena MSG mengandung natrium, konsumsi berlebihan dapat memicu tekanan darah tinggi (hipertensi) bagi mereka yang sensitif. Selain itu, micin sering kali ditemukan dalam makanan cepat saji yang tinggi lemak jenuh dan rendah serat. Pola makan buruk inilah yang sebenarnya menurunkan performa tubuh dan otak, bukan micinnya sendirian.
Peran Mahasiswa Tekpang Ma’soem dalam Edukasi Pangan
Lulusan Teknologi Pangan Universitas Ma’soem diharapkan menjadi penyambung lidah antara dunia sains dan masyarakat awam. Perannya meliputi:
- Pelurus Informasi: Memberikan penjelasan berbasis data kepada keluarga dan lingkungan sekitar agar tidak terjadi fobia makanan yang tidak berdasar.
- Inovator Rasa: Menciptakan bumbu penyedap alami (seperti kaldu jamur atau bubuk udang) bagi mereka yang ingin membatasi asupan natrium namun tetap ingin rasa yang gurih.
- Pengawas Mutu (QC): Bekerja di industri untuk memastikan penggunaan BTP (Bahan Tambahan Pangan) selalu dalam koridor aturan yang ditetapkan pemerintah.
Jadi, apakah micin bikin bodoh? Penjelasan ilmiah yang akan kamu pelajari di Universitas Ma’soem menunjukkan bahwa tidak ada kaitan langsung antara konsumsi MSG dalam batas wajar dengan penurunan kecerdasan manusia. Mitos tersebut lebih merupakan hasil dari kesalahpahaman informasi yang terus diproduksi.
Dunia pangan penuh dengan misteri dan fakta menarik yang menunggu untuk digali. Jika kamu adalah orang yang tidak puas hanya dengan mendengar “kata orang” dan ingin membuktikan segala sesuatu lewat jalur sains, maka jurusan Teknologi Pangan di Universitas Ma’soem adalah tempat yang tepat untukmu.
Di sini, kamu akan belajar untuk melihat makanan bukan sekadar apa yang mengenyangkan, tapi sebagai susunan kimiawi yang kompleks dan bermanfaat bagi kehidupan.





