
Penulis : Azpan Fauzi
Pendidikan Pancasila di era digitalisasi menjadi semakin penting karena perkembangan
teknologi yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, terutama
dalam cara berpikir, berinteraksi, dan memperoleh informasi. Saat ini, generasi muda hidup di
tengah kemudahan akses internet, media sosial, dan berbagai platform digital yang memungkinkan
mereka mendapatkan informasi dalam hitungan detik. Namun, kemudahan tersebut tidak selalu
berdampak positif, karena banyak informasi yang beredar tidak dapat dipastikan kebenarannya dan
bahkan bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Hoaks, ujaran kebencian, radikalisme, serta
budaya luar yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa dapat dengan mudah masuk dan
memengaruhi pola pikir generasi muda. Jika tidak memiliki pemahaman yang kuat tentang Pancasila, mereka bisa kehilangan arah dan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Selain itu,
penggunaan teknologi yang berlebihan juga dapat menyebabkan berkurangnya interaksi sosial
secara langsung, sehingga menumbuhkan sikap individualisme, kurangnya empati, dan
melemahnya semangat gotong royong. Padahal, nilai-nilai seperti kemanusiaan, persatuan, dan
keadilan sosial merupakan inti dari Pancasila yang harus tetap dijaga. Oleh karena itu, pendidikan
Pancasila tidak boleh hanya sebatas materi hafalan di sekolah, tetapi harus mampu membentuk
karakter, moral, dan pola pikir kritis peserta didik. Mereka perlu diajarkan bagaimana cara
menyaring informasi, membedakan mana yang benar dan salah, serta bagaimana bersikap bijak
dalam menggunakan teknologi agar tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif. Dengan begitu,
pendidikan Pancasila dapat menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan di
era digital.
Di sisi lain, era digitalisasi juga memberikan peluang besar untuk mengembangkan
pendidikan Pancasila agar lebih efektif, menarik, dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran yang inovatif, seperti melalui video
pembelajaran, animasi, media sosial, podcast, hingga platform e-learning yang memungkinkan
proses belajar menjadi lebih interaktif dan tidak membosankan. Dengan pendekatan yang kreatif,
nilai-nilai Pancasila dapat disampaikan melalui contoh-contoh nyata yang dekat dengan kehidupan
sehari-hari, sehingga lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh generasi muda. Peran guru dalam
hal ini sangat penting, tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai pembimbing
yang mampu mengarahkan siswa dalam memanfaatkan teknologi secara positif. Guru harus
mampu menciptakan metode pembelajaran yang relevan, seperti diskusi daring, studi kasus, atau
proyek berbasis digital yang melibatkan siswa secara aktif. Selain itu, peran keluarga juga sangat
dibutuhkan dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila sejak dini, terutama dalam mengawasi
penggunaan teknologi di rumah dan memberikan contoh perilaku yang baik. Pemerintah pun
memiliki tanggung jawab untuk mendukung melalui kebijakan pendidikan yang adaptif serta
meningkatkan literasi digital masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang
menyesatkan. Dengan adanya kerja sama yang baik antara sekolah, keluarga, dan pemerintah,
pendidikan Pancasila dapat terus berkembang dan tetap relevan di tengah arus globalisasi dan
digitalisasi. Pada akhirnya, pendidikan Pancasila di era digital tidak hanya bertujuan untuk
menciptakan generasi yang cerdas secara akademik dan teknologi, tetapi juga generasi yang
memiliki karakter kuat, berakhlak baik, mampu berpikir kritis, serta tetap menjunjung tinggi nilai-
nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari sebagai landasan dalam membangun bangsa yang
lebih baik di masa depan.




